
Jadi, ini selesai begitu saja?
Hanya itu?
Yang benar saja!
"Aku menunggu lama untuk pertandingan kedua, tapi kenapa ini sangat membosankan!?"
Kukira ini akan sangat menarik... Tapi malah hasilnya mengecewakan!
Ini sama sekali tak layak untuk disebut pertarungan!
Ini jauh lebih buruk dibandingkan dengan pertandingan pertama.
"Huft...." Kiryuu meletakkan tangannya di dahinya dan mengeluh.
"Emm... Tuan muda, anda baik-baik saja?" Tanya Loren.
"Huh? A-aku baik-baik saja, jangan kawatirkan aku... Pertandingan sudah selesai, aku ingin pulang dulu." Ucap Kiryuu berdiri dari kursinya lalu berjalan menuju pintu keluar.
"Tu-tunggu Tuan muda!" Loren mencoba menghentikannya.
Kiryuu tak menghiraukan panggilan Loren dan pergi begitu saja.
"Ada apa dengan bocah itu sebenarnya? Loren-dono, kenapa anda begitu sopan dan menghormati bocah aneh itu? Apa telah terjadi sesuatu antara kalian berdua?" Tanya Regia yang masih penasaran dengan seluk beluk Kiryuu.
"Sst! Hati-hati dengan perkataan kalian! Sebaiknya, kalian jangan pernah meremehkan dia! Kalian belum tau kengerian dari orang itu saat dia benar-benar dalam perasaan yang buruk. Jadi, jangan pernah sekali-kali memprovokasinya atau kalian akan merasakan akibatnya." Kata Loren memperingatkan kepada 3 raja yang lainnya agar jangan mengusik Kiryuu.
"Ta-tapi... Mengapa kita harus tunduk kepada orang kampung yang tidak diketahui asal-usulnya?" Ardel ikut mengambil keputusan tidak setuju.
"Itu benar! Bukankah kita jauh lebih kuat dan berkuasa dari bocah sialan itu? Ouch hidungku!" Filon menyahut sambil masih memegangi hidungnya yang kesakitan akibat kejadian tadi.
"Jangan bodoh! Kekuasaan atau kekuatan kita tak akan berarti di matanya... Itu karena kalian belum melihat siapa dia sebenarnya dengan mata kepala kalian sendiri."
"Tahukah kalian, orang itu juga pemimpin suatu negara sama seperti kita yaitu kota monster ALMONHULLIS?" Ucap Loren membocorkan beberapa informasi tentang Kiryuu.
"Apa?! Dia ternyata seorang pemimpin dari kota baru yang terkenal akan dungeon dan fasilitasnya?!" Ardel menaikkan alisnya dan kedua matanya melebar mendengar apa yang teman lamanya katakan.
"Itu benar! Dia adalah seorang pemimpin dari kota baru itu. Selain seorang pemimpin, dia juga memiliki warga sipil yang semuanya memiliki kekuatan yang mengerikan. Seolah-olah ada ratusan raja iblis yang tinggal disana." Kata Loren menjelaskan lebih detail pada yang lainnya.
"Ti-tidak mungkin..... Lalu, bagaimana dengan kekuatan pemimpin itu sendiri?" Regia bertanya.
"Maafkan saya, Regia-dono... Untuk kekuatan orang itu, saya sama sekali tak bisa memperkirakannya. Dia terlalu mengerikan. Setidaknya, kekuatannya setara dengan demon lord Camelleon dari benua iblis itu." Jawab Loren membandingkan tingkat ability Kiryuu dengan si raja iblis no 1.
"Tidak mungkin!!" Mereka bertiga terkejut mendengarnya.
"Bagaimana mungkin bocah sialan itu bisa sebanding dengan Leon-sama?!" Filon masih tak percaya dengan apa yang Loren katakan.
"BERHENTILAH MENGATAKAN TIDAK MUNGKIN TERUS MENERUS BODOH!!"
"Terserah anda ingin mempercayainya atau tidak! Aku sama sekali tidak peduli. Sekarang, yang terpenting, menjalin hubungan yang baik dengannya memberikanku beberapa keuntungan. Mengapa kalian bertiga tidak mencoba bekerja sama dengannya?" Tanya Loren pada mereka bertiga.
__ADS_1
Dan, ketika Loren menanyai mereka hal itu, tampaknya mereka sulit memutuskan pilihannya.
"Hm? Tidak apa jika kalian tidak ingin. Aku tidak akan memaksa karena itu pilihan kalian." Ucap Loren.
Setelah saling berdiskusi selama beberapa saat, mereka pun menjawabnya.
.
.
.
"Emm... Loren-dono, kami sudah memutuskannya... Untuk sementara ini, kami bertiga akan mengawasinya terlebih dahulu... Setelah itu, barulah kami memikirkannya akan bergabung dengannya atau tidak." Ucap Regia.
