Takdir Atau Rekayasa Mu

Takdir Atau Rekayasa Mu
Kesialan Adrian


__ADS_3

“Terima kasih” ucap Della yang kini berdiri menikmati keindahan malam kota itu dari rooftop.


“Kamu bahagia?” Tanya Adrian.


“Iya” jawab Della. Detik berikutnya Della dibuat terkejut dengan tangan yang melingkar di perutnya “A-adrian.” Pekik Della kaget.


Adrian meletakan dagunya di pundak Della, tinggi tubuh Della 167 cm itu ternyata masih dibawah Adrian yang lebih tinggi dari sang istri membuat Adrian sedikit membungkuk untuk menyamakan dengan tinggi sang istri “Ad jangan seperti ini” Della mulai risih.


“Disini hanya ada kita berdua.” Adrian menghirup aroma rambut sang istri, tangannya pun menyibak rambut Della yang masih lembab ke samping kanan dan beralih mengusap lembut leher jenjang sang istri membuat Della tanpa sadar mengerang “hmmm.”


Mendengar itu Adrian tersenyum saat sentuhannya direspon oleh sang istri “aku menginginkan mu sayang” bisik lembut Adrian di telinga Della yang hanya pasrah oleh tangan nakal Adrian yang bergerak tak menentu arah.


“Ohhh…shittt…aku benar-benar tidak tahan” umpat Adrian lalu mengangkat tubuh Della dan berjalan ke kamar dan meletakkan dengan lembut di ranjang dan langsung melancarkan kembali aksinya.


“hooeekkk….hooeekkk…” dengan gerakan cepat Della bergegas turun dan berlari ke kamar mandi.


“Akkhh…sialan berani-beraninya dia mendorongku hingga kepalaku terbentur meja” kesal Adrian sambil mengusap bagian kepalanya yang terbentur “kalau aku amnesia gimana huh? Aku gak bakalan ingat kalau kamu itu istri aku Della! Masih mending kalau aku Cuma amnesia doang tapi kalau langsung is dead bakalan jadi janda dia” ucapnya kesal karena harus berhenti ketika dia mau memulai permainan inti. Jujur saja bukan hanya kepalanya yang jadi korban tapi juga sesuatu yang tegak sejak memeluk Della tadi.

__ADS_1


Belum rezekinya bang Rian


Tok…tok..tok… “Della buka pintunya! kamu ngapain didalam lama amat?” Adrian mulai khawatir.


Della! Teriaknya lagi hingga beberapa kali namun tak kunjung mendapat jawaban.


Dua menit, lima menit, sepuluh menit, hingga lima belas menit berlalu pintu kamar mandi terbuka namun tidak lebar hanya menampakan kepala Della “Ad tolong ambilin handuk di lemari, handuk yang disini udah bau aku gak bisa pakai entar muntah lagi” ucap Della pada Adrian yang kini duduk di sofa terlihat wajahnya yang begitu gelisah “kamu baik-baik aja kan? ” tanya Adrian.


“Sedikit pusing” jawab Della.


“Tunggu sebentar aku ambilin.”


“Emm…Ad aku tidur di sofa aja ya?”Adrian mengerutkan dahi “aku gak nyaman sama aroma tubuh kamu” cicit Della.


Adrian melihat Della sambil berdecak. Wanita ini masih berdiri di depan walt in closed.


“Maaf.”

__ADS_1


“Aku aja yang tidur di sofa.” mengambil bantal dan menuju sofa.


“Kamu marah?” melihat wajah Adrian sedikit kesal seolah tidak terima.


“Tidur udah malam”


Pagi ini Della yang bangun terlebih dahulu memutuskan keluar dari kamar hotel dia ingin ke apotek yang berada di seberang hotel tempat mereka menginap, sebagai seorang yang belajar ilmu kedokteran dia ingin memastikan apa benar dugaannya.


Dari gejala dan dia alami dia bisa menebak kondisinya saat ini namun dia harus memastikan hal ini karena dia sudah berusaha menghindari hal itu terjadi bahkan sampai harus mengomsumsi pil kontrasepsi walau dia sendiri tahu efek jangka panjang menggunakan pil kontrasepsi.


Kini Della sudah berada di kamar mandi dan langsung menggunakan alat tersebut.


.


.


.

__ADS_1


.


TBC


__ADS_2