Takdir Atau Rekayasa Mu

Takdir Atau Rekayasa Mu
Mengobati rasa rindu


__ADS_3

Nadia mengikuti langkah wanita yang berjalan di depannya. Dia berhenti saat wanita yang berada didepannya juga berhenti.


“Are you nervous?” wanita itu mencubit gemas pipi Nadia. Tangan kirinya membawa beberapa buku


“I’m fine!” ucap Nadia diiringi senyum di bibirnya.


“really?” tanya wanita itu memastikan jika Nadia benar-benar siap untuk bertemu dengan dosen yang sanggat disegani oleh sebagian besar mahasiswa yang menimbah ilmu di universitas terbaik ke lima di Inggris, universitas yang menjadi pilihan Nadia setelah menyelesaikan S1 nya.


“Yes I’m ok , you don’t need to worry” Nadia menepuk pundak temannya itu. “take it easy I feel like I didn't make a mistake.” Jelas Nadia.


Anggel tersenyum mendengar penjelasan Nadia dan mungkin dia sanggat berlebihan.


“Please enter miss” bergaya seperti seorang pelayan yang sedang melayani tamu yang sedang berkunjung dengan kedua tangan mempersilahkan Nadia untuk membuka pintu ruang dosen tersebut.


“Are you to much Anggel” Nadia berusaha menahan tawanya mengigat dia sedang berada di depan ruangan dosen.


Anggel melihat jarum jam yang melingkar di pergelangan tangannya yang sudah menunjukan pukul empat sore dia memutuskan untuk berpisah dengan Nadia.


“See you tomorrow miss Nadia” Anggel melambaikan tanggannya.


“See you” membalas lembaian tangan temannya dan Nadia pun berbalik lalu mengetuk pintu ruang dosen.


“Sit down please” Mr Frans mempersilahkan Nadia untuk duduk.


.......


“Nadia there is something you want to tell me?” tanya Anggel tanpa basa-basi, dia sangat penasaran tentang perihal mr Frans yang menyuruh Nadia untuk menemuinya setelah selesai memberikan kuliah kemarin .


“Mr Frans just told me to be enthusiastic about studying because it seemed like I was having a hard time”.


“exaggerated”.

__ADS_1


“I dont think so. because a mentor should pay attention to his students” ucap Nadia sambil membalik-balikkan buku bacaannya.


“up to you” Anggel menekuk wajahnya.


“Hmmmm”


Mulai bosan “I want go to class” Anggel pergi ,meninggalkan Nadia yang masih saja asyik duduk di rumput hijau tanpa alas.


“See you” ucap Nadia tanpa mengalihkan pandangannya dari buku yang dia baca.


Mengalihkan pandangannya dari buku lalu mengedarkan ke bangunan-bangunan kampus.


“Aku akan cepat selesai dari sini” ucapnya penuh tekad.


Tiba-tiba di teringat akan sahabat-sahabatnya mengambil ponsel lalu menghubungi Della, tak butuh waktu lama panggilan pun tersambung.


Percakapan Nadia dan Della di telepon


Nadia : “Waalaikumussalam, gue rindu sama lo Della”.


Della : “Aku juga Nad, rindu juga sama Nitha”.


Nadia : “bay the way, lo udah solat magrib belum. Takut gangu waktu kamu?”.


Della : “Udah, Tenang aja Nad, aku sambung ke Nitha ya?”


Nadia : “Gak biar gue aja”.


Beberapa detik berlalu....


Nadia : “Hallo Della. lo masih disana?.”

__ADS_1


Della : “Iya Nad.”


Nadia : “Nitha gak ngangkat telponnya, mungkin dia udah tidur atau lagi sibuk. Gue kangen banget sama lo berdua”


Della : “Aku juga, Nad. Gimana kabar kamu? kuliah kamu gimana?


Nadia : “Gue baik, kuliah juga lancar . lo gimana kabarnya? Lo udah kerja kan?


Della : “Alhmdulillah aku baik. Kamu punya pacar disana?” Della takut kalau sahabat sekaligus orang yang sudah dianggap kakak olehnya terjerumus pergaulan bebas negara barat.


Nadia : “gue masih sama si do’i, gimana lo udah ada isi belum?”


Della : “Kirain udah putus, belum Nad doa in ya semoga cepat isi”.


Maaf Nad aku bohong sama kamu, Della menggigit bibir bawah nya saat terlintas kembali bayangan Adrian yang melempar pil kontrasepsi padanya dan mengatakan bahwa dia tidak ingin Della mengandung anaknya.


Dan obrolan keduanya terus berlanjut hingga waktu sudah menunjukan pukul dua puluh malam di tempat Della. Merekan untuk mengakhiri obrolan karena Nadia harus masuk ke kelas.


“Waalaikumussalam”. Della pun mematikan sambunga telpon dan beranjak ke kamar mandi untuk berwudhu dan segera mendirikan solat isya.


.


.


.


.


.


TBC

__ADS_1


__ADS_2