
Besoknya~
"Kufufufu... Akhirnya!"
Hari dimana turnamen akan segera berakhir telah tiba! Sekarang, hanya tersisa 4 peserta yang merupakan ajang utama dari pertandingan telah saling bersiap dengan persiapan yang matang.
Dibandingkan dengan hasil sebelumnya, yang merupakan awal dari pertarungan, persiapan secara besar-besaran tidak mereka lakukan.
Beberapa dari keempat bintang ini telah banyak melakukan latihan selama waktu yang singkat dan keterampilan mereka bertambah kecuali Rael yang selalu bersantai-santai.
Dia seharian sama sekali tidak melakukan banyak hal dan lebih suka menunggu dan bermalas-malasan.
Mungkin karena tak ada lawan yang sepadan untuknya, kupikir itulah sebabnya dia merasa bosan.
Dan berbicara mengenai peserta lain, dari sejak babak awal, mereka hanyalah figuran yang mengisi jalannya pertandingan pada saat waktu-waktu pertandingan utama selesai.
Tak ada yang berhasil lolos hingga ranking 10 besar. Kalaupun ada, seiring jalannya pertarungan, para peserta terus terkikis habis oleh peserta lain atau keempat bintang kita ini dan hanya mereka yang tersisa dan masih bertahan.
Nah, inilah saat yang telah ditunggu-tunggu! Empat dari mereka telah memasuki arena.
Tampaknya, kali ini wasit telah ikut dimasukkan ke arena juga untuk mengawasi jalannya turnamen. Karena sebelum-sebelumnya, turnamen hanya menggunakan sistem pengumuman untuk mengumumkan siapa pemenangnya, juga tidak ada reporter.
Dan itu sudah dimatikan!
Wasit pun mulai melakukan pembukaannya. Dengan adanya wasit, sepertinya pertandingan akan jauh lebih menarik!
"Disisi saya, juara pertandingan pertama, Zeperion Reeeeey!!!" Teriaknya dengan lantang.
Memancarkan aura kebanggaannya, para supporternya terpesona dipenuhi suka cita.
"Selanjutnya, juara pertandingan kedua, Lumi~~NAAA!!! Teriaknya lagi.
Supporternya juga ikut bersorak mendukungnya dengan suara yang bergema di arena.
"Kemudian, juara pertandingan ke tiga, Regisei de Niiii~~AAAA!!! Serunya lagi.
Hal yang sama terjadi. Supporternya juga ikut meramaikan suasananya.
"Daaan, sang juara pertandingan terakhir babak awal, orang yang sangat misterius, Blaaack.... NINJAAA!!!!" Seru si wasit dengan nada yang lebih tinggi dari pengenalan peserta sebelumnya.
Serta di waktu yang bersamaan, tampaknya para penonton jauh lebih antusias ketika wasit memperkenalkan Rael dan mereka bersorak jauh lebih keras juga untuknya. Dibandingkan dengan sebelumnya yang dimana sebagian besar penonton lebih mendukung Kondo, sepertinya dampak dari hasil akhir pertarungan kemarin telah menurunkan popularitasnya dengan drastis.
Penggemarnya telah dibuat kecewa berat olehnya. Dan mereka juga tidak hadir di gedung arenanya. Mungkin mereka pergi karena malu...
"Dengan ini, saya umumkan bahwa, babak penyisihan telah dimulai! Peserta pertama yang akan tampil di panggung secara berurutan hari ini, tuan Rey melawan nona Lumina... Peserta harap segera masuk ke ring!" Ucap sang wasit meminta agar mereka keduanya masuk ke ring.
Setelah itu, sesuai dengan nama yang dipanggil, Rey dan Lumina masuk ke ring arena sedangkan dua lainnya kembali ke ruang tunggu untuk pertandingan kedua setelah ini.
__ADS_1
Rey dan Lumina pun saling berhadapan dengan tatapan mata yang berpotongan.
Aura yang mereka pancarkan menimbulkan suasana benang ketegangan yang tak terlihat di antara keduanya.
Setelah itu, mereka saling membicarakan hal yang tidak berguna.
"Haha, bagaimana jika kamu menyerah saja dengan begitu kamu tidak akan terluka? Aku tidak tega jika harus melukai seorang gadis lugu sepertimu..." Tertawa dengan nada keyakinan akan kemenangan, katanya.
"Simpan omong kosongmu untuk nanti!!" Ucap Lumina dengan ekspresi kesal.
"Mulai!!" Seru sang wasit yang menandakan pertarungannya sudah dimulai.
Kemudian, tiba-tiba keduanya mulai saling berkelahi, menggunakan prinsip kemampuannya masing-masing.
Lumina menggunakan pedang esnya dan saling beradu dengan pedang milik Rey.
