
Alisha kembali duduk di samping William yang tertunduk diam
"Kalau saya tahu sebab tuan William selalu menangis dihadapan saya pasti saya tidak akan bertanya" lirih Alisha dan tertunduk juga
William menoleh kearah Alisha dan tersenyum tipis
"Apa kau mau tahu ceritanya?" tawar William
"Tidak usah tuan, saya tidak ingin tuan tambah sedih" tolak Alisha
"Tidak apa-apa, kau mau dengar tidak?" tanya William
"Hmmmm..... sebenarnya saya penasaran tuan, baiklah saya mau" jawab Alisha dan mengangguk pelan
William menghembuskan nafasnya dan menatap kedepan
"Aku dan Alisha menikah sekitar 6 bulan yang lalu" ujar William memulai ceritanya
Alisha menyimak dan menatap teduh wajah William
"Sebelum kami menikah sebenarnya aku sudah mempunyai rasa padanya saat ia menyelamatkanku dari musuhku" ujarnya lagi
Saat mendengar kelanjutan cerita William, Alisha merasakan sakit kepala namun ia berusaha untuk menahannya dan mendengarkan kembali cerita William
Astaga!!!!! kenapa kepalaku pusing ya? aku harus menahannya, aku ingin mendengar semua cerita tuan William gumam Alisha dan memegang sisi dahinya kemudian menyimak lagi cerita William
"Apa kau tahu Tara? walaupun Alisha memakai pakaian karung ( Muslimah ) ia sangat lincah dan gesit dalam menghadapi musuhku" lanjut William lagi
"Maksud tuan istri tuan William itu seorang muslim ya?" tanya Alisha mencoba untuk tetap menahan rasa sakit kepalanya dan tersenyum tipis
William menoleh kearahnya tersenyum tipis dan mengangguk pelan kemudian menatap lagi kedepan
"Aku membawanya ke rumahku untuk aku pekerjakan sebagai pelayan, tapi keesokan harinya saat ia melakukan tugasnya sebagai pelayan entah kenapa aku jadi marah padanya dan berkata padanya bahwa ia aku pekerjakan sebagai istri" lanjutnya lagi dan tersenyum tipis
__ADS_1
Mendengar itu rasa sakit kepala Alisha semakin terasa namun Alisha tetap menahannya
"Apa kau tahu Tara bagaimana reaksinya saat aku ingin menikahinya? saat ia mendengar penuturanku soal aku mau menikahinya aku lihat tidak ada reaksi terkejut atau marah dari wajahnya, hanyalah raut wajah datar" lanjutnya lagi
"Awalnya ia menolak lamaranku dikarenakan dia beragama Islam sedangkan aku atheis, karena aku tertarik padanya aku memutuskan untuk masuk Islam, mendengar itu akhirnya Alisha setuju untuk menikah dengan ku tapi ia mengajukan syarat" lanjutnya lagi dan terlihat raut wajah sedih dari muka William
"Setelah kami menikah kami lalui hari-hari pernikahan dengan bahagia, dan aku merasa kalau Alisha sudah mulai jatuh cinta padaku tapi ia jarang sekali bersikap manis padaku dan selalu bermuka datar padaku" lanjutnya lagi
Astaga!!!! kenapa rasa sakit kepala ku makin lama makin sakit ya gumam Alisha dan memegang kepalanya tapi William tidak melihatnya
"Hingga pada suatu hari saat ia mengetahui aku berbohong ia sangat marah padaku dan pergi meninggalkanku" ujar William dan menahan tangisnya
"Hari-hari aku lalui dengan murung dan berdiam didalam kamar setelah kepergian Alisha namun saat aku melihat berita di televisi aku........ eh Tara kau kenapa?" ujar William terhenti bercerita saat kepala Alisha mendarat di bahunya dan matanya tertutup
"Tara....Tara....bangun, kau kenapa?" seru William dan beberapa kali menepuk pelan pipi Alisha yang tak sadarkan diri
Sepertinya Tara pingsan, aku harus membawanya ke rumah sakit sekarang gumam William
