
🌠Jauh dari Al'quran\=Rapuh & Hampa🌠
*****************
Selesai makan malam Khanaya beranjak dari duduk nya untuk membersihkan sisa makan malam mereka, tapi di hentikan oleh Mama.
"Kalian istirahat aja,.di lanjut yang tadi, Mama janji gak ganggu.." ujar sang mama mertua dan itu membuat pipi Khanaya merona, kembali teringat kejadian sore tadi
"apa yang mau di lanjut...???" tanya Papa
"ah.. urusan pengantin baru..." jawab Mama sambil menepuk bahu papa
"hahaha....." tawa sang papa
"hayuh lah di lanjut..." tambah Papa dan itu membuat Khanaya malah menunduk malu.
"Ma...Pa..." Arga bersuara
Khanaya tak mampu menjawab dan bingung juga harus menjawab apa, karna malu Khanaya langsung membawa piring kotoran nya ke dapur.
"Non,.biar simbok aja Non..." ujar Simbok
"Gak papa mbok, Naya udah biasa kok bantu ibu dirumah..."
"Non, kalau non gak cepetan naik, yang ada akan di bahas terus sama ibu bos..." ujar Simbok
Khanaya pun mencuci tangan nya, mama dan papa nya sudah berada di ruangan tengah. Khanaya pun akan menghampiri mereka, tapi tangan nya di tarik oleh Arga dan Arga tanpa kata membawa Khanaya ke kamar nya .
"Mas kok main naik aja sih, Naya belum bilang sama Mama dan Papa" ujar Khanaya saat sudah di depan pintu kamar.
"mas udah izin tadi..." jawab Arga sambil membuka pintu kamar nya
"Selamat dari mertua, tapi tak selamat dari suami.." batin Khanaya
Saat mereka sudah di dalam kamar, tiba-tiba suasana kamar menjadi sunyi senyap.
Krik...Krik...Krik
Jika ini pedesaan hanya suara jangkrik lah yang terdengar.
Tapi di detik berikutnya Arga mulai mencairkan suasana.
"Mas mau ke kamar mandi duluan ya.." ujar Arga dan Khanaya hanya bisa menganggukkan kepalanya.
Tak butuh waktu lama Arga pun keluar dari kamar mandi, dilihatnya Khanaya sedang berdiri di depan meja rias sedang menatap apa yang ada di meja rias, sebelum dia turun tadi meja ini masih kosong.
"kenapa...??" tanya Arga yang tiba-tiba sudah ada di samping sang istri
"astagfirullah, mas bikin Naya kaget aja..." sambil mengelus dada
"ini mama yang pilihkan,. masa iya istri dari pengusaha skincare gak pakai produk nya.. " ujar Arga menjawabnya keheranan Khanaya
"tapi Naya gak biasa pakai beginian mas, paling pelembab aja.."
"mulai sekarang harus pakai..." ujar Arga sambil mendudukkan Khanaya di kursi rias
"mas malu gitu kalau Naya gak make up , trus takut Naya kusam gitu..??"
Arga membungkukkan badannya, masih dengan posisi di belakang Khanaya, hanya saja kepalanya kini sejajar dengan kepala Khanaya.
"coba kamu lihat ke cermin..." titah Arga, dan kini mereka sama-sama melihat ke cermin, saling melihat pantulan wajah nya dan pasangannya.
"Gak ada celah sedikitpun, sempurna, tapi apa salah suami ingin memfasilitasi istri, bukan karna takut malu nanti di bawa ke mana-mana, kita semua akan menua kan..? tapi merawat itu juga bentuk syukur kita.." ujar Arga
__ADS_1
"makasih ya mas..." ujar Khanaya sambil menatap sang suami dari cermin
"Kalau ada yang ga suka, tinggal bilang..." tambah Arga
"suka kok.... sepertinya mama tahu Naya gak suka warna yang mencolok... pilihan lipstik nya natural..." balas Khanaya
tiba-tiba telfon Arga berdering.
"mas jawab telfon dulu ya, kamu pakai..." ujar Arga dan Khanaya menganggukan kepalanya
Arga menuju arah balkon, dan Khanaya pun membuka jilbab nya lalu menuju kamar mandi, seperti rutinitas biasa nya, mencuci wajah, tangan dan kaki, sebagaimana biasanya sebelum tidur, di sunahkan menjaga wudhu.
Setelah rutinitas di kamar mandi selesai, Khanaya pun menuju meja rias, belum terbiasa membuah Khanaya sedikit canggung.
Khanaya bukan lah wanita yang awam akan skincare , hanya saja dia tidak terbiasa, karna sudah ada kan mubazir jika tidak di pakai.
Khanaya pun memakainya, step by step skincare yang ada di atas meja rias nya. tersenyum geli melihat diri nya sendiri.
Saat Khanaya akan membuka cepolan rambut nya di tahan oleh Arga.
"Sini biar mas..." ujar Arga sambil meraih sisir yang Khanaya genggam
"biar Naya aja mas..."
"gak boleh ya bantu istri..??" tanya Arga dengan nada sok sok kecewa
"bukan gitu..."
