
"Andre kamu ingin kemana jam segini....?" Raeesah yang melihat Andre yang buru-buru turun menuju pintu depan dengan penampilan yang rapi langsung bertanya.
"Mama" gumam Andre.
"Mau kemana jam segini?" tanya Raeesah lagi.
"N-ngak kok mah Aku cuma mau keluar bentar" jawab Andre.
"Jam segini?" Raeesah masih tidak yakin jika putranya keluar rumah disaat semua orang sudah tertidur.
"Iya"
"Kemana? mama gak suka, kalau kenapa-napa gimana hah...? udah larut juga"
"Ma..... "renggek Andre, dia seperti anak kecil jika sudah berhadapan dengan wanita yang melahirkannya itu.
"Balik ke kamar"
"Ma ban mobil Rika pecah di jalan. Aku mau bantuin dia aku jalan ya ma.... " Andre mengecup pipi Ibunya "Dah mama" ucapnya sambil berlalu.
"Hati-hati, dan pastikan Rika selamat sampai rumah"
"Siap ma" Andre pun masuk kedalam mobilnya lalu melajukan perlahan keluar dari halaman rumah yang cukup luas itu dan mulai melaju membelah jalanan yang sudah tidak padat lagi dikarenakan hari mulai larut.
Sementara di sebuah rumah sakit terbesar yang ada di kota itu seorang wanita dengan setelan jas berwarna putih khas dokter dengan langkah agak tergesa menuju parkiran. Dia ingin segera sampai di mobilnya dan cepat menuju rumah karena sudah tidak nyaman dengan pakaian yang ia kenakan.
"Semoga saja malam ini gak ada yang lahiran" ucapnya karena sudah dua hari ini dia begitu sibuk dengan pasien yang lahiran dikarenakan dokter Anita cuti menikah, dokter Angel sedang sakit dan Adit dokter obygin sekaligus rektor rumah sakit itu sedang menghadiri seminar di luar kota bersama pemilik rumah sakit. Dan sudah dua hari ini doter cantik yang merasa belum cukup berpengalaman itu harus turut mengatasi keluhan pasien seputar kehamilan bahkan harus bersedia melakukan operasi persalinan.
Dia termasuk salah satu dokter baru yang mendapatkan kepercayaan mungkin karena dia termasuk salah satu lulusan terbaik atau karena ayahnya yang bekerja sama dengan pemilik rumah sakit itu.
"Tenang otot, kau akan rileks dan pulih. Sebentar lagi kau akan aku manjakan di air hangat dengan aroma jasmine" ucapnya lalu melajukan mobilnya.
__ADS_1
tringg... tringg....
ponsel yang dia letakkan di dalam tas berbunyi tanda ada panggilan masuk.
Meraih ponselnya dan menggeser ikon berbentuk telpon yang berwarna hijau untuk menerima panggilan masuk. "Hallo Ma...!"
"Halo sayang, kamu dimana nak?, lembur lagi? " tanya sang ibu.
"Gak kok ma ini udah di jalan, kenapa ma?" tanya dokter cantik itu terdengar dari pertanyaan sang ibu tersirat harapan semoga saja sang anak tidak lembur malam ini.
"Enggak tahu kenapa mama pingin makan rujak buah yang dijual di pinggir jal......"
"Mama hamil?" pertanyaan itu langsung dia lontarkan walapun sang ibu belum menyelesaikan kata-katanya.
"Ngawur kamu, gak mungkin".
"Apanya yang gak mungkin mama kan masih sehat dan kuat papa juga jadi aku rasa itu bisa aja".
"Ma selain pingin makan rujak mama pingin apalagi?" tanyanya penasaran.
"Cuma rujak doang, dibanyakinya mangga muda nya" pinta sang ibu antusias.
Semakin yakin saja dokter cantik itu "Mama mual gak?" tanyanya lagi.
"Hmmm"
"Pusing...?"
"Iya"
"Kapan mama terakhir haid?".
__ADS_1
"Lupa, kebanyakan nanya deh cepetan beliin rujaknya mulut mama pahit ni".
"Pasti udah lama kan sampai lupa, lagian jam segini gak ada lagi yang jualan rujak"
"Nithaaaaaaaa....." teriak Ayumi ibunya Nitha " cepetan pulang dan jangan lupa beliin mama rujak buah kalau sampai gak nemu mama kutuk kamu jadi cobek".
"Ma apa-apaan sih " gerutu dokter cantik itu.
"Cepetan" tegasnya lalu mematikan panggilan secara sepihak.
"Huhhhhh" Nitha mendesah frustasi, mobilnya melaju dengan kecepatan normal matanya pun menyelusuri pinggiran jalan mencari gerobak rujak pesanan mamanya.
Ya dia adalah Nitha sahabat Della. Dia yang awalnya berencana untuk melanjutkan studinya di negara kelahiran sang ibu sekaligus menemani neneknya tapi saat sang nenek meminta untuk pindah ke Indonesia dia juga membatalkan rencanannya dan kini dia tengah bertugas di rumah sakit terbesar di kota itu, ibu dan ayahnya pun tidak menolak karena mereka juga berat melepaskan anak semata wayang mereka walaupun itu di negara kelahiran Ayumi sendiri.
Dan kini Nitha tengah menikmati pekerjaan ada rasa yang tak dapat diwakilkan oleh kata-kata ketika melihat pasien-pasiennya tersenyum bahagia.
Tentang rencana melanjutkan studi yang batal ini belum diketahui oleh kedua sahabatnya yaitu Della dan Nadia. Nitha memutuskan untuk mengdatangi rumah Della untuk memberitahu Della dan untuk Nadia, dia berniat mengunjugi Nadia ketika liburan nanti, ya walaupun masih lama.
"Aku gak mau punya adik" ucap Nitha ketika menerima rujak buah yang dia beli, entah kebetulan atau keberuntungan masih ada penjual rujak saat jam sudah menunjukan pukul dua puluh tiga lebih tiga puluh menit.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
TBC