
Setelah bisa melarikan diri dari Celvin, Alisha lari terbirit-birit menuju apartemennya dan menguncinya
"Fyuhhhh..... akhirnya aku bisa lepas juga dari pria itu, sepertinya dia melarikan diri dari rumah sakit" ujarnya
Alisha duduk di sofa dan menyalakan televisi untuk menghiburnya, sesaat kemudian ia merogoh saku bajunya dan matanya terbelalak kaget
"Dimana ponselku? setahu aku tadi sudah aku masukkan ke dalam saku" ujarnya takut sambil masih terus meraba sakunya
"Haduh..... bagaimana ini? ponselku hilang, sepertinya jatuh disuatu tempat" ujarnya takut dan mencoba mengingat apa saja yang ia lakukan sedari pagi sampai dengan pria tadi
"Tadi sewaktu aku bersama dengan tuan William aku letakkan di dalam tas........lalu pergi ke kantor dan aku masukkan ke dalam saku celana.......lalu setelah aku di pecat kan ya aku ganti baju aku ingat betul aku sudah memasukkan ponselku ke dalam saku baju....lalu di perjalanan aku bertemu dengan pria itu......lalu.....oh astaga!!!! jangan-jangan ponselku jatuh sewaktu aku melarikan diri darinya" ucapnya kemudian panik di akhir katanya
Alisha panik dan mondar-mandir di depan TV sambil menggigit bibir bawahnya
"Tidak ada cara lain, aku harus mengambil kembali ponselku sebelum orang lain mengambil ponselku" ujarnya lalu pergi lagi ke jalan itu tempat ia dan Celvin tadi bertemu
Sementara itu....
Lita yang sedari tadi mencari Alisha menghampiri resepsionis
"Nona, apakah kau melihat Tara?" tanya Lita
"OB tadi yang dipecat?" tanya balik resepsionis dan mata Lita terbuka lebar
"Apa? dia baru dua hari bekerja, bagaimana mungkin dia bisa dipecat? siapa yang memecatnya?" tanya Lita tak percaya
"Jadi kau tidak tahu ya?" tanya resepsionis dan Lita menggelengkan kepalanya
William yang baru keluar dari ruangannya sambil terus fokus ke ponselnya terhenti saat Lita dan resepsionis itu sedang bergosip, merasa ada yang aneh ia mendengarkan semua gosipan mereka dan menutup wajah dengan koran
"Tadi pagi itu ya Tara kan ya baru selesai mengepel lantai dan sudah memberi pembatas lantai" ujar resepsionis
"Lalu setelah mengepel lantai, ia meminta izinku untuk duduk sebentar di situ" ujarnya lagi sambil menunjuk sofa
"Tak lama kemudian tuan William datang ke tempatku tapi pandangannya ke ponsel jadi dia tidak melihat pembatas lantai yang sudah dibatasi Tara" lanjutnya lagi
"Lalu apakah kaki tuan William sakit akibat terkena pembatas lantai itu?" tebak Lita dengan raut wajah serius
"Kau salah besar, justru tuan William itu melewati pembatas lantai jadi dia tidak menabraknya tapi dia berjalan di samping pembatas lantai itu dan dengan cerobohnya Tara lupa memberi pembatas lantai disitu" ujarnya lagi
__ADS_1
"Lalu apakah tuan William terpeleset?" tebak lagi Lita
"Tidak, aku melihat Tara menarik tangan tuan William dan reflek tubuh Tara jatuh ke sofa itu dan ditindih tuan William" jawab resepsionis
"Apa!!!! bagaimana bisa Tara melakukan itu?" tanya Lita setengah berteriak dan membuat para pegawai yang sedang lewat menatapnya
"Aku rasa Tara melakukan itu agar tuan William tidak terpeleset namun sepertinya tuan William berpikir bahwa Tara sedang mencari kesempatan jadi saat itu juga tuan William sendiri yang memecatnya" ujar resepsionis sedih
Lita terdiam sejenak dan pandangan mata kosong
"Hadeuhhhh.... baru dapat teman baik sudah hilang karena dipecat sekarang pasti dia sedang kebingungan mencari pekerjaan baru, padahal ya dia dan kakaknya baru saja kemarin bekerja" ujar Lita sedih
