
Adrian tertegun saat matanya managkap sosok mahluk cantik dengan balutan gamis brokat warna cream yang sedikit mengembang dikombinasikan dengan jilbab warnanya hampir senada dengan warna gamis membuatnya semakin anggun dan cantik.
"Anggun satu kata untukmu yang kini ada dihadapan ku , sepertinya aku pernah berbuat baik pada kehidupan sebelumnya hingga aku di pertemukan dengan gadis ini, tapi aku tidak boleh egois harus kupastikan bahwa dia juga menginginkan ku bukan karna paksaan para warga Kep**t itu. puji Adrian dalam hati.
"hheemm.... " Deheman Raeesah membuyarkan lamunan anaknya.
"Ayo udah mau mulai nih." Riky bersuara.
"Boleh saya bicara dengan mu sebentar?" Adrian menatap Della walaupun detak jantungnya juga belum normal.
"Mau bicara apa pak? " tanya Della, tidak ada jawaban dari Adrian tapi ia langsung melangkah kearah jendela di ruang itu membuat Della terpaksa mengekorinya dengan sedikit kesal.
huh.... belum juga nikah tingkahnya udah seenak nepuk jidat aja.kesel Della.
"Dell...." panggil Adrian lembut.
"Heh kok lembut banget tapi malah bikin merinding gini ya" batin Della.
"Hhmmm..."
"hei Della belom nikah aja udah ketularan si anak aneh ini" Della bergumam.
"Apa lo terpaksa menyetujui pernikahan ini? " tanya Adrian dengan suara pelan. Pria itu bahkan berharap Della mengatakan tida**k terpaksa** agar pernikahan ini terlaksana entah apa yang dirasakannya saat ini namun ia tak kuasa menolak permintaan bapak-bapak yang seolah memergokinya denga Della sedang berbuat tak senonoh yang harusnya hanya dilakukan oleh sepasang suami istri.
"Ti.. tidak pak." jawab Della terbata-bata ia pun malu dengan jawabannya.
"Dell kalau lo terpaksa bilang aja, gue bakal beresin semua masalah ini termasuk Bapak-babak yang gak ada ah**k Itu, bahkan gue juga jamin gak akan ada yang berani bergosip tentang kesalahpahaman tadi sore"
"gak, pak saya gak terpaksa kok."
"Serius lo?" Adrian sangat senang dengan pengakuan Della, tapi ia memilih tidak mengekespresikan rasa senangnya di depan Della.
"Jika lo terpaksa bilang sekarang Dell karna jika lo bilang setelah kita nikah gue gak jamin kalau gue bakal iyain permintaan lo karna gue gak mau ingkar janji dan gue gak mau nikah dua kali Dell karna pernikahan adalah hal yang sakral, walaupun ini gak terfikirkan sama sekali oleh gue."
Tes.....
cairan bening berhasil menelusuri pipi mulus Della dan langsung ditepis Della dengan cepat.
"loh kenapa gini sih jadinya bahkan aku sempat berfikir kamu akan menggakhiri pernikahan ini, karna ini terjadi karna sebuah kesalahan namun ucapan kamu barusan membuat ku terenyuh dan aku akan berusaha mempertahankan pernikahan ini bersamamu" Della membatin.
__ADS_1
"Hah dia nanggis apaan sih harusnya seneng terus peluk gue gitu kayak di sinetron" kesel Adrian.
"pak aku gak terpaksa kok sumpah." ucap Dilla sambil mengangkat jarinya membentuk huruf v diiringi senyumnya yang sangat manis.
"hahh... kok malah tersenyum, manis banget lagi, padahal baru habis nanggis dia kira aku gak tau apa. tapi baiklah sepertinya iya dia pun terlihat menerimanya dengan ikhlas.batin Adrian.
"Hei tunda dulu bicaranya nanti selesai akad baru lanjutin lagi, lembur sekalian juga gak papa." goda Riky.
Deg.... deg....deg.....
Jantung Adrian serasa ingin lompat keluar saat tangan Ihsan mejabat tanganya namun ia berusaha menetralkan agar tidak salah ketika mengucapkan ijab qabul nanti.
"Saya terima nikah dan kawinya Della Destianty Ihsan Pratama binti Ihsan Pratama dengan mas kawin lantunan surah Ar-Rahman dan seperangkat perhiasan dibayar tunai."
