
Benar-benar mengemaskan. oohhh... Tuhan aku bersyukur pada Mu atas kecelakaan itu, hingga membawaku ke rumah ini dan hari ini juga dia menjadi istriku ku mohon Tolong hadirkan cinta dihatinya begitu pula aku . Adrian.
"Ngomong dong ngapain begong, bener-bener gak seru berada di dekat orang seperti ini sebelas dua belas sama dosen killer yang juga nyebelin di kampus. Della
"Hmmm......"
"Kalau ditanya ya jawab dong, jangan dehem aja. Itu bukan jawaban kamu pikir aku bisa baca apa isi otak kamu? "Gadis itu kesel dan berjalan meninggalkan suaminya yang aneh menurutnya.
"kok ditinggal sih Dell". Adrian berteriak namun seringai nakal yang muncul untuk menjaili istrinya belum juga hilang dari pikirannya." Udah gak tahan ya, ok deh tunggu aku di kamar ya bentar lagi aku nyusul." Ucapanya kali ini langsung mendapat tatapan tajam dari Della yang berbalik arah saat ia selesai bicara.
"Serem juga nih cewek. pura-pura gak sadar aja deh. Adrian langsung mengambil ponsel di saku celananya lalu memainkannya untuk menghindari tatapan Della yang lumayan membuat ngeri.
"Nyebelin amat tu laki". gerutu Della, kini ia sudah berada di atas ranjang di kamarnya.
Tak lama ia pun memutuskan untuk berganti pakaian karna tak mungkin ia tidur dengan gamis yang ia pakai buat nikah tadi. Kini Della memakai baju tidur warna marron. Tapi pada saat berganti pakaian ia tidak sadar bahwa saat ia akan memakai atasnnya Adrian sudah berada di dalam kamarnya.
"Gila gak salah gue nikahin, tu body pas banget. Ya Allah aku bersyukur kepada-Mu atas kejadian itu. dan terimakasih Tuhan.Adrian
"Astagfirullah sejak kapan kamu ada disini". Della kaget melihat Adrian berada di kamarnya dan buru-buru menuju lemari mengambil sebuah hijab untuk menutupi rambutnya, namun sebelum itu terjadi Adrian mencegahnya.
"Kenapa harus ditutupi aku suami mu berhak untuk itu." sambil tanganya melepas ikatan rambut Della membuat rambut panjang Della yang sampai pingang terurai indah.
"Cantik puji Adrian". Sudah aku mau tidur Della menepis tangan Adrian yang membelai rambutnya dan bergegas menuju ranjang lalu segera tidur untuk menghindari Adrian yang aneh bagi Della.
"jantung.....kenapa ya akhir-akhir ini kamu susah buat diajak kerja sama, mau aku pecat dan gak jadi bagian dari tubuh ku hum? . Della
"Gumush baget si istri gue." Adrian beranjak ke tempat tidur dan membaringkan tubuhya di samping Della. Della yang merasa ada pergerakan pun membuka matanya sekilas dan menutupnya kembali tapi lagi-lagi kaget dengan tangan kekar milik Adrian yang sudah berada di pinggang sebelah kirinya dan benda kenyal yang sekilas menempel di jidatnya membuat Della terbelalak matanya membulat sempurna bahkan terasa darahnya berhenti mengalir berganti dengan desiran aneh yang menjalar di sekujur tubuh Della.
"Maaf aku tidak akan mengulanginya lagi." Adrian sadar bahwa Della belum menerimanya.
" Ti-tidak apa itu hakmu aku tidak berhak melarangmu". Della tersenyum dan senyuman itu membuat Adrian mengiginkan sesuatu.
__ADS_1
"Kalau gitu, boleh itu gak?" tanya Andian dengan lirikan nakal.
"Itu apa pak?. " Della Kembali ke mode awal membuat Adrian menatapnya kesel.
"Jangan marah karna tadi kamu belum menjawab pertanyaan ku." Adrian tersenyum mendengar ocehan Della.
"Panggil aku dengan panggilan romantis sayang misalnya."
"Hei itu terlalu lebay dan aku geli mengucapkan kata itu sebagai sebuah panggilan. "
"Memang kamu gak bisa diajak romantis. Jangan bilang kalau kamu belum pernah pacaran", ucap Adrian yang belum yakin kalau Della belum pacaran sebelum menikah dengannya karna ia berfikir Della juga hidup di zaman yang sama dengan dirinya zaman dimana anak muda bebas melakukan apa yang mau mereka lakukan meskipun ia yakin kalau Della belum melewati batas dalam berpacaran.
"Aku memang belum pernah pacaran karna kalau sampai pacaran sudah pasti dihabisi sama aba dan abang Hendri".
Della bergidik ngeri sambil mengigat wajah Hendri yang begitu menakutkan ketika ada seorang laki-laki yang pernah menawarkan bantuan kepada Della saat ban motornya kempes Della pun tak habis pikir kenapa Hendri bisa ada di sana saat itu.
"Dan untung saja kejadian tadi sore tidak dilihat bang Hendri dan aba juga bersama rombongan itu jika tidak aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi padamu. Sudah pasti lebih parah dari kecelakaan itu".
Adrian juga yakin kecelakaan tadi siang bukanlah murni sebuah kecelakaan.
Tapi ia sangat bersyukur nasib baik masih berpihak kepadanya dengan kehadiran Della di sana yang membuatnya menurunkan laju mobil karna mengekori Della hingga mobilnya hilang kendali menabrak pohon di jalan yang sedikit berbelok jika tidak
Mungkin akan lebih parah lagi kalau sudah berada di jalanan yang ramai maka dapat dipastikan bahwa bukan hanya dia saja yang menjadi korbanya.
"Dell jadi kamu mau panggil aku apa humm?"
Della mengerutkan keningnya berfikir panggilan apa yang tepat untuk laki-laki yang saat ini masih setia memeluknya.
"berapa umurmu? " Adrian bingung bukanya mendapat panggilan untuknya dari Della wanita yang sudah menjadi istrinya itu.
"Dua puluh tujuh tahun memangnya kenapa?" Jangan berfikir bahwa umur ku lebih tua darimu kau bisa memanggilku dengan sebutan bapak. sambung Adrian yang langsung membuat Della tertawa geli.
__ADS_1
"Kenapa tertawa?". Adrian semakin erat memeluk Della.
"Gak kok, kamu mikirnya kejauhan. " Della berusaha melepaskan pelukan Adrian yang membuat nafasnya semakin tidak beraturan.
"Kalau gitu kamu mau panggil aku apasih?. " kini Adrian menggosokkan hidungnya yang mancung ke hidung Della yang tidak kalah mancung.
"kakak gimana? ". Adrian berfikir sejenak kemudian megiyakan panggilan untuknya dari Della.
"Kak maaf jika kamu tidak nyaman dengan rumah ini."Adrian tak menghiraukan ucapan Della jawahnya semakin ia dekatkan ke wajah Della ia berniat mengecup bibir istrinya yang sudah menggodanya dari tadi tanpa disadari pemiliknya.
Namun kecupan itu berubah menjadi lu**t*n,
Della kaget dengan apa yang dilakukan Adrian namun ia tidak menolak atau membalas ia hanya mampu melototkan matanya karna kaget.
"bernapas Dell." ucap Adrian karna ia tau Della hampir kehabisan napas akibat ulahnya.
To Be Continued
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1