
Camelia Eren?
Kimberly seperti tidak asing dengan nama itu. Ia mencoba mengingat kembali nama seseorang yang mungkin saja ia kenal.
Tapi Kimberly sama sekali tidak mengingat apapun.
Karena rasa penasarannya, ia berniat untuk menghampiri petugas administrasi dan akan menanyakannya secara langsung. Namun ketika kakinya hendak melangkah, terdengar suara seseorang yang memanggil namanya.
" Nyonya Kimberly Maurer "
Kimberly pun menoleh dan mendapati dokter Frisly yang sedang berjalan menghampirinya.
" Maaf saya sedikit terlambat, ada urusan yang harus saya tangani dulu. Kalau begitu, kita langsung masuk saja ke dalam ruangan saya. " Ucap dokter Frisly dan mengajak Kimberly menuju ruangannya.
" Eu... Oke. " Ucapnya sambil menoleh ke arah meja adminsitrasi tadi.
Kimberly akhirnya memutuskan untuk menanyakannya nanti, setelah ia selesai melakukan pemeriksaan dengan dokter Frisly.
Bela berjalan dengan kesal menuju teras belakang rumah. Ia kecewa karena Xavier tidak mengizinkannya untuk membereskan kamar pria itu, dan malah menyuruhnya memanggil pelayan wanita yang lain.
" Ihhh... Apa aku kurang cantik? Sampai dia mengusir ku seperti itu. Menyebalkan! " Oceh nya sambil menghentakkan kaki.
Cla yang sedang membersihkan jendela di teras belakang, hanya menatapnya acuh. Lalu Bela pun menghampirinya dengan kesal.
" Cla! Kamu di suruh tuan Xavier datang ke kamarnya. " Ucap Bela sambil merenggut
" Apa? Ke kamarnya? Untuk apa? " Tanyanya menatap Bela dengan alis yang bertaut
" Dia menyuruh kamu untuk membereskan kamarnya! " Jelas Bela
" Membereskan kamarnya? Aku tidak mau! " Jawab Cla acuh, dan tetap membersihkan jendela yang ada di hadapannya.
" Ih.. Kamu harus kesana! Kalau tidak, nanti dia mengira aku tidak menyampaikannya padamu. " Ucap Bela sambil mengambil alat pembersih jendela dari tangan Cla.
" Aku bilang tidak mau! Kamu saja yang bereskan sana! " Ucap Cla mulai emosi dan merebut kembali alat pembersih kaca itu dari tangan Bela.
" Ih... Tapi dia mau kamu yang membereskannya.. Cepat sana! " Usir Bela pada Cla dan mengambil kembali alat itu dari tangan Cla.
Bela pun menggantikan Cla membersihkan jendela itu. Namun tak lama berselang, Bela kembali menoleh dan mendapati Cla hanya berdiri diam ditempat nya.
" Kok masih disini sih?? Cepat ke kamar tuan Xavier sekarang! " Usir nya pada Cla.
Karena dilihatnya Cla yang hanya diam saja dan tidak mau bergerak. Bela pun akhirnya berinisiatif untuk mendorong tubuh Cla menuju kamar Xavier. Cla yang tidak mampu menahan dorongan dari Bela pun akhirnya menyerah juga.
" Oke oke.. Aku kesana sekarang! Tidak usah mendorong ku begitu, sakit tau! " Omelnya pada Bela. Dan dengan sangat terpaksa ia pun berjalan gontai menuju kamar Xavier.
__ADS_1
Sesampainya di depan kamar Xavier, Cla memejamkan matanya sejenak dan mengambil nafas dalam-dalam agar ia bisa menahan emosinya saat bertemu dengan Xavier nanti.
Tok tok tok
Cla mengetuk pintu kamar Xavier. Namun tidak ada jawaban dari dalam. Ia pun mencoba mengetuk pintunya sekali lagi, tapi tetap tidak ada jawaban dari dalam kamar. Akhirnya Cla pun mencoba menarik handle pintu itu, dan ternyata pintunya tidak terkunci.
Mungkin si Xavier itu tidak ada di dalam, pikirnya.
Akhirnya Cla memutuskan untuk masuk ke dalam kamar itu. Dan saat kakinya melangkah masuk ke dalam kamar, matanya langsung terbelalak melihat pemandangan yang ada di hadapannya.
" APA-APAAN INI??! " teriaknya saat melihat kamar Xavier yang sangat berantakan.
" Ini kamar atau kapal pecah hah!!! " Gerutunya, ia tidak menyangka jika kamar Xavier se berantakan ini.
Buku berserakan di mana-mana, pakaian di dalam lemari berantakan, sprei di kasur pun sudah acak-acakan tak terbentuk, dan juga banyak sampah yang bertebaran dimana-mana.
" Dia pasti mau mengerjai ku.. DASAR XAVIER S*ALAN!!! " Teriaknya lagi
Tiba-tiba....
" Bisakah tidak berteriak-teriak di kamar orang lain? "
Cla terperanjat kaget saat mendengar suara seseorang. Dan saat ia menoleh pada sumber suara itu, Cla dikejutkan dengan pemandangan yang ada di hadapannya.
" AAAARRGGGGHHHH!!! " teriak Cla sambil memutar badan dan menutup matanya.
Bagaimana Cla tidak kaget. Ia melihat Xavier keluar dari kamar mandi dengan bertelanjang dada dan hanya mengenakan handuk kecil di pinggangnya.
" Lagian kamu. Kenapa masuk ke kamar orang tidak ketuk pintu dulu? " Ucap Xavier santai sambil mengambil pakaian dan celananya di dalam lemari.
