
Flashback~
Hari ini Anthony dan Kimberly sedang pergi ke Australia untuk kunjungan bisnis. Sofi lalu sengaja mengajak anaknya Bela, yang masih berusia 11 tahun untuk datang ke tempat kerjanya. Sofi membawa Bela ke sana agar anaknya itu bisa melihat betapa besar dan mewahnya rumah milik majikannya, Anthony Maurer.
" Bela sayang, kamu liat rumah ini. Rumah ini sangat besar dan mewah. Seperti istana di negeri dongeng yang sering kamu baca itu kan? " Tanya Sofi pada anaknya
" Iya mah, rumahnya bagus dan luasss sekali.. " Ucap Bela kecil dengan antusias.
" Hari ini, karena majikan mamah sedang pergi keluar negeri. Kamu boleh main sepuasnya di dalam rumah ini. Anggap saja rumah ini adalah rumahmu sendiri, oke? " Ucapnya pada Bela
" Benarkah?? Asikkk.. Kalau gitu aku mau keliling dan bermain di rumah ini mah! " Ucap Bela melompat kegirangan.
" Iya silahkan sayang.. Hati-hati ya. " Ucap Sofi sambil mengelus kepala anaknya
Bela pun berlari mengelilingi rumah Anthony dengan girang. Ia mencoba memasuki setiap ruangan yang ada di rumah itu, mulai dari ruang tamu, ruang keluarga, ruang makan, pantry, hingga ke dapur.
Bela kemudian hendak berjalan menuju teras belakang rumah. Namun matanya langsung berbinar saat melihat ada sebuah kolam renang yang sangat besar di bagian belakang rumah itu.
" Wah! kolam renang nya besar sekali.. " Ucap Bela dengan takjub
Bela pun langsung berlari menuju kolam renang. Ia memasukkan kakinya ke dalam air dan mulai bermain air dipinggir kolam itu.
Setelah hampir setengah jam Bela bermain air, ia mulai kelelahan dan memutuskan untuk kembali masuk ke dalam rumah. Ia kemudian membaringkan tubuhnya di salah satu sofa yang ada di ruang tamu bagian belakang.
" Hah... Lelah sekali. Rumah ini begitu besar. Andai saja aku bisa tinggal di rumah ini. Pasti akan sangat menyenangkan. " Ucap Bela kecil
Saat Bela hendak menutup matanya, Tiba-tiba ia mendengar suara langkah kaki yang sedang berjalan menuju ke arahnya.
Tap tap tap
" Siapa kamu? " Ucap seseorang
Bela terlonjak kaget dan langsung bangun dari posisi tidurnya. Ia kemudian menoleh ke arah suara itu. Dan...
Seketika Bela terpana.
Untuk beberapa saat Bela hanya terpaku ditempatnya. Matanya kini terfokus pada sosok anak laki-laki tampan yang sedang berdiri di hadapannya.
" Tuan Xavier? " Panggil Sofi
Sofi pun langsung mendekat ke arah Xavier
" Tuan sudah pulang dari sekolah? " Tanya Sofi pada Xavier
Xavier hanya mengangguk kan kepalanya.
__ADS_1
" Ahiya tuan.. Perkenalkan, ini Bela anak bu Sofi. Hari ini dia sedang libur sekolah, jadi bu Sofi ajak Bela datang kesini. Karena kalau bu Sofi tinggal, Bela tidak ada yang jaga di rumah. Ayahnya sedang ada tugas di luar kota. Jadi.. tuan tidak keberatan kan kalau Bela main kemari? " Ucap Sofi
" Ya sudah. " Ucap Xavier singkat dan langsung melenggang pergi menuju kamarnya.
Mata Bela masih terpaku pada sosok Xavier yang kini sudah menghilang di balik pintu kamarnya.
" Bela? Kamu kenapa? " Tanya Sofi yang melihat Bela masih diam terpaku di tempatnya
" Dia.. Dia siapa mah? " Tanya Bela pada Sofi
" Dia Xavier Maurer, anak dari majikan mamah. Kenapa? Dia tampan kan? " Goda Sofi
" Iya, tampan sekali... " Jawab Bela yang terlihat masih belum mampu mengalihkan pandangannya dari pintu kamar Xavier.
" Kamu menyukai nya? " Tanya Sofi sambil tersenyum geli melihat tingkah anak gadis nya itu.
" Iya. Eh.. Apa? Mamah tanya apa tadi? Maaf mah aku tidak fokus hehe " Jawab Bela sambil tersenyum kaku
" Mm.. Jadi anak gadis mamah ini sedang menyukai seseorang pada pandangan pertama ya.. " Ucap Sofi yang mencoba menggoda anaknya
" Bukan mah.. Mamah apa-apaan sih, kan aku jadi malu " Ucapnya sambil menutup wajahnya yang sudah terlihat memerah.
