Takdir Yang Tak Terduga

Takdir Yang Tak Terduga
Part 23


__ADS_3

Ruang ICU itu kini dipenuhi dengan ketegangan. Dokter masih terus mencoba memasangkan alat pacu jantung di dada Camelia. Beberapa perawat yang ada di sana juga masih terus mengontrol monitor yang menunjukkan tanda vital Camelia kini semakin melemah.


Hingga tiba-tiba..


Ttttiiiiitttttttt......


Suara nyaring itu mengagetkan semua orang yang ada di dalam ruangan. Termasuk seseorang yang kini sedang mencoba mengintip melewati celah pintu ruang ICU itu.


Ia kini terpaku di tempatnya. Entah kenapa mendengar suara itu membuat jantungnya kini berdetak dengan kencang.


Anthony memberanikan diri untuk membuka pintu yang ada di hadapannya. Namun saat tangannya sudah mencapai handle pintu, seorang perawat tiba-tiba muncul di belakangnya.


" Maaf tuan. Anda tidak bisa seenaknya masuk ke dalam ruang ICU! " Ucap perawat itu


" Ahiya maaf, tapi saya... "


" Anda siapa? Apa anda keluarga pasien yang ada di dalam? " Perawat itu memotong perkataan Anthony


" Bukan... Saya hanya... "


" Kalau bukan, lebih baik anda jangan berdiri di depan pintu ruang ICU. Anda akan menghalangi jalan perawat yang akan masuk ke dalam! " Ucapnya lagi. Kemudian perawat itu langsung masuk ke dalam dan menutup pintu nya.


Anthony terdiam di tempatnya. Ia hanya ingin memastikan, apakah yang ada di dalam sana adalah Camelia yang dia kenal atau bukan.


Saat Anthony sedang sibuk dengan pikirannya sendiri, tiba-tiba ponsel di saku jas nya bergetar.


Ddrrtt dddrrrttr


Anthony kemudian mengambil ponsel itu dari balik saku jas nya.


" Halo? " Ucapnya


" Halo! Kamu dimana sih? Katanya sudah tiba di rumah sakit, tapi kenapa sampai sekarang belum datang-datang juga! Aku sudah bosan berada di sini. Aku mau pulang sekarang! " Ucap Kimberly di sebrang sana


" Ah.. Iya maaf. Aku sedang menunggu lift, sebentar lagi aku akan sampai kesana. " Ucap Anthony


" Memangnya seberapa lama sih menunggu lift! Kalau lama, kenapa tidak naik tangga saja! " Cecar nya di sebrang sana


" Kamu ini. Mau sakit atau sehat sama saja, selalu marah-marah! Tinggal tunggu sebentar di sana apa susahnya! " Bentaknya


Anthony kemudian menutup telfon itu secara sepihak. Ia kemudian memijit pelipisnya yang tiba-tiba terasa pening. Kimberly benar-benar selalu membuat kepalanya pusing.


Sejenak, ia kembali menatap pintu ruang ICU itu. Hatinya kini mendadak tidak karuan. Ia hanya berharap, semoga seseorang yang kini sedang berada di dalam ruang ICU itu bukanlah orang yang ia kenal di masa lalu.


Kemudian dengan perlahan kakinya berjalan meninggalkan tempat itu. Ia lalu kembali masuk ke dalam lift dan termenung di sana.


" Camelia... Bagaimana kabarmu sekarang? Aku harap, dimanapun kamu berada.. Kamu selalu dalam keadaan yang baik " Doa Anthony dalam hatinya.


Sedangkan kini di dalam ruang ICU itu, perawat yang sedang memantau monitor di samping ranjang mulai menggelengkan kepalanya. Ia kemudian menatap ke arah dokter yang ada di sampingnya.


" Sepertinya sudah tidak ada dok.. " Ucap perawat itu dengan lemah.


Dokter mulai menghembuskan nafasnya.


" Kita coba sekali lagi! " Ucap dokter itu


Ia kemudian kembali menggosokkan alat pacu jantung itu dan menempelkan nya kembali ke dada Camelia. Dokter itu terus mencoba nya berulang kali. Ia berharap, semoga masih ada keajaiban untuk pasien nya ini.


Hingga setelah beberapa kali dokter itu mencoba, tiba-tiba monitor yang tadinya menunjukan garis lurus kini mulai kembali menunjukkan garis yang bergelombang.


Semua orang yang ada di ruangan itu kemudian bernafas dengan lega.


" Syukurlah... Dia masih hidup. " Ucap salah satu perawat yang ada di sana.


Perawat yang lain kemudian mengecek denyut nadi, detak jantung dan semua organ vital lainnya yang terlihat di layar monitor. Mereka tampak terlihat takjub. Monitor itu kembali menunjukan semua organ vital milik Camelia berjalan dengan lancar dan normal.


" Wanita ini benar-benar hebat. Sepertinya.. Keinginan untuk hidupnya sangat kuat. Hampir saja ia kehilangan nyawanya, tapi ternyata Tuhan berkata lain. " Ucap dokter itu


Kemudian setelah selesai memeriksa semuanya, dokter segera ke luar dari ruang ICU itu. Dan beberapa perawat mulai membereskan peralatan medis yang ada di sana.