" Aku sudah mengetuk pintu daritadi! Tapi tidak ada yang menyaut, jadi aku langsung masuk. Lagian kenapa pintunya tidak di kunci kalau sedang mandi hah?!! " Omel Cla sambil tetap menutup matanya dengan tangan.
Xavier pun langsung mengenakan pakaian nya.
" Ya sudah... kamu boleh membuka mata sekarang. Aku sudah selesai memakai pakaian. " Ucap Xavier setelah selesai memakai pakaian nya dengan lengkap.
Cla langsung membuka matanya. Ia berbalik dan menatap Xavier dengan tatapan yang menyeramkan.
" Kamu sengaja ya melakukan itu! " Tuduh nya pada Xavier
" Sengaja? Sengaja apanya? Memang aku sedang mandi dari tadi. Mungkin aku lupa mengunci pintunya. Jadi tidak tau, kalau ternyata ada orang yang masuk ke kamarku. " Jelas Xavier santai
" Lalu, kenapa kamu menyuruhku membereskan kamarmu hah? Kenapa bukan pelayan yang lain saja?! " Tanya Cla yang masih emosi dengan Xavier.
" Terserah aku dong mau menyuruh siapa saja. Aku kan 'MAJIKANMU'? " Ucap Xavier sambil menunjukan smirk nya pada Cla.
__ADS_1
Ah s*al... Cla lupa jika Xavier adalah majikannya.
Cla pun hanya bisa menggerutu menghadapi kenyataan, jika ia hanya seorang pelayan di rumah ini.
" Maafkan saya tuan.. sudah lancang meneriaki anda. " Ucapnya hanya bisa menunduk sambil berusaha menahan emosi yang masih ada di dalam hatinya.
Xavier tersenyum saat melihat sikap Cla yang berubah 180 derajat dibandingkan dengan sikapnya tadi yang selalu meriakinya.
" Oke aku maafkan. Asal sekarang kamu bereskan kamarku ini sampai bersih dan rapih seperti semula. " Ucapnya sambil tersenyum manis ke arah Cla.
Cla hanya bisa menarik nafasnya pasrah. Ia tidak mungkin menolak perintah dari 'majikannya' ini.
Dan dengan terpaksa ia membereskan kamar Xavier yang sudah seperti kapal pecah ini. Entah kenapa kamar ini bisa begitu sangat berantakan.
Apa kamar ini habis terkena gempa bumi yang sangat dahsyat?, batinnya.
Xavier memperhatikan Cla yang sedang membersihkan kamarnya dengan wajah yang merengut. Entah kenapa ia sangat menyukai wajah Cla yang jutek dan galak seperti tadi.
" Apakah anda akan tetap duduk manis disana dan memperhatikan saya yang sedang bekerja tuan? " Tanya Cla pada Xavier yang hanya duduk manis di sofa kamarnya, sambil terus memperhatikan Cla yang sedang bekerja.
" Memangnya kenapa? Aku hanya memastikan apakah kamu membersihkan kamarku dengan benar atau tidak. Bukan masalah kan? " Jawabnya enteng
S*alan... Kalau bukan karena balas dendam ini, aku tidak sudi satu ruangan dengannya! Apalagi sampai membersihkan kamarnya ini.!
Ucap Cla dalam hati, ia benar-benar ingin sekali memukul wajah Xavier yang menyebalkan itu.
Cla dengan cepat mengerjakan pekerjaannya, ia benar-benar sudah tidak betah berada satu ruangan dengan Xavier. Ia pun menoleh kesal ke arah Xavier yang hanya duduk manis di sofanya sambil membaca sebuah buku.
Saat Cla sedang fokus pada pekerjaannya, tiba-tiba ponsel yang ada di saku rok nya bergetar. Siapa yang menelfon? Pikirnya. Setau Cla, ia tidak pernah memberikan nomer ponsel nya kepada siapa pun termasuk sahabatnya Moana. Cla hanya pernah menggunakan nomer ponsel ini untuk menelfon pihak rumah sakit tempat ibunya di rawat.
Rumah sakit???
Seketika Cla menghentikan pekerjaannya. Ia menoleh ke arah Xavier sebentar, untuk memastikan bahwa Xavier tidak sedang memperhatikan dirinya.
Saat dilihatnya Xavier yang masih fokus membaca buku di tangannya, ia segera berjalan pelan masuk ke dalam kamar mandi dan mengeluarkan ponsel itu dari dalam saku rok nya.
" Halo " Serunya cepat saat mengangkat panggilan itu.
" ( Apa benar ini nona Claresta Eren, anak dari pasien koma yang bernama Camelia Eren?) " seru seseorang di sebrang sana.
" Iya benar saya Claresta. Apa ada sesuatu yang terjadi pada ibu saya? " Ucap Cla yang mulai panik saat mengetahui pihak rumah sakitlah yang menelfon nya.
" ( Maaf nona.. Kami ingin menanyakan perihal biaya perawatan nyonya Camelia. Disini tercatat bahwa pasien tersebut belum membayar biaya perawatannya selama dirawat diruang ICU. Yang baru dilunasi hanya biaya perawatan pasien sewaktu di ruang rawat saja. Sedangkan biaya yang lainnya belum anda selesaikan. Jadi kami meminta anda untuk segera datang ke rumah sakit dan membereskan masalah administrasi pasien. Karena jika tidak dilunasi hari ini.. dengan berat hati kami harus melepaskan alat medis yang digunakan oleh pasien.) "
" APA?! Dilepaskan??? "
__ADS_1
Bersambung~