SYSTEM DEWA

SYSTEM DEWA
Chapter 27.1 Duel! Part 2


__ADS_3

Uno menyeringai.


"Cih! Bagaimana mungkin!" Grey mengerutkan dahinya.


"Dasar bodoh! Kamu ini cuma berotak otot saja ya? Dengan ini, sudah berakhir!" Ucap Uno sambil menyarungkan pedangnya.


"Ha?! Apa maksudmu? Pertandingan masih belum bera-..."


"UUGH!!"


Belum selesai Grey mengatakannya, dirinya tiba-tiba muntah darah sangat banyak hingga membasahi bajunya.


Apa yang terjadi sebenarnya?


"Si-sia-lan!"


Brukk!!


Grey pun tumbang dengan berbagai luka sayatan dan tusukan yang cukup parah.


"O-oi... Bukankah ini berlebihan untuk sebuah latihan." Ujar yang lainnya.


"Pertandingan berakhir! Pemangnya, Uno!!" Seru Gildart mengangkat tangan Uno.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Ciela-san, analisa apa yang terjadi barusan! Ada yang aneh dengan gerakan bocah itu!"


[Analisa selesai! Saat serangan terakhir tadi, siswa yang bernama Uno memanfaatkan akselarasi untuk bergerak secepat kilat. Sedangkan untuk Grey, tampaknya dia tidak menyadari bahwa Uno sudah menyerangnya berkali-kali selama kurun waktu 01,89 detik. Ini adalah serangan yang dipusatkan pada pedang dan akselarasi kecepatannya hingga batas normal. Serangan ini bernama, «One hit, one kill»]


Author note: Bjir, jadi kayak ml aja nih:v


"Ternyata seperti itu... Bocah itu benar-benar hebat! Menguasai kemampuan berpedang hingga tingkat seperti ini di usia semuda itu. Dia sangat berbakat! Masa depannya pasti cerah."


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Setelah pertandingan kedua selesai dengan Uno sebagai pemenangnya, latihan terus berlanjut hingga siang. Berbagai murid dengan kemampuan unik masing-masing juga sudah menunjukkan performa terbaik mereka. Sampai akhirnya giliran Kiryuu melawan seorang murid perempuan yang terlihat pemalu namun misterius tiba.


"Beri hormat!!"


Membungkukkan badan....


"Yo, senang bertemu denganmu..." Ucap Kiryuu menyapanya.


"Se-senang bertemu denganmu juga! Mohon bantuannya..." Katanya sambil membungkuk hormat dengan ekspresi yang gugup.


"Siap ya, aku tak akan berbelas kasih pada lawanku lo, berhati-hatilah agar tidak terkena oleh seranganku. Mulai saja darimu dulu... Aku akan memberimu 3 kesempatan untuk menyerangku dengan kemampuan terbaikmu!" Ucap Kiryuu dengan santainya.


"Mulai!!" Seru Gildart.


"HEYAA...!! Wind storm!!" Serunya.


Sebuah pusaran angin kencang mulai berkumpul disatu tempat hingga membentuk badai buatan yang sanggup menerbangkan rumah-rumah atau pohon-pohon. Badai ini sama sekali tak ada bedanya dengan angin topan yang berada di bumi. Setelah badai buatannya sempurna, dia melemparkannya ke arah Kiryuu.


SIUU... JWUUSSHH!!!


"Bagus! Kamu benar-benar sangat menarik! Datanglah padaku!" Ucap Kiryuu merentangkan kedua tangannya seperti sudah siap menerimanya.

__ADS_1


BLEDUMM!! WUNG, WUNG... SIUU!!!


Angin topan itu memporak-porandakan seisi arena. Beton-beton yang menjadi pijakan rusak hingga berlubang-lubang.


"Gaah!! Orang itu pasti mati dengan serangan yang sekuat itu! Itulah akibatnya jika terlalu membanggakan dirimu!"


"Ya ya! Rasakan itu! Hahahaha!"