"Benar! Lebih baik jika tidak terlalu terburu-buru... Lagipula, kita sudah menyinggungnya tadi. Akan buruk jika kita tiba-tiba mengajak bekerja sama, pastinya akan menimbulkan kesan yang buruk padanya." Ardel menimpali.
"Aku setuju dengannya!" Filon menyahut.
Nampaknya, mereka melakukan tindakan hati-hati. Mereka ternyata masih bersikap waspada terhadap Kiryuu mengingat apa yang dia lakukan kepada mereka berempat beberapa waktu lalu.
"Baiklah... Aku menghargai keputusan kalian. Pertemuan kita telah selesai hari ini. Dengan ini, perjamuan dibubarkan!" Ucap Loren mengumumkan bahwa perjamuannya sudah selesai.
"Ya, sampa jumpa besok!" Ucap Ardel berdiri dari duduknya kemudian berjalan ke pintu keluar lalu melambaikan tangannya.
"Aku juga harus pergi... Terima kasih untuk perjamuannya hari ini. Meskipun agak kacau sih, tapi ini bukanlah masalah. Sampai jumpa besok juga!" Ucap Regia lalu pergi mengikuti Ardel.
Sementara itu, Filon seperti biasa pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun.
"Huft... Syukurlah mereka semua sudah pergi... Ini benar-benar membuatku gugup menghadapi empat orang sekaligus ditambah lagi orang yang paling kutakuti dan dihormati."
"Aku masih bingung, mengapa tuan muda tiba-tiba pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun. Apa mungkin itu karena kami?"
"Tidak! Tuan muda bukanlah orang yang seperti itu. Dia juga bukan tipe orang yang akan mudah marah terhadap hal kecil. Kuharap tuan muda mau mengampuni mereka."
"Dan sekarang, hanya tinggal mereka saja yang terlalu meremehkan tuan muda. Mereka semua belum tahu bahwa, dialah satu-satunya orang yang menghabisi para pasukan pemberontak yang berjumlah ratusan ribu sendirian."
"Jika aku memberitahu mereka, ekspresi apa yang akan mereka perlihatkan?"
"Meski tuan muda melarangku agar tidak membocorkan informasi ini, aku masih tetap penasaran dengan reaksi mereka."
Loren terus bergumam dan tak henti-hentinya memikirkan banyak hal.
"Lupakan saja! Sebaiknya aku pulang saja, ini sudah larut!"
Loren pun meninggalkan ruangan perjamuan lalu pergi dan kembali ke istana.
Sementara itu,
"Hoaamfh..." Kiryuu menguap dalam perjalanan pulang menuju penginapannya.
"Aku lelah sekali. Saat sampai nanti, aku harus meminta Nana membuatkanku kopi kemudian segera pergi tidur."
__ADS_1
Dan tiba-tiba, tanpa sengaja, seseorang menabrak lengan Kiryuu hingga jatuh tersungkur.
"Ma-maafkan aku... Kau baik-baik saja?" Kiryuu mengulurkan tangannya pada orang yang terjatuh tadi saat menabraknya.
"Aku baik-baik saja! Permisi!" Ucapnya yang dengan cepat berdiri lalu langsung pergi berlari.
Sedangkan, Kiryuu masih keheranan.
"Ada apa dengannya? Dia terlihat seperti sedang dikejar-kejar sesuatu..." Gumamnya.
Kemudian,
Dari belakangnya, terdengar suara langkah kaki yang menggetarkan tanah.
"Apa itu?" Kiryuu menengok kebelakang.
"HOI!! KEMBALI KAU PENCURI KECIL!! KAU TAK AKAN BISA LARI DARI KAMI!!"
Seru orang-orang yang tampaknya sedang mengejar sesuatu.
"WTF?!!" Kiryuu melototkan matanya ketika melihat banyak sekali orang yang berbondong-bondong berlarian.
Kiryuu pun menyingkir dari jalan. Setelah itu, dia bertanya pada salah satu dari mereka apa yang terjadi.
"Tuan, tunggu sebentar... Ada apa ini? Mengapa orang-orang ini terlihat marah?" Tanya Kiryuu padanya.
"Oh, itu tadi, ada seorang pencuri yang mengambil barang-barang dagangan kami."
"Apa?! Pencuri?! Dimana?!" Tanya Kiryuu.
"Kalau tidak salah, pencuri itu memakai jubah hitam yang menutupi seluruh tubuhnya, sehingga aku tak terlalu mengetahui secara rinci rupa dari pencurinya, tapi setidaknya, dilihat dari tinggi tubuhnya yang pendek, sepertinya dia masih anak-anak." Kata pria itu.
"Oh begitu... Terima kasih untuk informasinya tuan." Ucap Kiryuu.
"Sama-sama! Aku pergi dulu!" Balas pria itu lalu kembali melanjutkan pengejarannya.
.
.
.
.
.
"Hmmm..."
Jangan-jangan, orang yang tadi menabrak lenganku adalah pencurinya ya?
To Be Continued~
__ADS_1