
"Mama....." Nitha dan Reno memandagi Ayumi dengan raut wajah berbeda.
"Pa.... pa..... gak tahu harus bahagia atau gak" Reno melihat dua wanita yang kini menemani hari-harinya secara bergantian.
"Mama juga gak tahu harus apa" Ayumi menunduk dengan air mata yang sudah menerobos keluar begitu deras.
"Nit....maafin mama sama papa ya nak" ucap Reno.
"Hikss... ini semua karena mama, mama minta maaf". ucap Ayumi sesegukan.
"Papa yang salah mama gak boleh nanggis" Reno menghapus air bening yang membasahi pipi istrinya.
Nitha hanya diam dia benar-benar tidak menyangka kalau mamanya ternyata benaran mengandung diusia yang hampir memasuki empat puluh delapan tahun itu, bukanya ingin menjadi anak satu-satunya tapi karena takut mamanya kesakitan lagi saat melahirkan.
Nitha trauma dengan apa yang dia lihat ketika diajak menemani Reno dan Ayumi ke rumah sakit untuk menemani adik dari Reno yang akan melahirkan berujung pada kematian saat berjuang melahirkan anaknya, adik sepupu Nitha saat itu Nitha baru berusia sepuluh tahun dia takut jika itu terjadi padanya.
Seiring waktu berjalan saat dia belajar menjadi dokter spesialis kandungan dia sangat tahu resiko kematian pada ibu yang melahirkan membuatnya semakin menekankan keinginannya untuk tidak memiliki adik tapi kini....... apalagi diusia Mamanya yang saat ini resiko kehamilan begitu besar.
Nitha memeluk lembut wanita yang sudah bertaruh nyawa untuk menghadirkan dia kedunia "Mama jaga kesehatan ya....resiko kehamilan begitu besar di usia mama saat ini" air matanya menerobos keluar membasahi pipinya "tapi mama tenang aja semuanya akan baik-baik saja selagi mama gak memiliki riwayat penyakit kronis seperti diabetes, tekanan darah tinggi atau tiroid apalagi peralatan medis saat ini cukup moderen terlebih mama masih terlihat bugar" ucap Nitha menenangkan meskipun hatinya sendiri belum tenang "dan aku bakal berusaha sebaik mungkin ma".
__ADS_1
"Kamu gak marah mama hamil lagi nak....?" Ayumi melepas pelukan Nitha lalu menatapnya, Nitha mengangukkan kepala sebagai jawaban.
"beneran.....?" tanya Ayumi memastikan.
"Iya ma aku gak marah sebenarnya aku cuma takut tapi gak papa kita optimis aja".
"uhhh.... Syukurlah..." Ayumi menarik tubuh Nitha kembali ke pelukannya"
"Papa juga pingin dipeluk" ucap Reno sambil mendekatkan tubuhnya kepada tubuh istri dan anaknya namun.....
"Jauh-jauh deh pa. mama pingin muntah deket papa, pasti karena papa belum mandi" tangan Ayumi mendorong tujuh Reno.
"Besok ikut aku ke rumah sakit buat USG ya ma"
"Oh ya pa selamat menikmati hari-hari dengan drama ngidam mama ya. ucap Nitha sebelum menutup pintu kamar orang tuanya.
Dia pun berlalu menuju kamarnya, membersihkan diri dan langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur tak butuh waktu lama dia pun terlelap dan hanyut dalam mimpi.
Sementara di kamar kedua orang tuanya, Reno dipusingkan oleh kelakuan sang istri yang mendadak aneh.
__ADS_1
"Mending papa tidur di luar deh" ucap Ayumi, setelah berbagai cara dilakukan dari tidur yang agak berjauhan walaupun masih di ranjang yang sama hingga tidur, beranjak ke sofa tapi tetap saja Ayumi tidak nyaman dengan aroma Reno malam ini.
"Ma jangan lebay deh, dulu waktu hamil Nitha gak gini" Reno mulai jengah akan tingkah ajaib calon ibu prima itu.
"Ya udah kalau papa gak mau tidur di luar biar mama aja yang tidur di luar" Ayumi mengambil selimut.
"Stopp...ya udah papa tidur di luar" Reno mengambil alih selimut dari tangan sang istri.
Mengalah... iya mengalah untuk ratu yang berkuasa di rumah itu.
.
.
.
.
TBC
__ADS_1