Murid-murid lain yang menonton tertawa gembira dan mengira bahwa Kiryuu sudah kalah. Namun, semua perkiraan mereka adalah sebuah kesalahan yang sangat besar. Untungnya, ini adalah akademi, jika itu diluar wilayahnya, maka bersiaplah untuk dibantai habis-habisan tanpa ampun bagi siapapun yang berani memprovokasi Kiryuu.


"Huft, huft, huft... Apa sudah berakhir?" Pikir si gadis.


"Tidak! Belum... Ada yang tidak beres... Mengapa aku masih bisa merasakan tekanan yang kuat seperti ini? Bahkan tekanannya sama sekali tidak berubah sejak tadi... Apakah..."


"Benar sekali!" Seseorang menjawab.


"Ti-tidak mungkin! Mu-mustahil!" Gadis itu terkejut dan mengerutkan dahinya.


Dia sangat kesal dengan apa yang baru saja dilihatnya. Dia mengira bahwa kemenangan ada di tangannya. Ditambah lagi, Kiryuu sama sekali tidak terluka ataupun lecet seakan-akan serangannya bukanlah apa-apa, itulah yang membuatnya semakin geram.


"Apa kamu sudah menyerah? Masih ada 2 kesempatan tersisa lo..." Ucapnya dengan ekspresi wajah meremehkan.


"Ini mustahil! Dia masih baik-baik saja setelah terkena serangan seperti itu?"


Murid-murid lainnya seketika tertegun. Mereka semua tidak menyangka bahwa tebakan yang mereka prediksi salah kaprah.


"Grrr! Jangan meremehkanku! Aku masih ada jurus lain! Terima ini! Lightning bolt!!"


Si gadis terbang ke atas arena lalu mengucapkan mantra sihirnya dan kemudian sebuah awan hitam buatan muncul diatasnya. Tampaknya, dia akan segera mengakhiri pertarungannya dengan satu serangan terakhir.


"Apa itu?! Mengerikan! Bocah itu pasti mati!" Ujar para penonton.


"KEREN... Ciela-san... Bisa kau curi kemampuan itu?"


[Jawab! Dengan skill steel, tak ada masalah!]


"Bagus! Curi itu!"


Ciela-san pun mulai menganalisa kemampuan yang gadis itu miliki disaat dia sedang sibuk mengumpulkan kekuatannya.


[Skill baru didapatkan! Thunder bolt: Kategori, sampah! Terlalu lemah... Anda ingin tetap menyimpannya? YES/NO]


"MINTA MAAFLAH PADA GADIS ITU!!"


"Yare-yare... Bisa tidak, berhenti meremehkan skill milik orang lain? Itu membuatku merasa sangat tidak enak! Aku muak dengan skill yang terlalu overpower karena tidak banyak yang bisa kugunakan. Oleh karena itu, aku membutuhkan kemampuan yang rata-rata saja untuk mengecoh musuh-musuhku di waktu yang akan datang. Cepat! Simpan itu!"


[Menyimpan.... Selesai!]


"Bagus!"


Sementara Kiryuu sibuk dengan pasangannya (Ciela), Gadis itu sudah selesai dengan persiapannya dan segera menyerang.


Pusaran petir itu berubah menjadi seperti seekor naga biru terang dan mengaum dengan kencang. Suara aumannya membuat telinga para murid lainnya terasa seperti mau pecah bahkan setelah diberi barrier pelindung gelombang suaranya masih dapat menembus pertahanannya.


"Rasakan serangan terakhirku ini... HEYAAAA!!"


Gadis itu melemparkan naga petirnya ke arah Kiryuu dengan sangat cepat.

__ADS_1


ROOAARR!!!


Naga itu mengaum dan kemudian bentrokan terjadi antara tubuh dewa Kiryuu melawan naga petir kelas rendah. Gelombang kejut yang dihasilkan naga itu menghasilkan daya listrik statis dan mulai menarik benda-benda disekitarnya. Meski arenanya kosong dan hanya ada lapangan beton yang luas, tetapi itu sudah hancur karena angin topan yang dilancarkan sebelumnya. Akibatnya, puing-puingnya mulai beterbangan kemana-mana lalu berkumpul di satu titik yaitu Kiryuu.


