Takdir Yang Tak Terduga

Takdir Yang Tak Terduga
Part 49


__ADS_3

Sofi terus mengetuk pintu kamar Bela. Namun sepertinya si pemilik kamar tidak mau membukakan pintu nya sama sekali.


" Bela! Buka pintunya! " Teriak Sofi


Ia kemudian mengeluarkan ponsel dari dalam saku blazer nya, dan mencoba menghubungi Bela. Namun Bela tetap saja tidak mau mengangkat panggilannya.


" Bela, buka pintunya! Kamu kenapa hah?! Bahkan sejak kemarin kamu tidak keluar dari kamar sama sekali! " Ucap Sofi frustasi


Sofi kemudian pergi ke ruangannya dan mencari kunci cadangan yang ada didalam laci meja kerjanya. Setelah menemukan kunci itu, Sofi kembali ke kamar Bela dan mencoba membuka pintu itu dengan kunci cadangan yang ada di tangannya.


Cekrek


Akhirnya pintu itu pun terbuka. Sofi dengan cepat masuk ke dalam kamar Bela. Di sana ia melihat Bela sedang duduk termenung, sambil menatap keluar jendela dengan tatapan yang kosong.


" Bela.. " Panggil Sofi pada anaknya


Bela masih saja terdiam dan tidak menoleh sama sekali.


" Bela sayang.. Kamu kenapa hah? Dari kemarin kamu hanya mengurung diri di dalam kamar seharian. Bahkan mamah mencoba menghubungimu, tapi kamu tidak mengangkat telpon nya sama sekali. Ada apa sayang? Apa kamu ada masalah? Ceritakan pada mamah. Jangan hanya berdiam diri seperti ini. " Ucap Sofi mulai melembut


Tiba-tiba Bela meneteskan air matanya dan terisak dalam diam.


" Kamu kenapa sayang? Kenapa kamu menangis seperti ini?! " Ucap Sofi mulai panik saat melihat Bela tiba-tiba menangis


" Semuanya sudah berakhir mah.. Sudah berakhir... Hiks.. " Ucapnya sambil menangis


" Berakhir apa maksudmu hah? " Tanya Sofi tidak mengerti


" Xavier... Dia pasti sekarang sangat jijik padaku hiks.. Dan dia juga pasti sangat membenciku karena kejadian malam itu. " Ucap Bela sambil terus menangis


" Kejadian apa maksudmu? Mamah tidak mengerti. Lagipula, kenapa Xavier harus merasa jijik padamu?! " Tanya Sofi yang semakin tidak mengerti dengan ucapan Bela


" Malam itu.. Aku menaruh obat perangsang di dalam minuman Xavier.. " Ucap Bela pelan


" Apa?!! Obat perangsang?! " Kaget Sofi


" Lalu setelah obat itu mulai bereaksi, aku datang ke kamarnya dan menggodanya.. Bahkan aku sudah memberikan tubuhku ini padanya.. Tapi dia justru.. Dia justru mendorong ku dan mengusir ku... Hiks.. Hiks... " Ucap Bela sambil menangis dengan kencang


" Apa?! Jadi.. Jadi kamu tetap melakukan rencanamu itu meskipun aku sudah melarangnya?! " Teriak Sofi tak percaya


" Aku pikir rencanaku ini akan berhasil mah. Bahkan aku sudah memberinya obat perangsang dengan dosis yang sangat tinggi. Tapi ternyata dia tetap tidak tergoda padaku. Walaupun awalnya Xavier luluh dengan rayuan ku, tapi dia tetap mencoba menyadarkan dirinya dan malah mendorong ku dengan kuat sampai aku terjatuh! " Ucap Bela frustasi


" Dasar bodoh! Kamu memang benar-benar bodoh! " Teriak Sofi frustasi.


Bela semakin menangis mendengar ucapan Sofi.


" Otak mu itu dimana hah?! Kalau memang kamu sudah memberikan dia obat perangsang dengan dosis yang sangat tinggi, seharusnya dia sudah tergoda padamu! Tidak mungkin dia akan menolakmu. Kamu nya saja yang bodoh dan tidak bisa merayunya dengan benar! Bahkan dari semua rencana yang sudah mamah susun untukmu, kamu sama sekali tidak pernah berhasil melakukannya dengan benar! " Bentak Sofi pada Bela


" Aku sudah berusaha mah! Bahkan saat dia mulai menolak ku, aku tetap mendekatinya dan terus merayunya. Tapi setelah itu, dia malah mendorong ku dan berlari keluar dari kamarnya! " Ucap Bela emosi


" Keluar dari kamarnya? " Tanya Sofi


" Iya. Bahkan setelah berjam-jam aku menunggu Xavier di dalam kamarnya, dia sama sekali tidak kembali. " Jawab Bela


" Berarti dia tidur dimana malam itu? " Tanya Sofi pada Bela


" Mana aku tahu! " Ucap Bela emosi


" Seharusnya efek obat perangsang itu tidak mudah untuk dihentikan kalau belum tersalurkan. Xavier adalah laki-laki yang normal, dan dia tidak mungkin mampu menahan efek gejolak dari obat itu. Kalau dia selama itu tidak kembali ke kamarnya, berarti dia tidur di kamar lain. " Ucap Sofi


" Maksud mamah? " Tanya Bela tidak mengerti

__ADS_1


" Apa jangan-jangan malam itu, dia tidur di kamar... " Sofi menghentikan ucapannya. Tiba-tiba ia teringat dengan jam tangan milik Xavier yang ia temukan di dalam kamar mandi Cla.


