Tak Berujung

Tak Berujung
Dulu nya Aku dan Kamu, sekarang menjadi Kita


__ADS_3

🌠Jauh dari Al'quran\=Rapuh & Hampa🌠


*****************


Tidak hanya sepanjang perjalanan, saat sudah di apartemen pun Khanaya lebih banyak diam. Bagaimana bisa Arga melakukan hal seperti tadi, apa kata staf dan pegawai lain nya.


Jika pun Arga ingin mengumumkan pernikahan mereka, tapi tidak dengan cara seperti itu,. entahlah apa yang ada di pikiran mereka semua. itulah yang ada di benak Khanaya.


Selesai membersihkan diri Khanaya langsung menuju dapur untuk memasak menu makan malam mereka. Art yang biasanya bekerja sebelum nya hanya bertugas pagi dia hanya untuk bersih-bersih saja, untuk bagian memasak, Khanaya sendiri yang ambil alih.


Arga paham kenapa Khanaya diam sejak perjalanan pulang, tapi Arga juga masih bingung bagaimana cara menjelaskannya.


Arga memiliki untuk diam lebih dulu, atau lebih tepat sedang memberikan ruang untuk Khanaya mengekspresikan rasa marah atau kecewa nya.


Khanaya sudah selesai dengan menu makan malam mereka sebelum waktu magrib tiba,.Arga seperti biasa juga sudah mengenakan baju Koko dan sarung serta kopiahnya.


"Nay, mas mau ke masjid dulu..." ujar Arga


"iya mas, hati-hati..." Balas Khanaya, kecewa marah, tapi mana mungkin Khanaya tetap diam saja saat sang sumi berpamitan ke masjid,. memenuhi panggilan Allah.


Saat Arga pergi Khanaya pun bergegas mengambil wudhu, sholat pertama setelahnya waktu libur nya berakhir.


Khanaya pun memulai sholat nya, selesai sholat Khanaya menyempatkan untuk mengaji walau hanya selembar, dan tampa Khanaya sadari ternyata karna asik dengan tilawah nya sang suami sudah duduk bersila di belakangnya.


Arga memejamkan mata nya, menikmati setiap lantunan ayat-ayat Allah yang Khanaya lantunkan.


"shadaqallahul adzim" menandakan tilawah yang Khanaya lantunkan pun berakhir.


Khanaya akan berdiri dari posisi duduk nya tapi mukenah nya tertahan,dan itu membuat Khanaya menoleh ke belakang.


"Astagfirullah... mas hobi banget sih buat orang kaget..." protes Khanaya


Arga tak menjawab, dia malah menarik Khanaya untuk kembali duduk, kini mereka duduk saling berhadapan.


"masih marah...??" tanya Arga


"kira-kira apa Naya berhak marah saat suami Naya menggenggam tangan Naya..??" tanya Khanaya balik


"Naya cuma kecewa, kenapa mas lakukan itu di hadapan staf dan pegawai kantor, kan kita udah sepakat"


"Mas paham kok, kamu pasti merasa kecewa karna saya gak profesional, tapi saya punya Alasan.."

__ADS_1


Khanaya mengerutkan kening nya. dan Arga pun menceritakan apa yang tadi pagi terjadi di lobby.


"sengaja aja buat semua heboh, dan besok undangan akan di sebarkan..." ujar Arga


"besok...??" tanya Khanaya


"iya besok untuk kantor akan di sebarkan,. dan ada di tambah desain baru.."


"desain apa...??"


"Hmmm... tinggal di lihat aja besok.. udah laper makan dulu yuk.."


"kasih tahu dulu desain nya, mas buat penasaran Naya kan..."


"besok aja kalau udah selesai dilihat langsung.." balas Arga sabil membuka mukenah Khanaya lalu menarik tangan Khanaya untuk menuju meja makan.


Lagi-lagi hanya bisa pasrah dengan rasa penasarannya. sedangkan Arga tersenyum puas melihat ekspresi penasaran sang istri.


Mereka pun menikmati makan malam lanjut melaksanakan sholat isya berjamaah.


Arga membalikkan tubuh nya, menghadap pada Khanaya, berniat menyodorkan tangan nya agar bisa di cium oleh Khanaya.


"Kita lanjut sholat sunah dulu ya mas..." ujar Khanaya dan itu membuat senyum mengembang terbit dari bibir Arga.


