
“Nyonya Della” Lirih wanita itu kemudian menunduk.
“Mengapa kamu bisa tahu namaku?” tanya Della penasaran, Della tahu jika memang wanita yang ada di depannya saat adalah wanita yang tidak ia kenal.
“karena saya pernah melihat nyonya” Jawab wanita itu masih setia menunduk.
“Dimana?” Della semakin penasaran.
“Di.........” Wanita itu terdiam sesaat untuk mencoba mangigat dimana dia melihat Della hingga kenal dengan sosok wanita cantik itu.
“Ahhhh...aku ingat...nyonya bisakah aku meminta foto selfi denganmu?” wanita itu kini berani menatap Della, dari tatapan matanya Della bisa menangkap sorot pengharapan agar apa yang ia minta di sanggupi oleh Della, dan itu membuat Della menautkan keningnya karena binggung.
“Bukannya menjawabku malah membuatku semakin binggung saja” Della berkata dalam hati.
Melihat wanita cantik dihadapannya itu masih diam wanita itu kemudian memutuskan untuk mengurungkan niatnya
“maafkan aku nyonya, maaf karena telah lancang meminta foto bersamamu”.
“Tidak....kamu boleh berfoto denganku tapi sebelum itu bolehkan aku tahu alasan mu berfoto denganku?” ujar Della.
“Tadi saat aku nonton di tv aku melihat wajah tuan Adrian dan nyonya menghiasi beberapa chanel yang aku tonton, aku fikir mereka yang bisa muncul dilayar tv itu sudah pasti artis” wanita itu diam sejenak seakan ragu dengan ucapan berikutnya “aku berasal dari kampung nyonya dan suatu hal yang luar biasa jika aku bisa bertemu dengan artis “ ujar wanita itu malu-malu.
“Ohhhh....Tuhan” Della merasa semakit tidak waras “mengapa hal seperti itu saja ditayangkan di layar tv, ada hal lain yang lebih penting dan bermanfaat untuk ditayangkan”.
“Apa sebelumnya kamu pernah bertemu Adrian?” Della belum puas akan informasi yang ia terima.
Sepertinya Della salah mengambil jurusan saat kuliah, seharusnya bukan di bidang kesehatan yang dia tekuni hingga lulus kuliah melainkan jurnalistik.
“Aku sudah hampir satu minggu bekerja dan tinggal disini sebagai asisten rumah tangga, dan sudah lebih dari tiga kali bertemu tuan Adrian dan untuk nyonya sendiri aku kenal karena aku melihat lukisan yang terpampang di ruang tamu, jadi saat melihat wajah nyonya dan tuan di tv aku langsung mengenalinya” jelas wanita itu.
__ADS_1
“Lukisan?, ruang tamu?” pekik Della.
“iya nyonya,apa nyonya tidak melihatnya?”
“Iya soalnya tadi saat baru masuk ke rumah aku dikagetkan dengan kehadiran seorang wanita dengan setelan jas yang rapi, apa selain kamu ada orang lain lagi yang tinggal di rumah ini?” Della menatap taman mawar yang terlihat melalui jendela .
“Aku dan pak Salim yang bertugas membersihkan halaman rumah ini nyonya” jawab wanita itu.
“Lalu gadis cantik tadi siapa ya?” tanya Della pada diri sendiri “ atau.......ahhh....tidak...tidak....Della jangan nyasar fikiranmu deh...tarik nafas...buang...dan rileks” Della menyadarkan fikirannya yang mulai ngelantur.
“Kamu bisa temani aku berkeliling dan melihat-lihat” ucap Della.
“Dengan senang hati nyonya” ujar wanita itu dengan riang.
“Jangan panggil nyonya, panggil Della saja ya” Della merasa tidak pantas jika dipanggil dengan sebutan ‘Nyonya’ oleh Miranda.
“Tapi nyonya Della adalah majikan saya, tidak sopan”
Wanita itu diam dan sibuk dengan segala hal yang mulai meramaikan fikiran dan hatinya.
"Jika kamu masih keberatan memanggil ku dengan sebutan nama maka kamu boleh memanggil ku dengan sebutan adik dan aku bisa memanggilmu dengan sebutan kakak" Final Della.
"Tapi jika tuan tidak terima bagaimana?"
"Aku yang akan menjelaskan padanya" bujuk Della.
"Baiklah" wanita itu pasrah dengan keputusan Della.
"Boleh aku tahu nama kakak?" Della menatap wajah wanita yang tidak lain adalah asisten rumah tangga yang bekerja di rumah itu.
__ADS_1
"Ohhh.... iya saya sampai lupa memperkenalkan diri saya, nama saya Miranda bisa dipanggil Mira saya dari desa xxxx" Miranda memperkenalkan diri.
"Kalau gitu aku gak panggil kakak tapi aku panggil teteh aja gimana....?" usul Della.
"Asal kamu nyaman neng" ujar Miranda.
"Hahhaha.... teteh bisa aja, tapi gak salah juga sih soalnya umma aku juga asal dari desa yang sama kayak teteh" ucap Della.
"Ohhh... ya...ummah neng juga sering bicara pakai bahasa daerah" tanya Miranda yang sudah mulai akrab dengan Della.
Della mengangguk "aku juga mengerti dan juga sering ngobrol sama umma pakai bahasa daerah asal umma"
"hebat" ucap Miranda sambil menunjukan jempolnya.
"dimana ngamimitian teteh... ?(Mulai dari mana kak...?" tanya Della.
"naon...? (apa... )" tanya Miranda bingung.
"tingali imah ieu...! (lihat rumah ini...!)" ucap Della.
"ti dieu..! (dari sini)" ucap Miranda.
"Gusti Bu della marahmay pisan...(Ya Tuhan ternyata nyonya Della sangat baik)" Miranda membatin.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung.........