Puing-puing beton yang terhisap menyatu dan membentuk sebuah bola yang sangat padat sehingga menutupi seluruh tubuh Kiryuu. Dengan adanya petir yang saling melengkapi, bola padat yang dibuat khusus untuknya diserang dari dalam maupun dari luar.


Seperti yang diharapkan dari murid kelas F yang diturunkan karena tidak mampu mengendalikan kekuatannya, gadis ini memiliki potensi yang tak terbatas.


Dari dalam, beton-beton saling bertubrukan seperti beras yang ditumbuk hingga hancur lebur.


Sedangkan dari luar, naga petir itu mulai berubah wujud menjadi ratusan pedang petir kemudian menyerbu bola beton itu hingga permukaannya penuh dengan tusukan pedang.


Untuk beberapa waktu, sama sekali tidak ada reaksi apapun dari bola itu. Si gadis dan para penonton lainnya mengira bahwa Kiryuu sudah kalah mengingat sunyinya keadaan.


"Huft, huft, huft... Aku... Aku berhasil! Ugh! Aku terlalu banyak menggunakan manaku. Aku sudah kehabisan mana sekarang. Tapi itu bukanlah masalah! Aku menang!" Katanya tersenyum bangga.


Seorang gadis yang awalnya terlihat culun ternyata menyembunyikan sifat aslinya. Dengan kesombongannya itu, akan dihancurkan seketika oleh Kiryuu dengan mudahnya.


Tiba-tiba, sebuah cahaya terang keluar dari dalam bola iti...


DUARR!!


Batu beton itu meledak dan Kiryuu pun terbebas.


"AAAH!!! TIDAK MUNGKIN!!" Si gadis sangat terkejut dengan apa yang dilihatnya.


Kiryuu sama sekali tidak tergores sedikitpun dan seketika si gadis mulai putus asa. Kiryuu berjalan menuju ke si gadis dan berkata...


"Sempurna! Aku sudah memberimu 3 kesempatan dan dengan ini, giliranku. Karena kamu memilki esensi sihir ganda diantara yang lainnya, maka aku akan memberimu hadiah kecil yang akan selamanya kamu ingat!" Ucap Kiryuu menatap tajam si gadis.


"HIII.... Ja-jangan mendekat!!"


Piu, piu piu piu piu!!


Gadis itu menggunakan sisa tenaganya dan menyerang Kiryuu dengan angin dan petir yang sangat kecil dan lemah.


"Tidak ada gunanya... Menyerahlah! Aku memberimu 3 pilihan, menjadi bawahanku, menjadi budakku, atau ingin tetap menjadi seorang pecundang? Pilih itu..." Ucap Kiryui menatap tajam si gadis sangat dekat sambil memegangi dagunya.


"Baj*ngan! Tidak tau malu! Tidak sudi aku memilihnya! Lebih baik, bunuh saja aku!" Katanya dengan menunjukkan ekspresi jijik.


"Sesuai keinginanmu, kalau begitu, matilah..." Ucap Kiryuu tersenyum sinis.


"Tu-tungg-... "


Ctuk!


SPLATT!!!


Dengan satu sentilan di dahinya, tubuh si gadis itu hancur tanpa bersisa anggota badannya dan hanya tersisa darahnya saja.


Seluruh murid yang melihatnya langsung merinding ketakutan dengan apa yang baru saja terjadi.


Bagaimanakah kelanjutannya?


To Be Continued~


Oi lurr... Tolong kalau kalian nemu typo, plot hole, kesalahan tanda baca, atau yang lainnya bilang ya. Ntar biar author revisi ampe bener! BTW, minta votenya boleh dong 😅 author kan misquen sangad:v

__ADS_1


__ADS_2