
"Sayang kalau gak dihabisin" ucap Della.
"Gak, kamu gak lihat aku hampir membeku seperti ice cream itu" memilih untuk tidak menatap wajah istrinya yang menggemaskan karena sudah dapat dipastikan dia tidak dapat menolak jika kembali menatap wajah itu.
Della belum menyerah, kepuasan saat melihat Adrian memakan ice cream itu belumlah sempurna "Adrian yang itu lagi ya... " tangan Della kini melingkar di perut Adrian.
"Bini gue kenapa ni? Ohh God jangan-jangan dia kerasukan setan pantai," batin Adrian.
"Mubazir tahu gak," kini kepalanya di letakkan di pundak sang suami sambil sesekali menggesekkan pipinya di pipi Adrian, Dimana Della yang seakan lupa jika mereka sedang berada di keramaian.
Dengan terpaksa Adrian menuruti kemauan Della dengan kesepakatan itu yang terakhir dan Della menganguk setuju.
Setelah selesai membayar ice cream pesanan Della plus sedekah dari si penjual ice cream Adrian juga menjelaskan kepada sang penjual bahwa mereka bukanlah rebutan, sang penjual pun langsung meminta maaf karena sudah salah paham dan bodohnya dia baru menyadari bahwa ternyata orang yang ada di depannya saat ini adalah seseorang yang cukup berpengaruh di kota itu.
"Maafkan saya tuan, saya benar-benar tidak mengenali anda" ucapnya tulus.
"Tidak masalah pak, saya malah berterima kasih karena telah melayani saya dan istri saya dengan baik" sepasang suami istri itu pun kembali melanjutkan perjalanan menuju hotel sebelumnya berpamitan pada penjual tersebut.
Sesampainya mereka di kamar hotel Della langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, entah mengapa Della membenarkan ucapan suaminya ketika di pantai. Tubuhnya malam ini memproduksi keringat lebih hingga dia begitu tidak nyaman akan hal itu.
__ADS_1
Lima belas menit berlalu Della telah selesai dari ritual mandinya dan sudah rapi dengan baju tidurnya, Della keluar dari kamar mandi dia mendapati kamar hotel milik mereka dalam keadaan gelap. Della mengedarkan pandangannya kearah rooftop yang disinari Cahaya kemerahan karena lampu dirooftop pun mati diganti dengan cahaya kemerahan yang Della duga itu berasal dari cahaya lilin.
Dengan langkah pelan Della menuju sumber cahaya , sesampainya di rooftop dia dibuat tercegang dengan apa yang ada di hadapannya sebuah meja dengan dua kursi yang diletakkan berhadapan, beberapa lilin diletakkan di lantai dan di pembatas rooftop yang menciptakan suasana romantis beserta taburan bunga mawar yang ikut melengkapi. Di atas meja itu telah tersedia beberapa makanan dan minuman di tengah meja terdapat dua lilin sebagai penerang.
Della berbinar melihat pemandangan yang ada di depannya sekaligus bertanya dalam hati “Apakah Adrian sengaja mempersiapkan ini? Untuk apa dia melakukannya? Merayakan apa?.” Tidak hanya itu Della kembali dibuat terkejut dengan suara Adrian yang memanggilnya dari belakang.
Della berbalik “Terimalah!” seru Adrian menyerahkan sebuket bunga mawar merah “Adrian ini?” tanya Della yang belum mengerti.
Adrian merangkul pinggang sang istri dan menuntunnya rooftop “Dinner” jawab Adrian singkat. Adrian menarik kursi dan mempersilahkan Della untuk duduk sesudah itu dia mengambil posisi duduk di kursi yang satunya.
“Selamat menikmati” ucap pria itu sambil tersenyum. Della masih pada mode bingung, dia hanya diam dan menatap pria yang ada di depannya yang mulai memotong steak. “Untuk apa kamu melakukan ini?”
“Tidak, hanya saja aku merasa bahwa tidak ada sesuatu yang harus kita rayakan ” jelas Della sambil meletakkan bunga mawar yang diberikan suaminya di atas meja, kemudian meraih garpu dan pisau kecil dan mulai memotong steak seperti yang dilakukan Adrian.
“Menciptakan moment romantis tidak harus menunggu ulang tahun atau hari spesial lainnya” ujar Adrian sebelum memasukkan sepotong daging kedalam mulut kemudian menggunyahnya.
“Bukankah harus seperti itu” Della juga mulai menikmati makannya.
“Dell, kebetulan kita lagi liburan jadi gak ada salahnya dong” ucap Adrian.
__ADS_1
Keduanya menikmati makan malam itu sambil mengobrol sesekali tertawa ketika ada hal lucu yang dibahas hingga dinner romantis usai.
“Terima kasih” ucap Della yang kini berdiri menatap keindahan malam kota itu dari rooftop.
“Kamu bahagia?” Tanya Adrian.
“Iya” jawab Della. Detik berikutnya Della dibuat terkejut dengan tangan yang melingkar di perutnya “A-adrian.” Pekik Della kaget.
.
.
.
.
.
Bersambung......
__ADS_1