"Sama aku juga, aku pikir Tara itu berbeda dengan wanita-wanita disini yang selalu mencari cara untuk dekat dengan tuan William tapi tidak untuk dia, semoga saja dia bisa mendapat pekerjaan baru yang layak" doa resepsionis itu diakhir katanya
Jadi dia melakukan itu padaku karena ingin aku tidak terpeleset gumam William dan bangkit dari duduknya
William menghampiri mereka berdua dan mereka berdua langsung terkejut
"Apa kalian mempunyai nomor telepon Tara?" tanya William pada Lita dan resepsionis
"Maafkan kami tuan sudah menggunjing anda" ucap mereka serentak dan membungkukkan badan mereka
Dengan cepat Lita merogoh saku celananya dan mengambil ponselnya namun matanya terbuka lebar sangking terkejutnya
"Ada apa Lita?" tanya resepsionis
"Aku baru melihat sebuah artikel di brows*r tentang pembunuhan sadis di gedung apartemen dekat gedung ini" jawab Lita terbata bata karena ia takut sekali dengan namanya darah
"Siapa nama korbannya dan kapan terjadinya?" tanya William panik
"Kejadiannya tadi pagi dan inisial namanya adalah T tuan, semoga saja bukan Tara" jawab Lita dan berdoa diakhir katanya
William langsung berlari keluar gedung dan masuk ke dalam mobilnya
Apa tuan William tidak jadi meminta nomor ponsel Tara, kemana dia pergi? gumam Lita
Di perjalanan William mengebut menuju gedung apartemen itu dengan mata berkaca-kaca
Aku tidak mau kehilangannya lagi untuk kedua kalinya ujarnya dalam hatinya dan mengusap air matanya
__ADS_1
Sesampainya di gedung apartemen, dia keluar dari mobilnya dan benar saja ada ada beberapa polisi di depan salah satu kamar apartemen
"Apa aku boleh bertanya siapa nama korban?" tanya William menahan tangisnya pada salah satu polisi
"Maaf anda siapanya korban?" tanya polisi
"Saya temannya" jawab asal William
"Korban bernama Tara" jawab polisi itu
Geram dan mata memerah William menarik kerah baju seragam polisi itu
"Kau jangan berbohong atau aku sendiri yang akan melenyapkan mu!" seru William
"Maaf tuan, kami sebagai polisi sudah mengatakan sejujurnya namun jika anda tidak bisa menerima kenyataan itu bukan masalah kami dan soal anda mengancam saya saya bisa saja memenjarakan anda" jawab tegas polisi itu dan melepas cengkraman tangan William
William terdiam sejenak tak menanggapi perkataan polisi itu dan berjalan lesu ke arah mobilnya
Saat ia hendak masuk ke dalam mobilnya ekor matanya menangkap sosok Alisha dari jauh
Entah punya firasat itu adalah Alisha ia langsung menatap sosok itu yang sedang membelakanginya padahal jarak mereka bisa dibilang agak jauh namun yang namanya cinta bisa merasakan pasangan ada dimanapun
"I....itu pasti Tara" ucapnya senang dan menghapus air matanya yang mulai jatuh ke pipinya
Dengan berlari kencang ia menghampiri Alisha
Alisha yang tengah mengedarkan pandangannya melihat tanah mencari ponselnya terkejut saat sepasang tangan perkasa memeluk erat lehernya dari belakang
"Tolong jangan tinggalkan aku" lirih William menangis di belakangnya
Merasa familiar dengan suara itu Alisha melepas pelan pelukan William dan membalikan badannya menghadap William
***PLEASE DUNK JANGAN PELIT NGELIKENYA KALAU BISA COMENT JUGA YA!
KALAU ENGGAK VOTE JUGA ENGGAK APA-YANG PENTING DI LIKE YA!
AUTHOR CAPEK TAHU NGETIKNYA BELUM LAGI BUAT RANCANGAN CERITANYA JADI MOHON DUNK DI LIKE AND COMENT
MAAF YA KALAU BERSIFAT MAKSA TAPI KALAU ENGGAK COMENT JUGA ENGGAK APA-APA YANG PENTING DI LIKE***
__ADS_1