
Pov Della
Saat terbangun dari tidur nerta ku langsung menangkap tubuh suamiku yang sedang tidur pulas di sofa dalam kamar yang kami tempati sejak liburan, sebenarya aku kasihan tapi mau bagaimana lagi, aku benar-benar tidak bisa didekatnya saat ini aroma tubuhnya bikin perutku solah diaduk-aduk, sejenak aku menikmati wajah tampannya lalu beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum melaksanakan sholat shubuh.
Ingin sekali sholatku diimami oleh suamiku tapi aku harus mengubur keinginan itu.
Setelah selesai sholat aku memutuskan untuk keluar kamar, kebetulan Adrian belum bangun dia tidak akan tahu apa yang aku lakukan “sekali aja keluar tanpa izin suami tidak kenapa kan?”. Memutuskan untuk membeli alat itu di apotek depan hotel karena jika aku pesan online takutnya bukan aku yang terima dari kurir malah Adrian.
“Permisi mbak” ucapku ramah.
“Selamat pagi….wah…wah rejeki gue pagi-pagi ketemu yang bening gini.” Celetuk pria yang berdiri di samping wanita yang aku sapa sepertinya dia teman kerja wanita itu di apotek ini.
“Maaf ya mbak teman saya mah begitu gak bisa lihat cewek cantik” jelasnya, aku hanya tersenyum menanggapinya.
__ADS_1
“Mbak cari apa?” tanyanya ramah.
“Test pack?” ya aku mencari test pack untuk memastikan bahwa aku sedang mengandung atau tidak juga telat menstruasi bulan ini awalnya aku pikir efek pil kontrasepsi. Bukan tanpa alasan aku berfikir seperti itu mengingat perubahan hormon dan terlebih kejadian semalam saat aku muntah-muntah di kamar mandi.
“Merek apa mbak?” Senyum manisnya menyertai “Clear blue , sensitif compact, dan HCG” aku memilih beberapa test pack terbaik untuk ku gunakan.
“Totalnya 457.000 mbak” menyerahkan kantong plastik “terima kasih mbak semoga hasilnya memuaskan” ujarnya penuh harap.
“Syukurlah.” mendapati Adrian masih pulas dalam tidurnya “sepertinya dia susah tidur semalam hingga jam segini belum bangun.” Aku pun segera ke kamar mandi.
Dua puluh menit berlalu aku terbelalak saat melihat hasil yang ditunjukan oleh benda kecil itu, entah saat ini aku bahagia atau sedih “Dia..dia hadir disini?” tubuhku seketika merosot ke lantai kamar mandi diiringi air mata yang deras. Aku benar-benar bingung sekaligus takut, kejadian Adrian melemparkan pil kontrasepsi padaku kembali terbayang.
“Kapan pembuahan itu terjadi? Sejak pertama kami melakukan hubungan i**m? tidak mungkin karena beberapa hari sesudah itu aku langsung menstruasi. “apakah ketika dia meniduriku secara paksa saat itu?” Tidak aku tidak dalam masa subur dan aku juga meminum pil kontrasepsi yang Adrian lemparkan. Aku memang menolak meminum pil itu agar tidak terlihat lemah didepan orang yang mencoba menindasku. “Oh Tuhan aku harus apa? takdir apa lagi ini?.” Hiksss…hikss…
__ADS_1
Aku berusaha menenangkan diri, berusaha meyakinkan diri bahwa tidak ada seorangpun yang mau membunuh darah dagingnya sendiri “tapi dia sudah menolak kehadiran seorang anak dari awal” kugigit bibirku menyalurkan sesak dihati, ku raih tiga benda kecil itu menunjukan hasil yang berbeda namun mengarah pada satu kesimpulan yakni hamil bahkan di salah satu benda kecil itu muncul kata pregnant 2-3 sudah selama dia tumbuh dan aku baru tahu pagi ini.
Ceklek…… sial aku tidak menutup pintu kamar mandi, benar-benar gegabah sontak ku umpat tiga benda itu dibelakangku.
“Apa yang terjadi padamu Dell?” tanya Adrian “kamu muntah lagi hum?” tangannya menyibak beberapa helai rambut diwajahku dan menangkup kedua pipiku, buru-buru aku masukan tiga benda kecil itu di saku celana.
.
.
.
Bersambung…..
__ADS_1