Hingga tanpa ada satu orang pun yang menyadari.. tiba-tiba jari telunjuk Camelia mulai bergerak secara perlahan.

__ADS_1




Anthony sedang berjalan menuju ruang rawat Kimberly. Lalu ia melihat Xavier baru saja keluar dari ruangan itu.



" Xavier.. Kamu mau kemana? " Tanyanya pada Xavier



" Mamah menyuruhku pulang duluan, katanya dia mau ditemani papah saja. " Jawab Xavier



" Ya sudah, kamu pulang saja dan istirahat di rumah ya. Wajah kamu terlihat lelah. Biar papah saja yang menjaga mamah mu disini. " Ucap Anthony



" Iya pah. Kalau gitu, Xavier pamit pulang dulu ya. " Ucap Xavier



Xavier pun bergegas keluar dari rumah sakit dan memasuki mobilnya. Ia kemudian mengendarai mobilnya dan kembali pulang ke rumah.



Setibanya di rumah, Xavier langsung berjalan menuju kamarnya. Namun saat ia akan membuka pintu kamarnya, Xavier tak sengaja melihat Cla yang sedang membersihkan ruang tamu yang ada di bagian belakang.



Saat Cla menoleh kearah nya, tiba-tiba Xavier menjadi salah tingkah dan langsung memalingkan wajahnya. Cla yang melihat Xavier sedikit gugup saat memandangnya, langsung berbalik ke arah Xavier dan mulai berjalan menghampirinya.



Xavier yang melihat Cla berjalan mendekatinya nya, langsung salah tingkah. Ia kemudian membuka pintu kamarnya. Namun tiba-tiba Cla dengan cepat memanggilnya.




Xavier menoleh, dan menatap Cla yang kini sudah berdiri di hadapannya.



" Kamu kenapa? Wajahmu terlihat lelah, apa kamu baik-baik saja? " Tanya Cla



" Ah.. Iya, aku baik-baik saja " Ucapnya sedikit gugup



Tangan Cla perlahan mulai terangkat, ia kini menyentuh pipi Xavier dengan lembut. Xavier yang terkejut dengan perlakuan Cla hanya mampu terpaku ditempatnya.


Mata mereka saling menatap satu sama lain. Hingga...



" CLARESTA!!! "



Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara seseorang di ujung sana. Cla kemudian menurunkan tangannya. Ia menoleh dan mendapati Sofi yang kini sedang menatapnya dengan tajam. Sofi lalu berjalan ke arah Cla dengan raut wajah yang menyeramkan.



" Berani-berani nya kamu menyentuh tuan Xavier! Kamu pikir kamu itu siapa hah?! Tuan Xavier, maafkan saya. Seharusnya saya lebih keras lagi kepada pelayan ini. Agar dia tidak seenaknya berbuat lancang kepada majikannya. " Ucap Sofi sembari menatap tajam ke arah Cla.


__ADS_1


Cla pun menatap balik Sofi dengan wajah datarnya.



" Tidak apa-apa bu Sofi, Cla hanya membersihkan bekas noda yang ada di wajahku. " Ucap Xavier sambil menatap Cla



" Tapi tidak seharusnya dia berbuat tidak sopan seperti itu tuan. " Ucap Sofi lagi



" Sudah tidak apa-apa bu Sofi, jangan menyalahkan Cla terus. Dia hanya berniat baik, tidak lebih dari itu. " Ujar Xavier



" Baiklah tuan. " Ucap Sofi sambil mendengus



Sofi lalu memperhatikan wajah Xavier yang terlihat sedikit pucat.



" Tuan, apakah anda sedang tidak enak badan? Wajah anda terlihat sedikit pucat. " Ucap Sofi



" Benarkah? Mungkin aku hanya sedikit kurang istirahat, karena menjaga mamah semalam di rumah sakit. " Ucapnya



" Kalau begitu, bu Sofi akan menyuruh Bela untuk membuatkan tuan bubur ayam ya. Bela!! " Ucap Sofi seraya memanggil Bela



Bela pun datang dan menghampiri mereka.



" Iya bu Sofi, anda memanggil saya? " Tanya nya



" Tolong buatkan bubur ayam untuk tuan Xavier ya, sepertinya dia tidak enak badan. " Jelas bu Sofi pada Bela



" Tuan Xavier sakit? Ya ampun.. Wajah tuan pucat sekali. Kalau begitu saya akan segera membuatkan bubur ayam yang spesial untuk tuan ya. " Ucap Bela



Namun saat Bela hendak berbalik untuk membuatkan Xavier bubur, tiba-tiba Xavier menahannya.



" Tidak usah! " Cegah nya pada Bela



" Kenapa tuan? " Tanya Bela bingung



" Aku mau... Claresta yang membuatkan bubur untuk ku! " Ucapnya tiba-tiba sambil menatap Cla dengan lembut



" Apa?!! " Kaget Sofi dan Bela secara bersamaan.


__ADS_1


Bersambung~


__ADS_2