" Hahaha.. Lucu sekali anak mamah ini " Ucap Sofi sambil mencubit lembut pipi anak gadisnya
" Tidak apa-apa sayang, mamah setuju kok kalau kamu suka dengan tuan Xavier. Tuan Xavier itu kan tampan, dia juga anak yang baik dan pintar. Tentunya yang paling penting.. Jika kamu sudah dewasa nanti, dan kelak menikah dengan tuan Xavier.. kamu bisa menikmati semuaaa kekayaannya dan tinggal di rumah mewah ini. Dan mamah? tentunya akan menjadi bagian dari keluarga Maurer. Bukan sebagai kepala pelayan lagi, tapi sebagai ibu mertua dari Xavier Maurer. Bagus kan? " Ucap Sofi antusias
" Tenang saja sayang.. Mamah pasti akan selalu membantu kamu untuk mendapatkan perhatian dari tuan Xavier. " Ujar Sofi
Dan setelah pertemuan itu, Bela selalu datang berkunjung setiap Anthony dan Kimberly pergi ke luar negeri untuk urusan bisnis. Bahkan ia selalu sengaja berdiam diri di ruang tamu belakang dekat kamar Xavier, agar ia bisa memperhatikan Xavier ketika pulang sekolah. Dan tentunya bisa memandangi wajahnya yang tampan dari kejauhan.
Bela selalu berusaha menyapa Xavier meskipun Xavier tidak pernah membalas sapaan nya. Bela selalu bertekad, suatu saat nanti ia pasti akan mendapatkan hati Xavier dan menjadikannya wanita pilihan Xavier satu-satunya.
Hingga suatu hari, Bela sudah mulai merasa putus asa untuk mendekati Xavier. Karena Xavier selalu bersikap dingin kepadanya.
Namun, saat itu Sofi mempunyai sebuah ide agar Bela bisa selalu dekat dengan Xavier. Ia menjadi kan Bela sebagai pelayan di rumah Anthony dan mulai memberikan sebuah rencana kepada Bela, agar ia bisa mendapatkan Xavier dengan mudah.
Flashback end~
Waktu menunjukkan pukul 10 pagi. Anthony telah tiba di rumah sakit. Ia kini sedang berdiri di depan lift untuk menuju ruang rawat Kimberly yang berada di lantai 4.
__ADS_1
Saat Anthony sedang menunggu pintu lift terbuka, ia tiba-tiba dikejutkan dengan seorang perawat yang sedang berlari dengan panik di koridor. Perawat itu terlihat sedang berlari ke arah seorang dokter yang sedang berjalan di belakang Anthony.
" Dokter gawat! detak jantung pasien koma yang berada di ruang ICU tiba-tiba melemah! " Ucap perawat itu dengan panik
" Kalau begitu siapkan alat pacu jantung sekarang! " Seru dokter itu terlihat ikut panik dan langsung berlari ke arah ruang ICU yang berada di ujung koridor sana.
Anthony memperhatikan nya sejenak, kemudian tak lama pintu lift pun sudah terbuka. Saat ia sudah masuk ke dalam lift, tiba-tiba ia mendengar seorang perawat lain berbicara.
" Tolong segera hubungi keluarga pasien Camelia Eren. Beritahu pada mereka, kalau kini kondisi pasien kembali kritis! "
DEG
Untuk beberapa saat Anthony terpaku, saat perawat itu menyebutkan sebuah nama.
" Apakah aku tidak salah dengar? " Gumamnya
Pintu lift hampir tertutup. Namun dengan cepat Anthony langsung menahan pintu lift itu agar kembali terbuka. Perasaan nya kini campur aduk, ia kemudian memutuskan untuk ke luar dari lift, dan mencoba berjalan perlahan ke arah ruang ICU yang ada di ujung koridor.
Dari tempatnya saat ini, Anthony bisa melihat ketegangan yang terjadi di ujung koridor sana. Entah kenapa kakinya sedikit bergetar saat mendekat ke arah ruang ICU itu. Anthony berharap, ia tadi salah mendengar nama seseorang.
Anthony kini sudah berada tepat di depan pintu ruang ICU. Pintu itu kini terlihat sedikit terbuka, ia mencoba memberanikan diri untuk mengintip melalui celah pintu. Namun belum sempat Anthony mengintip, ia langsung dikejutkan dengan suara nyaring yang terdengar dari dalam ruang ICU.
Tttiiiittttttt...................
__ADS_1
Bersambung~