
Part 6
" Mampus! Pasti kamu akan langsung dipecat oleh nyonya besar karena ketahuan mencuri..!! ” ejek wanita itu dengan suara yang lantang dan wajah yang sangat menyebalkan.
" Siapa yang mencuri hah!! ” Teriak Cla tidak kalah lantangnya dari wanita itu. Dia benar-benar kesal dengan orang yang ada di hadapannya ini. Jika saja dia tidak harus menjaga sikap, mungkin wanita ini sudah ia jambak rambutnya dengan kuat.
Dan tanpa mau berdebat lagi, Cla langsung menyusul Sofi. Cla tidak takut, karena ia sama sekali tidak mengambil barang apapun kemarin. Bahkan melihat kotak itu pun tidak.
Saat memasuki ruang tengah ia sedikit terkejut, karena ternyata semua pelayan yang ada di rumah ini sudah berkumpul disana. Mereka semua tampak ketakutan dan hanya bisa menunduk di hadapan Si nyonya besar Kimberly Maurer. Cla menghembuskan nafasnya secara perlahan dan mulai melangkah menuju sosok wanita yang ditakuti di rumah ini.
" Permisi nyonya... Anda memanggil saya? " Tanya Cla sopan saat berada tepat di belakang Kimberly
Kimberly pun membalikkan badannya. Ia menatap Cla dengan mata yang melotot dan tangan berkacak pinggang. Mungkin jika itu pelayan yang lain, mereka akan mati kutu dan ketakutan saat menatap wajah Kimberly saat ini. Namun berbeda dengan Cla, ia menatap Kimberly dengan wajah datarnya.
" Kamu yang membereskan koper dan baju kotorku kemarin bukan?! Dimana kamu menyembunyikan nya hah..!! Kotak berisi cincin berlian itu! DIMANA.!! Berani sekali kamu mencuri di rumahku S*ALAN..!! " tuduh Kimberly dan berteriak seperti orang gila tepat di depan wajah Cla.
" Saya tidak mencuri apapun nyonya... Bahkan saat saya membersihkan pakaian nyonya, saya tidak melihat sama sekali kotak yang Anda maksud itu. " Ucap Cla setenang dan se sopan mungkin. Walaupun kini di dalam hatinya ia ingin sekali menampar wajah wanita j*lang yang ada di hadapannya ini.
" MANA ADA MALING YANG MENGAKU...!!! " teriaknya lagi, membuat semua pelayan yang ada disana hilang nyali. Bahkan mereka sampai harus menahan nafas saking ketakutannya melihat Kimberly yang sedang mengamuk. Mereka sudah tau jika Kimberly akan menjadi sangat menakutkan jika benda miliknya diambil atau bahkan sampai dicuri oleh orang lain.
" Saya bersumpah nyonya, saya tidak mengambil apapun. Jika anda tidak percaya, kenapa anda tidak memeriksa CCTV di rumah ini saja. Agar anda tau siapa yang mencuri barang milik anda itu. Bukankah ada banyak CCTV di rumah ini? Kenapa anda tidak mencoba memeriksanya sebelum menuduh orang lain? " Jawab Cla dengan wajah lempeng nya.
Emosi Kimberly pun naik tak terbendung. Ia merasa gadis di hadapannya ini sudah berani 'mengajarinya'. Dia paling benci jika seseorang berani melawannya, apalagi hanya seorang pelayan.
Kimberly pun mendekat ke arah Cla dan menoyor kepalanya.
" Heh pelayan s*alan! Beraninya kamu mengajariku HAH..!! ” ia pun mendorong tubuh Cla, hingga Cla terdorong mundur beberapa langkah ke belakang.
" Orang miskin sepertimu pasti sudah terbiasa mencuri.! Dan saat kamu masuk ke rumah ini, pasti kamu sudah mengawasi setiap CCTV di rumah ini!.. Bisa saja kamu mengambil barang itu ditempat yang tidak terjangkau oleh CCTV! Kamu pikir aku tidak tau isi otak kotor seorang pencuri sepertimu hah.!! " Teriaknya lagi
Cla mengepalkan tangannya. Ingin sekali ia meninju wajah wanita di hadapannya ini, dan berteriak padanya jika ia dulu juga telah mencuri sang ayah dari ibunya.
Mencuri seorang suami dari istri sah nya..
Mencuri seorang ayah dari anak kandungnya..
__ADS_1
" Berarti... Seorang pencuri itu kotor kan??? " Jawab Cla, ia mendongak dan menatap tajam tepat pada manik mata Kimberly.
" BERANI SEKALI KAMU HAH !!! ”
Tangan Kimberly pun terangkat hendak menampar wajah Cla. Namun tepat pada saat itu Xavier muncul dan menahan tangan sang ibu.
" MAMAH!!! apa yang mamah lakukan... ” ucap Xavier kepada ibunya. Ia tidak menyangka jika baru saja sang ibu akan menampar seseorang.
" Lepasin mamah! Mamah harus menampar gadis s*alan ini!! Berani-beraninya dia mengajarkan mamah hah. Dia pikir dia siapa??? Hanya orang miskin yang tak tau diri...!! ” ucap Kimberly sambil berteriak dan tetap berusaha untuk menampar Cla yang hanya diam di tempatnya.
Xavier berusaha menahan tubuh ibunya agar ia tidak menyakiti orang lain. Xavier pun menoleh dan baru menyadari jika orang yang ingin ditampar oleh ibunya adalah Claresta.
" Claresta..??? ” panggilnya
Claresta menoleh dan menatap datar wajah Xavier.