" Apa mereka berdua melakukan nya? Tidak mungkin! " Bisik Sofi sambil mengepalkan tangannya.




Kimberly, Anthony dan Xavier kini sedang menikmati sarapan mereka di meja makan. Setelah sekian lama mereka tidak pernah sarapan bersama, akhirnya hari ini mereka bisa melakukannya lagi.



" Sudah lama ya kita tidak sarapan bersama seperti ini. " Ucap Xavier sambil tersenyum



" Tentu saja. Karena papah mu itu terlalu sibuk dengan pekerjaan nya, sampai-sampai dia jarang meluangkan waktu untuk sekedar sarapan bersama dengan keluarga nya seperti ini. " Ucap Kimberly meledek



" Maafkan papah ya. Mulai saat ini, papah akan berusaha meluangkan waktu untuk keluarga papah. " Ucap Anthony sambil tersenyum



" Tentu saja. Papah jangan terlalu sibuk mengurusi pekerjaan. Papah juga harus memprioritaskan keluarga kecil papah ini. " Ucap Xavier



" Iya sayang " Jawab Anthony pada Xavier




Saat Kimberly sedang fokus dengan kegiatan nya itu, tiba-tiba Sofi datang menghampirinya.



" Selamat pagi nyonya. " Ucap Sofi



" Pagi. Bagaimana? Apa kamu sudah mendapatkan informasi tentang pelayan itu? " Tanya Kimberly



" Belum nyonya. Kemarin saat saya menggeledah kamarnya, saya tidak menemukan apapun di sana. " Jawab Sofi



" Kamu kan bisa mencari informasi tentang gadis itu dari CV lamaran kerjanya. Kenapa malah repot-repot menggeledah kamarnya segala. " Jawab Kimberly



" Saya hanya ingin memastikan saja. Siapa tau dia menyimpan barang atau sesuatu yang mencurigakan di dalam kamarnya. " Ucap Sofi



" Siapa nama lengkap gadis itu? " Tanya Kimberly tiba-tiba


__ADS_1


" Claresta? Aduh saya lupa nama lengkapnya nyonya. Biar saya cek dulu di berkas lamaran kerjanya. " Ucap Sofi sambil hendak berlalu



" Tidak usah! Bawa saja berkas lamaran kerjanya padaku. " Ucap Kimberly



" Baik nyonya " Ucap Sofi



Sofi pun langsung pergi menuju ruang kerjanya. Ia kemudian membuka lemari penyimpanan berkas lamaran kerja para pelayan yang bekerja di rumah ini. Setelah beberapa saat mencari, akhirnya Sofi pun menemukan berkas lamaran kerja milik Claresta.



" Ini dia. Namanya Claresta Eren, sesuai dengan nama yang tercantum dalam KTP nya. " Ucapnya



Sofi lalu segera membawa berkas lamaran kerja milik Claresta itu pada Kimberly. Namun saat ia akan berbelok menuju ruang makan, ia tak sengaja berpapasan dengan Cla. Sofi pun terlihat salah tingkah dan langsung menyembunyikan berkas itu di balik punggungnya.



" Mau kemana kamu?! " Tanyanya pada Cla



" Aku mau membersihkan ruang tengah, hari ini tugasku membersihkan nya. " Jawab Cla



" Oh. Oke, bersihkan dengan benar! " Ucap Sofi



Ia kemudian pergi dari hadapan Cla dengan tergesa-gesa. Setibanya di ruang makan Sofi langsung memberikan berkas itu pada Kimberly.



" Ini nyonya berkas lamaran kerja milik Claresta. " Ucap Sofi



Kimberly lalu mengambil berkas itu dari tangan Sofi dan mulai membaca. Namun baru beberapa detik ia membaca berkas itu, mata nya langsung terbelalak saat melihat nama yang tercantum di sana.



" Claresta Eren??? Tunggu.. Jadi.. Nama lengkap gadis itu.. Claresta Eren?! " Ucapnya terkejut sambil menutup mulutnya dengan tangan



Cla yang kini sedang bersembunyi di balik tembok, mulai tersenyum dengan licik. Ternyata saat Cla berpapasan dengan Sofi tadi, ia merasa sedikit curiga dengan gelagat Sofi. Cla kemudian memutuskan untuk mengikuti Sofi dari belakang.



" Akhirnya.. kamu tau siapa aku yang sebenarnya, Kimberly? " Bisiknya sambil menyeringai



Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2