William langsung menggendong Alisha keluar apartemen tak lupa ia membawa kunci mobilnya yang ia letakkan di atas meja
Didalam lift, William terus melihat wajah Alisha yang pucat pasi dan tanpa sadar air matanya jatuh mengenai pipi Alisha
"Tara..... sadarlah, aku tidak mau kehilangan dirimu" mohon William dan menggoyangkan badan Alisha dan menangis
Lift terbuka dan William langsung berlari keluar apartemen menuju mobilnya dan membuka pintu mobil kemudian memasukkan Alisha kedalamnya
Setelah memasukkan Alisha, barulah ia masuk kedalam mobil di pintu satunya dan mobil pun melaju menuju rumah sakit terdekat
Begitu sampai di rumah sakit, William langsung turun dan membuka pintu mobil dekat Alisha dan menurunkannya kemudian berlari masuk kedalam rumah sakit
( William sama sekali tidak peduli dengan keadaannya yang hanya memakai kaos dan celana pendek apalagi pintu mobil mewahnya yang terbuka lebar setelah ia keluarkan Alisha, yang ia pikirkan sekarang adalah Tara ( Alisha ) )
"DOKTER!!!!!!!" teriak William hingga semua orang yang sedang berada di lobi rumah sakit menatapnya tapi karena mereka tahu siapa dan apa status William di kota ini mereka hanya bisa diam
__ADS_1
Tak berapa lama seorang dokter datang
"KAU PERIKSA DIA SEKARANG, INGAT JANGAN SAMPAI TERJADI APA-APA PADANYA ATAU KALAU TIDAK HABIS RIWAYATMU DAN RUMAH SAKIT INI" teriak William dan mencengkram kuat kerah baju dokter itu
Dokter mengangguk pelan takut-takut dan William melepas cengkraman nya dan semua perawat mengambil ranjang dorong dan meletakkan Alisha diatasnya kemudian menggiringnya masuk kedalam ruang ICU
William yang melihat Alisha digiring para perawat dan dokter masuk kedalam ruang ICU panik
"Aku harus menghubungi Daren" ujarnya dan mengubungi Daren
"Daren, sekarang ke rumah sakit!!!" perintah William dan menutup teleponnya
Ada apa dengan William, kenapa dia memintaku datang ke rumah sakit?? apa dia sedang dirawat disana?? oh tidak.... aku harus ke sana secepatnya gumam Daren panik di rumahnya dan dengan cepat ia menyambar kunci mobilnya pergi ke rumah sakit
William yang tengah mondar-mandir di depan ruangan ICU sembari mengacak-acak rambutnya dikejutkan oleh kedatangan Daren
"Will, kau tidak apa-apa?" seru Daren yang baru datang dan memegang kedua bahu William
"Aaaaku tidak apa-apa, tapi Tara yang ada apa-apa" jawab William dan mulai menangis lagi
"Memangnya dia kenapa dan bagiamana kau bisa bersama dengannya" tanya Daren
"Ttttadi siang aku singgah ke apartemennya sampai malam ini, tapi tadi saat aku bercerita tentang Alisha dia malah pingsan" jawab William terisak-isak
Apa pingsan?? kenapa Tara pingsan ya tanpa ada alasan? gumam Daren bertanya-tanya dalam hatinya
"Daren, aku tidak mau sesuatu terjadi pada Tara tolong kau perbuat sesuatu" mohon William dan memeluk sahabatnya itu
"Iya William, kita dengar saja nanti ucapan dokter tentang Tara tolong kau jangan menangis lagi" jawab Daren dan mengelus rambut William
***PLEASE DUNK JANGAN PELIT NGELIKENYA KALAU BISA COMENT JUGA YA!
KALAU ENGGAK VOTE JUGA ENGGAK APA-YANG PENTING DI LIKE YA!
__ADS_1
AUTHOR CAPEK TAHU NGETIKNYA BELUM LAGI BUAT RANCANGAN CERITANYA JADI MOHON DUNK DI LIKE AND COMENT
MAAF YA KALAU BERSIFAT MAKSA TAPI KALAU ENGGAK COMENT JUGA ENGGAK APA-APA YANG PENTING DI LIKE***