"ya udah deh... kamu lanjut aja,. saya mau tidur duluan..." ujar Arga sambil meletakkan sisir nya ke meja rias
Melihat ekspresi kecewa sang suami, Khanaya pun meraih tangan sang suami.
"kenapa...??" tanya Arga
Khanaya menyerahkan sisi nya ke tangan Arga... berusaha mengimbangi sang suami yang mulai memperlihatkan perhatian nya, sekalipun hal kecil.
"yakin mau disisirin...??" tanya Arga memastikan
"iya yakin..." Jawab Khanaya sambil mengangguk dengan senyum mengembang
Arga tersenyum sumringah, dia beranjak mengambil kursi sofa kecil lalu di letakkan nya tepat di belakang Khanaya.
Arga pun duduk bersila,. lalu mulai menyisir rambut Khanaya.
Rambut hitam sebahu dengan aroma vanila dapat Arga nikmati aromanya.
"memang gak biasa rambut panjang??" tanya Arga
"kadang sampai panjang juga sih mas, tapi gak pernah lama,.soal nya kalau panjang-panjang rontok.." jawab Khanaya
"mas...maaf ya kalau Naya terkesan kaku.." lirih Khanaya namun masih terdengar jelas di Indra pendengaran Arga
"kita sama-sama belajar ya... yang terpenting kita sama-sama membuka diri.."
Hanya disisir tidak Arga ikat kembali karna tahu Khanaya selalu tidur dengan rambut terurai.
Disibakan rambut Khanaya ke leher sebelah kiri, Tiba-tiba Arga mendekatkan posisi duduk nya menyandarkan kepalanya pada pundak Khanaya
"mau Naya pijit kepalanya biar rileks..??" tanya Khanaya
"gak perlu cukup gini aja.." jawab Arga, hembusan napas Arga mampu Khanaya rasakan dan itu cukup membuat nya tidak nyaman, haruskah dia menghindar, tapi baru saja Arga bilang agar mereka saling membuka diri.
Arga tiba-tiba merangkul kan tangan nya ke perut Khanaya, membuat mata Khanaya memicing.
__ADS_1
Dag..Dig...Dug...Deer...
Jantung Khanaya seakan meletus dan Arga dapat mendengar nya,senyum bahagia pun terbit dari bibir Arga namun tidak terlihat oleh Khanaya.
Arga makin mempererat pelukannya,tak ingin dia lepas.
"mas Naya gak bisa napas..." lirih Khanaya dengan berat
Arga pun merenggangkan pelukannya..
"maaf..." lirih Arga
"mas kalau ngantuk kenapa gak ke ranjang aja...??" tanya Khanaya
Arga melepaskan pelukannya, memutar kursi rias Khanaya, kebetulan kursi nya dapat di putar, dan kini mereka saling menatap, di tangkupnya ke dua pipi Khanaya
"Nay... boleh gak..??" tanya Arga
" boleh apa nya mas, ya boleh Donk kalau mau tidur di ranjang, masa iya kita tidur di sini..." jawab Khanaya apa ada nya
"bukan itu..."
Khanaya bingung, Khanaya mengerutkan kening nya Berfikir..
"ibadah..." ujar Arga dengan menatap lekat mata Khanaya.
Khanaya menelan saliva nya,.dan tiba-tiba menggeleng.
Senyum Arga pun langsung meredup, di jauhkan nya tangan nya dari pipi Khanaya.
"Ya sudah tidur yuk..." ujar Arga di detik berikutnya dan akan bangkit dari duduk nya, namun tangan nya di tahan oleh Khanaya
"gak papa kok, kita istirahat aja...saya akan tunggu sampai kamu siap" ujar Arga berusaha tenang, tak ingin memperlihatkan kekecewaan nya
"dengar dulu penjelasan Naya...bukan Naya gak mau menunaikan kewajiban Naya sebagai seorang istri, Naya gak mau di laknat malaikat mas...tapi..." ucapan Khanaya terhenti
"tapi...apa...??" tanya Arga bingung
"tamu bulanan Naya datang tadi pas mau sholat magrib..." jawab Khanaya sambil memainkan ujung baju tidur nya
Arga pun terkekeh sambil mengusap wajah nya.
bukan ada dinding di antara kita, tapi ada si merah di antara kita.
🍃🍃🍃🍃
Lanjut…???
Jazaakumullah Khairan untuk semua doa dan dukungan nya... untuk Reader kak Ajeng yang best semua..🥰
....
...Jika Tidak Suka Jangan di Teruskan, Jika Bosan dengan Alur Cerita Maka Tinggalkan, Jika Typo silahkan Tandai....
..
Jangan lupa Follow IG kak Ajeng ya.. @cerita_ajengkirana
Jangan lupa tinggalkan Like, vote, gift dan komen nya.
Yang belum meninggalkan jejak dukungannya, semoga dilembutkan hati nya..
Jazaakumullah khairon...🙏🥰
__ADS_1
Sebaik-baik nya Bacaan itu adalah –Al’Quran