Dengan satu tarikan nafas Adrian merubah statusnya.
Sahh.....
Setelah itu Adrian melantunkan surah Ar-Rahman dengan suara merdunya meskipun tidak terlalu lancar.
"Ya Allah jadikanlah Della mahluk yang selalu bersyukur dan tidak mengingkari nikmat-Mu sebagaiman telah Engkau tegaskan dalam surah Ar-Rahman yang dilantunkan oleh suami Della, semoga pernikahan ini menjadi yang pertama dan terakhir untuk Della Aamin" ucap Della dalam hati.
Setelah selesai Della dituntun untuk duduk disamping Adrian dan mencium punggung tangan sesorang yang beberapa saat lalu sudah merubah statusnya dan kecupan Adrian di pucuk kepala Della.
"Rian,,,mama sama papa pulang dulu ya hati-hati disini, besok kembalilah ke rumah bawa mantu mama, masalah mobil kamu yang nabrak pohon udah mama urus dan besok akan dijemput sama asisten Suryo". ucap Raeesah setelah tiba di dekat mobil yang akan membawa mereka pulang ke rumah,
Della sudah menawarkan untuk menginap tapi keduanya menolak dengan alasan adiknya Adrian sendirian di rumah meskipun penjagaan yang ketat namun Raeesah tidak bisa meninggalkan anak perempuan satu-satunya itu.
"Hati-hati ma, pa". ujar Adrian sembari mencium punggung tangan kedua orang tuanya secara bergantian diikuti oleh Della.
Setelah mobil yang membawa Raeesah dan Riky telah menghilang dari pandangan mata Adrian dan Della masih belum beranjak dari tempat mereka berdiri.
"Aduh kok jadi kaku gini ya lidah sama kaki, nungguin apa disini sih" gerutu Adrian
"Masuk dong ngapain masih berdiri di luar" kesel Della.
Sepuluh menit berlalu keduanya masih di posisi yang sama Della yang biasanya cerewet dan tidak bisa lama dalam diam akhirnya buka suara.
"Pak..... Masuk yuk betah amat di luar". ucap Della melangkah ke dalam rumah.
__ADS_1
"Tunggu Dell." Della menghentikan langkah kakinya dan berbalik menghadap Adrian yang berada tepat di depannya.
"Astagfirullah.....kaget pak"
"Udah dong jangan panggil pak mulu emang tampang ku udah kayak bapak-bapak? "
Della tersenyum mendengar apa yang di katakan Adrian memang Adrian bukanlah bapak-bapak tapi karna dari pertama ketemu Della sudah memanggilnya dengan sebutan pak jadi agak sulit dan Della pun masih belum tau harus memanggil Adrian dengan sebutan apa.
"Maaf saya belum terbiasa." Adrian lengsung mendekat ke arah Della kini tersisa jarak diantara keduanya hanya 5 cm membuat Dilla dapat merasakan hembusan hafas Adrian di wajahnya.
"Ehhhh.... kok deket gini aroma enak banget tu tangan juga ngapain ada di kepala kan berat turunin dong, jantung juga kerja sama dikit napa jangan sampai kedegaran kan gak lucu" Dilla membatin.
"Hahaha..... baru segini aja udah merah tu pipi. bisa dijailin nih" Adrian tersenyum licik
Cup...
Satu kecupan mendarat di pipi Dilla membuat sang pemilik bersemu merah sekaligus kaget.
"Astagfirullah......Nih anak ngapain nyosor aja, minta izin dulu napa " Della menunduk malu.
Adrian tersenyum saat melihat wajah Dilla yang sudah sangat merah.
"Mengemaskan." pikir Adrian. kini tanganya ia lingkarkan di pingang ramping Della.
"Pak..." Della hendak bersuara namun bibir mungil miliknya sudah tak mampu berkata karna sudah dibungkam oleh jari telunjuk milik Adrian.
"Ganti panggilanya." Della tertegun karna baru kali ini ia begitu dekat dengan laki-laki selain Abah dan Abangnya apalagi kini jari telunjuk Adrian berada tepat di bibirnya.
"Mau dipanggil dengan sebutan apa?" Della menurunkan tangan Adrian pelan dari bibir nya dan mendongkak menatap wajah Adrian karna tubuh Adrian yang lebih tinggi dari Della.
To Be Continued
.
.
.
.
__ADS_1
.
.