Dengan sekuat tenaga, percikan intens diantara gesekan kedua pedang mereka mengeluarkan suara besi yang berdenting lalu mundur beberapa meter.
Setelah itu, teknik demi teknik mereka perlihatkan.
Lumina menggunakan skill Hail arrow-nya untuk melakukan serangan jarak jauh pertama, diikuti dengan teknik pedang yang Rey tunjukkan berupa penguatan pada akselarasi kecepatannya serta damage pedang yang telah ditingkatkan.
Lalu, dengan sikap ancang-ancang, Rey memanfaatkan gelombang dorongan dan berlari dengan kecepatan tinggi meluncur ke arah Lumina dan berniat melakukan serangan langsung.
"Kuh, aku tidak akan tertipu!!"
Dengan refleks yang cepat, Lumina segera menyadari niatannya dan segera menghujamkan tekniknya ke arah Rey yang bergerak cepat. Pedang-pedang es itu telah meluncur menembus udara dan menargetkan lawannya.
TRANG TRANG DUKK DERR CRANG!!
Dengan mudahnya, Rey menangkis teknik milik Lumina dan sekarang dia semakin dekat dengan Lumina.
"Tch! Tidak semudah itu!! Rasakan ini!! Ice tsunami!!"
Saat Lumina merapatkan jari jemarinya dan mengayunkan lengannya, sebuah gelombang seperti ombak tsunami beresensikan es muncul dan melesat dengan cepat ke arah Rey.
Ombak itu telah memenuhi seluruh ring sehingga segala bentuk pelarian telah diblokir dan hanya tersisa satu jalan terakhir yaitu ditebas atau terbang ke atas.
Serta, saat Rey tak menyadari jalur atas itu, dia lebih memilih untuk melawan balik ombak es besar itu dengan teknik pedangnya.
Selain itu, dia juga percaya diri terhadap kemampuannya dan yakin bahwa dia pasti bisa menahan ombak itu.
"GEEH... Teknik rahasia kedua, jurus kehampaan!!"
Rey mengayunkan pedangnya dengan cepat dan sekuat tenaga lalu, gelombang angin yang tak terlihat secara tiba-tiba membelah ombak es itu yang kemudian esnya pecah berkeping-keping.
PRANG!!!
__ADS_1
Partikel yang dihasilkan dari pecahnya ombak es itu membuat ring arena dikelilingi benda-benda kecil berkilau yang indah dan penonton dibuat terkesima karenanya.
Sementara itu, Lumina masih sedikit kesal ternyata serangannya masih tidak bisa mengenai Rey seinci pun.
"Cih! Gagal ya... Kupikir aku harus mengulur waktu sebentar untuk menggunakan itu..." Gumam Lumina dengan ekspresi wajah kecutnya.
"Hahaha... Hanya itu kekuatanmu? Menyedihkan!" Ledek Rey dengan sombongnya.
"Oh ya?"
SIUT...
Saat Lumina mengatakan kata yang singkat itu, tiba-tiba dia menghilang lalu muncul di belakang punggung Rey.
"Gawat!"
"AAAKH!!"
Ketika Rey berbalik dengan terburu-buru, perut Rey telah tertusuk oleh pedang es milik Lumina.
Dengan sekuat tenaga, Rey mencoba melepaskan pedang dingin itu, namun apa daya, darahnya yang mulai dingin membuatnya lemas.
"Ka-kamu... Beraninya kamu memakai cara yang keji seperti ini?!" Ucap Rey dengan ekspresi kesakitan sembari berontak.
"Fufu... Inilah kekuatan yang kau remehkan.... Bagaimana? Sakit bukan?" Tanya Lumina yang tertawa kecil.
SRIING!!
Lumina mencabut pedangnya dari perut Rey kemudian tubuhnya menjadi lemas.
Dengan darah yang telah dibekukan, resiko darah yang terpancur bisa dihindari sehingga kematian tidak akan terjadi padanya.
Hanya dengan akselarasi singkat, Rey telah dibuat tak berdaya olehnya. Padahal, jika berbicara mengenai intuisi bertarungnya, Rey tak kalah jika dibandingkan dengan musuhnya itu atau setara.
Namun, tampaknya kecepatan Lumina tak mampu Rey ikuti sehingga reaksinya cukup lambat dan akhirnya dia tertusuk.
Lumina pun berjalan meninggalkan tubuh Rey yang terluka parah itu. Lalu, saat wasit akan mengumumkan kemenangannya, tiba-tiba....
WIIRR.... JEBUUMM!!!
"Apa?!"
Lumina berbalik ke arah suara ledakan itu dan dia dibuat terkejut oleh energi gelap yang teramat pekat.
"Bagaimana mungkin?!!"
Rupanya, Rey tiba-tiba bangkit dengan penampilan yang berbeda.
__ADS_1
.....
To Be Continued~