Tak Berujung

Tak Berujung
Pindah ke Apartemen


__ADS_3

🌠Jauh dari Al'quran\=Rapuh & Hampa🌠


*****************


Beberapa hari berlalu Khanaya sedang sibuk membereskan pakaiannya di apartemen sang suami yang sekarang akan menjadi rumah untuk nya pulang.


Sedangkan Arga masih di kantor ada meeting dengan pak Gani, meeting tadi siang harus tertunda karna pengurusan akta pernikahan nya, dan baru bisa lakukan sore ini meeting nya.


Selesai membereskan pakaiannya, Khanaya pun menuju dapur, dilihat jam dinding sudah jam 5 : 15 tapi belum ada tanda-tanda sang suami pulang.


Khanaya pun memutuskan untuk memasak terlebih dahulu, jadi saat sang suami pulang semua sudah siap.


Dikenakan nya Apron yang tergantung di dinding dekat kulkas, lalu di keluarkan nya beberapa sayuran yang akan dia masak.


Khanaya memasak sembari di temani lantunan dzikir petang yang di bawakan oleh salah satu Hafidz terkenal Indonesia, Muzammil Hasballah.


Hingga tampa dia sadari kunci sandi pintu apartemen nya ada yang menekannya, dia adalah Arga, setelah sandi di pencet dan pintu terbuka, mata nya tertuju pada seorang wanita yang membelakanginya .


"Assalamualaikum..." salam Arga tapi tak ada jawaban


Diletakkan nya tas kerja nya di sofa, lalu menyusul sang istri yang sedang memasak di dapur.


"enak nich..." ujar Arga tiba-tiba dan itu membuat Khanaya beristighfar


"astagfirullah.. mas buat kaget aja, kok gak ngucapin salam.."


"Udah tadi , kamu nya yang gak dengar.."


"Astagfirullah... maaf mas gak denger, Waalaikumusalam..." ujar Khanaya sambil mencuci tangan lalu meraih tangan Arga untuk di cium.


Arga malah terkekeh melihat sang Istri buru-buru minta maaf, lalu di kecup nya kening sang istri.


"mau Naya siapkan air hangat untuk mandi, ini udah sore banget gak baik mandi air dingin"


"biar mas aja , kamu fokus aja sama menu makan malam kita..."


" pakai air hangat, jangan air dingin " Khanaya mengingat kan


"iyaaa.....mas ke kamar dulu..." balas Arga sambil mengelus pipi Khanaya lalu menuju kamar.


Khanaya sudah siap dengan rutinitas di dapur, menu makan malam pun sudah siap tertata di atas meja, Arga tiba-tiba keluar dari kamar,.sudah dengan baju Koko dan sarung yang melekat di tubuh nya, lengkap dengan peci nya juga.

__ADS_1


Baju Koko yang Khanaya belikan, ternyata dua paper bag yang berisi baju Koko itu satu untuk Ayah, satu untuk sang suami.


Khanaya tersenyum melihat penampilan sang suami, jika yang lain pangeran berkuda , tapi sang suami pangeran berbaju Koko.


Pak Ahmad jualan Bakso, yang beli pakai baju Koko.


"udah senyum nya, mas mau ke masjid dulu, kamu belum sholat kan..??" ujar Arga


ucapan Arga membuat pipi Khanaya bersemu merah "belum Mas.. " jawab Khanaya


"ya udah mas ke masjid, nanti kalau udah bisa sholat kita jamaah di rumah, sekalian sholat sunah dua rakaat juga.. sejak menikah kita belum melakukan nya"


Khanaya di hanya bisa menganggukan kepalanya, karna malu,. membahas hal intim sungguh membuat nya malu.


Hubungan nya dengan Arga memang semakin dekat dan tak secanggung dulu, tapi tetap saja membahas hal intim memuat nya malu.


Saat Arga pergi ke masjid Khanaya memiliki mengganti pakaiannya, karna baju yang tadi dia gunakan sudah beraroma sambalado.


Selesai mengganti pakaian Khanaya memiliki menyandarkan tubuh nya di sofa yang ada di kamar tanpa mengenakan jilbab nya, karna di rumah ini hanya mereka berdua.


Karna rasa lelah nya mulai dari urusan kantor hingga berberes rumah sampai memasak di kerjakan hari ini, membuat tubuh nya lelah, dan rasa kantuk pun menyerang nya, tanpa dia sadari mata nya terpejam.


