
Setelah puas bermain-main dengan para kroco, Arseno memutuskan untuk kembali bersama pasukan yang lainnya.
Tapi, tiba-tiba...
PIUUU... JEBUUNG!!
Sesuatu yang besar nan panas terbang di samping Arseno, sepertinya, ada seseorang yang dengan sengaja melakukannya.
Dan saat benda itu mengenai permukaan tanah, itu meledak hingga membuat sebuah gemuruh ledakan yang dahsyat kemudian membentuk kawah yang berdiameter cukup luas. Dan pada saat itu juga, salah satu prajurit monster, dragonewt yang terkena serangan tersebut terluka hingga tak sadarkan diri.
Siapa yang mengira bahwa serangan itu akan mampu melukai ras dragonewt yang memiliki ketahanan dan sihir yang tinggi, bisa terluka parah seperti itu.
Bersamaan dengan hal itu, Arseno yang melihat salah satu temannya terluka seketika kebencian telah melahap pikirannya.
Dan dia pun berbalik lalu tersenyum kemudian memiringkan kepalanya dan bertanya...
"Hei, siapa yang melakukannya?"
Ketika dia berbalik, dia melihat ada tiga orang yang berjubah hitam misterius muncul dihadapannya dengan jarak 10 meter.
"Hahaha!! Rasakan itu kau jal*ng!! Itulah akibatnya jika berani menentang pasukan kami!" Ucap salah satu dari mereka.
Tampaknya, orang-orang misterius itu adalah para tetua penyihir agung yang datang memenuhi panggilan dari mayor jendral Durandal.
Dan dia ternyata berhasil mengulur-ulur waktu sampai mereka datang.
"Jadi itu kalian?"
Arseno bertanya dengan tatapan yang penuh aura membunuh.
"He, nona kecil, apa kau marah? Hahaha!" (Tetua misterius 1).
"Hei hei hei... Apa kau tidak tau siapa kami?! Beraninya kau menunjukkan rasa tidak sopan santunmu pada kami tetua yang agung!" (Tetua misterius 2).
"Karena telah berani tak sopan pada kami, bersiaplah untuk menerima hukuman surga dari kami!!" (Tetua misterius 3).
Arseno yang sejak tadi diam sama sekali tidak menggubris ketiga orang yang ada dihadapannya.
Saat ini, pikiranya hanya dipenuhi rasa amarah dan kebencian yang mendalam.
Mengingat tuannya berpesan agar jangan sampai ada yang terluka atau mati, rasa takut itu juga sekaligus membayang-bayangi hati dan pikirannya.
Dalam pikirannya itu, dia telah menganggap misinya itu telah gagal.
Bahkan, atasannya juga berpesan agar para pasukan yang telah menyelesaikan misinya segera dibawa pulang dan jangan sampai ada yang kenapa-napa, rasa bingung dan bimbang karena tidak mampu memenuhi keinginan atasannya juga telah menelan akal sehatnya.
Saat ini, hanya ada keinginan besar membunuh ketiga orang yang berada di hadapannya.
"Kalian... Beraninya kalian... Gaaah!! Beraninya kalian manusia rendahan menjijikkan melakukan hal seperti itu!! Aku akan membunuh kalian semua, merobek-robek tubuh kalian, dan memakan jiwa kalian!!"
Arseno mulai menggila dan kehilangan kendali atas emosinya.
"Apa dia sudah gila?! Apa-apaan hawa membunuh yang ada di sekitarnya?!" (Tetua misterius 1).
"Jangan takut! Dia hanyalah iblis rendahan yang terkutuk! Serang dia dengan kekuatan penuh kita secara bersamaan!!" (Tetua misterius 2).
"Benar!! Dia cuma iblis jelek yang jahat!! Ayo serang dia!!" (Tetua misterius 3).
Setelah itu,
Ketiga penyihir itu mulai saling mendekatkan tongkat sihirnya lalu energi alam yang sangat banyak terus berkumpul dan berpusar di satu titik.
Itu membentuk sebuah bola sihir yang terus membesar dan membesar.
__ADS_1
"Grrr...!!"
Arseno masih terus mengamati mereka bertiga yang sedang bersiap menyerangnya dan menunggu waktu yang tepat untuk menyerang balas.
"Hahahaha!! Dengan ini, kau pasti mati dasar iblis busuk!!" Ledeknya tertawa gembira.
Energi yang terkumpul telah selesai. Sebuah bola raksasa berwarna biru cahaya terang telah terbentuk.
Mereka bertiga siap melepas serangan dan mengambil posisi kuda-kuda bertahan.
Gunanya adalah agar mereka mampu menahan gelombang dorongan dari sihir tersebut ketika dilancarkan.
Udara disekitarnya juga ikut berubah. Hawanya mulai menjadi panas.
Awan-awan diatasnya juga menjadi hitam gelap. Sepertinya, esensi sihir mereka juga telah mempengaruhi cuaca.
"Hyaah... Rasakan serangan terkuat kami!"
"Rampage!!"
JWUUSSHH!!
Sebuah laser berwarna biru terang yang dipadukan dengan cahaya meluncur dengan cepat menuju ke arah Arseno.
Gelombang kejut yang dihasilkan membersihkan awan-awan hitam itu hingga menjadi bersih.
Serangan setara nuklir, "Rampage", milik manusia, yang konon katanya bisa memusnahkan seekor naga hingga tulangnya sekalipun lenyap tak tersisa dan menjadi debu.