Perjalanan baru mereka mulai, kerikil bahkan mungkin jalan berlubang atau malah jurang pun siap menghadang, tapi mereka memohon apapun keadaan dan situasi ke depan nya mereka mampu melewatinya, mereka lulus.


Arga mencium lama ubun-ubun Khanaya, berdoa untuk kebaikan sang istri dan keluarga kecil nya kelak.


Khanaya pun berdoa untuk kebaikan sang suami dan keluarga kecil nya kelak saat Arga mencium ubun-ubun nya.


Dibukanya Mukenah yang sang istri pakai, lalu di bawa nya Khanaya menuju meja rias.


Khanaya duduk di meja rias dan Arga pun ikut duduk bersila di belakang Khanaya, di buka nya cepolan rambut sang istri, Khanaya tak menolak dengan apa yang Arga lakukan.


Disisir nya dengan sangat hati-hati rambut sang istri, senyum mengembang dapat mereka lihat dari masing-masing pasangan dari cermin.


Binar kebahagiaan terpancar begitu jelas, saat selesai menyisir rambut Khanaya, Arga melingkarkan tangan nya di bagian perut Khanaya, Khanaya sedikit kaget, tapi di tak menolak.


"Masyaallah Cantik..." puji Arga saat melihat Khanaya yang tersenyum


Arga memajukan kepala, berniat menyandarkan kepala di pundak Khanaya , namun Tampa sengaja Khanaya memalingkan wajah ke samping dan itu membuat bibir Arga menyentuk pipi Khanaya.

__ADS_1


Mata Khanaya membulat, karna selama menikah baru kening lah yang pernah Arga cium.


Arga pun buru-buru menarik diri nya, lalu berdiri berniat beranjak dari posisi duduk nya, tapi di tahan oleh Khanaya.


Khanaya pun ikut berdiri sejajar dengan Arga.


"tidur lah,. udah malam..." ujar Arga ada sebuah gejolak yang sedang ia sembunyikan dari Khanaya.


Bagaimanapun Arga adalah lelaki normal, bersama dengan seorang wanita yang berstatus istri membuat jiwa nya bergejolak, tapi selalu dia tahan, dia tak ingin memaksa.


"Naya udah bersih, dan Naya juga udah siap..." ujar Khanaya lirih dengan malu-malu sambil tertunduk


Bukan hal mudah untuk Khanaya mengucapkan semua itu,. tapi Khanaya sangat tahu sang suami sudah lama menahan semua nya, Arga juga sudah pernah meminta, tapi tertunda karna ada tamu bulanan, dan sudah jadi kewajiban juga untuk menunaikan kewajiban nya sebagai seorang istri.


Arga mengangkat dagu Khanaya, kini mata mereka saling menatap, dapat Arga lihat pipi Khanaya yang bersemu kemerahan.


"yakin...???" tanya Arga meyakinkan.


Dan Khanaya pun menjawab dengan kedipan mata.


Tanpa pikir panjang, Arga pun membopong tubuh Khanaya keranjang, di dudukan Khanaya dengan perlahan, di tatapnya lekat kedua bola mata sang istri.


Sebuah Ayat cinta yang beberapa waktu lalu sudah dia hafalkan pun dia lantunkan dengan lirih... lalu di kecupan kening Khanaya, Khanaya sama sekali tidak menolak ataupun keberatan, ya dia sudah siap lahir dan batin.


Malam Jumat yang indah untuk ke dua insan yang sedang di mabuk cinta, cinta yang Halal dan di persatuan dengan cara yang spesial.


Khitbah di jawab Ijab Kabul.


Malam ini menjadi saksi atas penyatuan itu, menjadi saksi dua insan ini saling memadu kasih, menunaikan kewajiban sebagaimana semestinya pasangan suami istri.


Dulu nya Aku dan Kamu, sekarang menjadi Kita.


🍃🍃🍃


Info UP bisa Follow IG kak Ajeng ya.. @cerita_ajengkirana


....


Jika Tidak Suka Jangan di Teruskan, Jika Bosan dengan Alur Cerita Maka Tinggalkan, Jika Typo silahkan Tandai.


...

__ADS_1


Jazaakumullah khairon...untuk semua bentuk dukungan reader setia🙏🥰


Sebaik-baik nya Bacaan itu adalah –Al’Quran


__ADS_2