Arga memutuskan hanya sholat magrib di masjid, sholat isya akan dia kerjakan di rumah .


Arga duduk tepat di samping Khanaya, di bawa nya rambut khanaya yang menutupi wajah nya ke arah telinga.


Di tatapnya lekat wajah sang istri yang sedang nyenyak.


"wajah-wajah lelah..." lirih Arga


"apa ikuti aja ya kata Mama agar Khanaya fokus di rumah, tapi..." ujar Arga


Khanaya tiba-tiba mengucek mata nya..


"untuk saat Naya masih pengen kerja mas, boleh kan..??" lirih Khanaya sambil sesekali menutup mulut nya karna menguap


"maaf Naya ketiduran..." tambah Khanaya


"ya udah kita makan malam dulu ya, baru setelah itu kita istirahat, mas juga lelah tadi rapat sampai sore.." ujar Arga dan Khanaya menganggukan kepalanya


Merekapun menuju meja makan, menikmati makan malam berdua, ini adalah makan malam berdua mereka yang pertama, sesekali Arga menyuapi Khanaya, walau awalnya Khanaya menolak tapi akhirnya mau juga.

__ADS_1


Arga tak lagi malu atau canggung menunjukkan perhatian nya, Khanaya yang kadang masih bingung harus merespon bagaimana, karna Arga adalah laki-laki pertama yang begitu dekat dengan nya selain Ayah dan Ardana.


Bagaimana tidak dekat, Arga adalah suami nya. Dan Khanaya pun tak bisa lalai akan tugas nya sebagai seorang istri.


Mungkin ini yang nama nya Cinta karna Terbiasa. tapi sebenarnya Cinta datang bukan hanya faktor terbiasa, buktinya Bayu yang sudah lama terbiasa ada di dekat Khanaya tak mampu masuk ke hati Khanaya lebih dari seorang teman.


Cinta itu ada karna dia memang belajar membuka hati nya, dan niat ibadah yang menjadi tujuan mereka menjadi salah satu jalan pula cinta itu bisa hadir.


"mas mau ngapain...??" tanya Khanaya saat melihat Arga menuju tempat cuci piring


"mau nyuci piring lah Nay,.masa iya nyuci baju" jawab Arga


"gak usah mas, biar Naya aja..."


"udah pernah dengar kan bahwa Rasulullah saja bersedia membantu Aisyah dalam pekerjaan rumah" Ujar Arga


Khanaya sangat paham arah pembicaraan Sang suami, Khanaya pun ikut berdiri, membereskan meja makan, dan Arga mencuci piring bekas mereka makan.


Mungkin hal ini biasa terjadi saat usia pernikahan itu baru di tahun pertama, dan berjalan nya waktu akan berubah.


Ada yang berubah ke arah lebih baik, ada pula yang menjauh dari kebiasaan baik, itu lah tugas suami istri, karna apapun bentuk yang mereka lakukan itu bernilai ibadah, dan di sinilah Syaitan berperan besar untuk menghancurkan nya.


🍃🍃🍃


Merupakan kebiasaan dan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membantu pekerjaan istrinya di rumah.


‘Aisyah radhiallahu ‘anha berkata,


“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam kesibukan membantu istrinya, dan jika tiba waktu sholat maka beliaupun pergi shalat” (HR Bukhari).


Hal ini merupakan sifat tawaadhu’ (rendah hati) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mencontohkannya pada manusia, padahal beliau adalah seorang pimpinan dan qadhi tertinggi kaum muslimin. Bisa jadi ada suami yang merasa diri menjadi rendah jika melakukan perbuatan dan pekerjaan rumah tangga karena ia adalah orang besar dan berkedudukan bahkan bos di tempat kerjanya.


🍃🍃🍃


Info UP bisa Follow IG kak Ajeng ya.. @cerita_ajengkirana


....


...Jika Tidak Suka Jangan di Teruskan, Jika Bosan dengan Alur Cerita Maka Tinggalkan, Jika Typo silahkan Tandai....


...

__ADS_1


Jazaakumullah khairon...untuk semua bentuk dukungan reader setia🙏🥰


Sebaik-baik nya Bacaan itu adalah –Al’Quran


__ADS_2