Bahkan, seorang raja iblis sekalipun akan terluka cukup parah jika terkena serangan ini secara langsung. Itu karena sifar dari sihir ini adalah korosif.
Dan cara kerjanya cukup mudah bagi para penyihir agung. Yaitu untuk menciptakannya, diperlukan tiga orang untuk menstabilkan sihirnya dengan sempurna sehingga sihirnya tidak melawan atau hilang kendali yang dapat berakibat fatal dengan ledakan yang dihasilkan.
Dengan satu orang lagi, maka arah pusarannya akan jauh lebih stabil.
Disitu diperlihatkan bahwa saat dimana Nar*to membuat rasengannya terlebih dahulu, kemudian dilanjutkan dengan penambahan chakra angin oleh bunshin yang satunya lagi, hasilnya adalah ketidak stabilan atau gangguan dari chakra itu sendiri dan akhirnya meledak.
Begitu pula dengan sihir nuklir milik mereka bertiga. Dengan tambahan seorang lagi, maka sihirnya akan lebih sempurna.
Dan saat ini, sihir itu meluncur dengan kecepatan yang sangat tinggi menuju ke arah Arseno.
SRING!!
Arseno mengangkat wajahnya dan mata iblisnya pun bersinar terang dan setelah itu,
JEDUARR!!
Sihir nuklir tipe laser itu meledak dan membentuk asap hitam legam tebal. Sisa-sisa dari esensinya melelehkan area di bawahnya hingga rusak dan berlubang-lubang.
Tapi,
"Gahahahaha!!"
Mereka bertiga tertawa gembira dan menyangka bahwa target mereka sudah mati.
Beberapa menit kemudian~
"Hm? Apa tadi kalian melakukan sesuatu padaku?"
Arseno bertanya dengan ekspresi wajah yang terlihat tidak puas akan hal itu.
"Ap-apa!? Mustahil!! Kau menahannya?!"
Tanya salah satu dari mereka yang amat terkejut dengan apa yang baru saja dilihatnya.
__ADS_1
"Menahannya? Mengapa aku harus repot-repot mengotori tanganku dengan sihir sampah yang kotor itu?" Jawab Arseno dengan santainya.
Sepertinya, sekarang dia sudah menahan emosinya. Jadi itulah kenapa dia sejak tadi diam?
Dia sedang menahan emosinya sejak awal?
"Karena kalian sudah berani membuatku marah, apa kalian siap menerima konsekuensinya?"
Tanya Arseno memiringkan wajahnya dan bertanya dengan senyum manisnya yang kejam seperti biasanya.
"Tidak mungkin!! Ini mustahil!! Bahkan naga sekalipun akan mati dibuatnya. Lalu kenapa kau?!"
"Fufufu... Sayang sekali. Aku bukanlah seekor naga. Apakah kalian berpikir bahwa aku akan mati hanya karena sihir mainanmu? Konyol sekali!" Ledeknya.
Penyihir agung yang mendengar apa yang dikatakannya tak terima dengan kenyataan.
"Geeh... Sialan!! Ini tidak mungkin!! Beraninya kau bocah tengik merusak sihir yang agung milik tuan?! Aku tidak terima ini!!"
Salah satu dari mereka menggila lalu mulai menyerang dengan membabi buta ke segala arah.
Pisau-pisau cahaya yang dibuatnya memotong berbagai benda disekitarnya.
"Hentikan!! Hoi! Hentik-..."
Saat si nomor 3 mencoba menenangkan si nomor 1, dia malah terpotong juga tubuhnya menjadi dua dan mati.
Si nomor 2 yang melihat si nomor 1 seperti itu tak punya pilihan lain selain membunuhnya.
Dengan sihir akselarasi, dia berhasil bergerak di belakang punggung si nomor 1 dan...
JLEEB!!
Tusukan pisau yang mengenai punggungnya tembus hingga keperut. Saat itu, tubuh dan kepalanya mengejang-ngejang seperti ikan yang keluar dari air yang tak bisa bernafas kemudian mati.
Begitulah yang terjadi pada si nomor 1. Dia mati terbunuh oleh rekannya sendiri.
Sementara itu, Arseno yang sejak tadi menonton sangat terhibur dengan pertunjukan yang mereka perlihatkan.
Plok! ×3
Arseno bertepuk tangan.
"Sugoi! Sugoi... Pertunjukan yang sangat menarik! Aku suka! Nilai 5 untukmu!" Ucap Arseno memberikan selamat sekaligus ejekan.
Si tetua penyihir agung yang terakhir menjadi geram di buatnya.
"Kau... Baj*ngan!! Beraninya kau melakukan hal keji seperti ini kepada bawahanku?!"
"Hee, bukan aku yang melakukannya. Bukankah mereka sendiri yang saling bunuh? Kenapa kau menyalahkanku?" Tanya Arseno heran.
"Kau iblis jahanam!! Matilah!!"
Penyihir itu melompat ke arah Arseno dan mengangkat tongkat sihirnya untuk bersiap menerjangnya dengan sihir yang tersisa miliknya.
Tapi,
SLASHH...
SPLURT!!
"Berisik sekali!"
Arseno memotong tubuh penyihir itu sekali serang dan darah segar terpancar darinya seperti air mancur.
__ADS_1
To Be Continued~