" Kamu kenal siapa dia..??!!! ” tanya Kimberly pada Xavier dengan tatapan mengintimidasi.
" Euh... Ya... Dia kan pelayan baru disini mah, kemarin tidak sengaja aku mendengar bu Sofi memanggil namanya... " Jelas Xavier gugup
" Tapi saya tidak mencuri apapun..!! " Teriak Cla
" BOHONG!!! mana ada maling yang mau mengaku hah! Jika maling mengaku penjara pasti penuh..!! " Teriak Kimberly lagi tidak mau kalah
" Sudah mah... Jangan menuduh tanpa bukti begitu... " Ucap Xavier mencoba menenangkan sang ibu.
" Tanpa bukti apanya?! Memang dia yang kemarin membereskan koper mamah, dan kotak cincin berlian mamah ada disitu! Tapi tadi setelah diperiksa kotaknya sudah tidak ada... berarti ada yang mengambilnya kan?! Dan pasti gadis miskin ini yang mengambilnya! siapa lagi kalau bukan dia!! ” teriak Kimberly masih dengan penuh emosi.
" Kalau begitu biar kita periksa saja CCTV di rumah ya mah, biar semuanya jelas dan ada buktinya... " Ucap Xavier setenang mungkin agar ibunya tidak menuduh Cla tanpa bukti.
" Bagaimana kalau dia mengambilnya di tempat yang tidak terpantau CCTV??! Pencuri kan memang pintar melihat situasi..! Tuduh Kimberly lagi kepada Cla.
Cla benar-benar tidak tahan dan muak dengan wanita di hadapannya ini. Ia mengepalkan tangannya kuat dan hendak membalas perkataan Kimberly, sampai tiba-tiba terdengar suara seorang pria menggema di ruangan tersebut.
" ADA APA INI...??! RIBUT DI PAGI BUTA SEPERTI INI!! ”
__ADS_1
Semua orang pun menoleh pada si pemilik suara. Ternyata itu adalah Anthony Maurer yang sudah rapi dengan stelan jas kantornya. Ia menuruni anak tangga sambil membawa sebuah kotak kecil di tangan kirinya.
" Ini yang kamu cari kan..?? ” Ucapnya, dan mengacungkan kotak itu pada Kimberly.
" I... Itu... " Ucap Kimberly sambil menunjuk ke arah kotak di tangan Anthony. Ia pun dengan tergesa mengambil kotak itu dari tangan Anthony dan segera membukanya. Matanya langsung terbelalak kaget, saat dilihatnya ternyata cincin berlian yang ia cari ada di sana.
" Itu kotak cincin yang kamu cari kan??? " Tanya Anthony pada istrinya.
" Ke... Kenapa kotak cincin ini ada padamu??? " Tanya Kimberly
" Bukankah kemarin saat di mobil kamu mengambil kotak itu dari dalam koper mu. Lalu kamu memakai cincin nya, dan berfoto untuk dipamerkan pada teman-teman di media sosialmu. Setelah itu kamu masukan cincin itu pada kotaknya kembali. Tapi kamu lupa untuk memasukkan kotaknya kedalam kopermu lagi. Jadi kotak itu tertinggal di dalam mobil. Dan kemarin malam Rian yang memberikannya kepadaku. Kamu lihat... Supir yang sering kamu hina itu... Dia tidak berniat untuk mengambil atau mencurinya sama sekali. Padahal ada kesempatan untuknya jika saja dia punya niat yang jahat.. Tapi dia tidak melakukannya, karena apa??? Karena dia orang yang baik... " Jelas Anthony
Kimberly pun tertunduk sambil memangku kotak cincinnya itu.
" Sekarang kamu minta maaf pada gadis ini. Dia tidak bersalah sama sekali, tapi kamu sudah menuduh dan menghinanya di depan semua orang seperti ini... " Ucap Anthony sambil menatap Cla yang hanya diam tertunduk.
" Aku??? Minta maaf padanya??? Tidak mau!! ” Ucapnya sambil menatap Cla dengan tatapan antara kesal dan sedikit malu karena sudah salah menuduh orang.
" MINTA MAAF PADANYA SEKARANG! kamu tidak malu sudah menuduh orang tanpa bukti dan membuat kegaduhan di pagi hari seperti ini?! ” teriak Anthony pada istrinya yang keras kepala itu.
Kimberly mengepalkan tangannya, ia tidak sudi jika harus minta maaf pada pelayan kurang ajar seperti Cla. Apalagi harus minta maaf di hadapan semua bawahannya. Lalu dengan cepat ia berbalik dan melangkah menuju tangga.
" KIMBERLY MAURER...!!! " teriak Anthony saat melihat istrinya pergi begitu saja tanpa meminta maaf pada gadis yang sudah ia fitnah tadi. Kimberly pun terus mempercepat langkahnya menaiki tangga tanpa menghiraukan seruan dari suaminya.
Anthony hanya bisa menghembuskan nafas dengan kasar melihat kelakuan istrinya itu. Ia menoleh dan melihat Cla yang masih menunduk.
" Maafkan istri saya yang sudah menuduh kamu... Sekarang kamu bisa kembali bekerja. " Ucapnya pada Cla.
Cla pun mendongakkan kepalanya dan menatap Anthony dengan tatapan yang datar, tepat di manik matanya. Seketika itu, Anthony langsung membelalakkan matanya.
Mata itu???
Ia seperti tidak asing dengan mata dan tatapan itu...
Mata itu mirip seperti...
__ADS_1
Bersambung~