
" Pendarahan? " Tanya Anthony
" Iya. Bukankah selain sakit perut, nyonya Kimberly juga mengalami pendarahan yang hebat? Harusnya bu Sofi juga tau. Karena dia adalah orang pertama yang melihat darah segar itu mengalir di
paha nyonya Kimberly. Apa bu Sofi tidak memberitahunya pada tuan Anthony? " Ucap Cla
Anthony yang mendengar penjelasan Cla mulai merasakan ada yang janggal dengan kondisi Kimberly. Ia jadi teringat kembali dengan perkataan Jason tadi siang. Saat bertemu dengannya di cafe, Jason bilang istrinya sering melihat Kimberly bulak balik ke rumah sakit.
Ada apa dengannya? Batin Anthony
" Kenapa tuan Anthony hanya diam saja? Apa anda tidak percaya dengan ucapan saya ? " Tanya Cla yang melihat Anthony hanya diam dan tidak menanggapi perkataannya.
" Ah.. Bukan.. Bukan begitu. Hanya saja, aku sedikit bingung mendengar penjelasan kamu tadi Claresta. " Ujar Anthony yang memang mulai merasa bingung dengan kondisi Kimberly yang sebenarnya.
" Apakah Anda berfikir saya berbohong? " Tanya Cla pada Anthony
Anthony terdiam
" Ibu saya pernah berkata, ' jika suatu saat nanti ada orang yang mencoba memfitnah mu. Walaupun orang itu mempunyai pangkat dan kedudukan yang tinggi, kamu tetap harus berkata yang sebenarnya. Jangan pernah takut bila kamu tidak berbuat kesalahan. ' Maka dari itu, saya sudah berkata dengan sejujurnya. Anda mau percaya atau tidak, itu terserah anda. " Ucap Cla
" Baiklah... Mungkin ada kesalahan pahaman disini. Kalau begitu aku minta maaf sudah mengganggu waktu istirahat mu Claresta. Sekarang lebih baik kamu kembali ke kamar. Terimakasih karena sudah mau memberikan penjelasan. " Ucap Anthony sambil tersenyum kepada Cla.
Cla terdiam sesaat. Kemudian ia bangkit dari duduknya dan membungkuk ke arah Anthony. Dan tanpa mengucap sepatah kata pun, Cla langsung ke luar dari ruangan itu.
Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Xavier terbangun dari tidurnya. Ia kemudian duduk dan mulai merenggangkan tubuhnya yang terasa pegal akibat tidur di sofa semalaman.
Xavier lalu menatap ke arah ranjang Kimberly. Di sana ia menemukan Kimberly sedang duduk di ranjangnya sambil melamun. Xavier pun bangkit dari duduknya dan menghampiri Kimberly.
" Mamah sudah bangun? " Tanya Xavier pada Kimberly
" Memangnya kamu lihat mamah masih tidur? " Ucapnya dingin kepada Xavier
" Kalau begitu, mamah mau sarapan? Biar aku suapi ya " Ucap Xavier sambil mengambil semangkok bubur yang sudah ada di atas meja.
" Tidak usah! Mamah belum selera makan. " Ucapnya lagi
__ADS_1
Xavier pun dengan kecewa menyimpan mangkok bubur itu kembali ke atas meja.
" Ya sudah kalau mamah belum mau sarapan. Kalau begitu.. Xavier izin keluar dulu sebentar ya mah untuk membeli makanan. " Ucap Xavier
" Hmm " Jawab Kimberly
Xavier pun keluar dari ruang rawat Kimberly. Ia terlihat menghembuskan nafasnya perlahan dan kemudian pergi untuk membeli makanan.
Kimberly masih melamun di tempat tidurnya. Namun tak berapa lama, ia dikejutkan dengan suara ketukan pintu dari luar. Saat Kimberly menoleh, munculah seorang dokter wanita dan satu orang perawat yang masuk ke dalam ruangannya. Dokter wanita itu pun kemudian menghampiri Kimberly di ranjangnya.
" Selamat pagi nyonya Kimberly Maurer. Bagaimana kondisi anda saat ini? Apa masih merasa lemas? " Ujar dokter itu
" Selamat pagi dokter Frisly. Entahlah.. Rasanya badanku saat ini sangat lemas sekali, seperti tak bertenaga. " Jawab Kimberly
Kimberly terdiam, ia hanya menghela nafasnya.
" Saya sudah peringatkan kepada anda nyonya, penyakit anda ini sudah sangat serius. Anda tidak bisa mengabaikan nya terus menerus begitu aja. Jalan satu-satunya hanya dengan melakukan operasi. " Jelas dokter Frisly lagi
" Tapi kalau aku operasi, Anthony pasti akan mengetahui penyakit ku ini. " Ucap Kimberly frustasi
" Akan lebih baik jika suami anda mengetahui penyakit anda sekarang nyonya. Anda sudah memendamnya terlalu lama. " Ucap dokter Frisly
__ADS_1
Kimberly hanya memejamkan matanya. Ia merasa belum siap jika Anthony mengetahui penyakitnya yang sebenarnya. Karena jika Anthony mengetahui penyakitnya ini, maka semua kebohongannya akan segera terbongkar.
Cla sedang berjalan menuju taman belakang rumah. Siang ini pekerjaan nya sedikit longgar, jadi Cla memutuskan untuk menghirup udara segar sebentar dengan datang ke taman belakang untuk sekedar bersantai di sana.
Setelah tiba di sana, Cla langsung duduk di bawah pohon rindang yang ada di taman. Seperti biasa, ia pun menyenderkan tubuhnya pada pohon itu dan mulai memejamkan matanya. Cla menghirup udara sebanyak-banyaknya, dan mulai menikmati setiap hembusan angin yang menerpa wajahnya dengan lembut.
Tiba-tiba wajah Xavier yang sedang tersenyum terlintas di kepalanya. Dan dengan cepat Cla langsung membuka matanya. Kemudian ia menghembuskan nafasnya dengan lega, saat dilihatnya sosok Xavier tidak ada di hadapannya seperti waktu itu.
" Hah... Untunglah dia tidak disini. " Gumamnya
Cla kemudian kembali mencoba memejamkan matanya. Namun tak berselang lama, telinganya seperti mendengar sebuah percakapan seseorang yang tidak jauh dari tempatnya bersantai saat ini.
Cla membuka matanya kembali. Ia mengernyitkan dahinya saat mendengar sebuah suara yang cukup familiar di telinganya. Karena Cla mulai merasa penasaran, ia pun bangkit dan mengintip dari balik pohon untuk mencari tau siapa orang yang sedang berbincang itu.
Lalu tiba-tiba matanya melihat sosok Bela dan Sofi yang sedang berbincang di taman belakang dekat kolam ikan.
" Sedang apa mereka? " Bisik Cla
Cla yang merasa sedikit curiga, mencoba menguping pembicaraan mereka berdua.
" Kenapa setiap rencana yang aku buat untukmu selalu gagal sih? Apakah kamu melakukannya dengan benar? masa setiap mencoba mendekatinya selalu gagal terus. " Ucap Sofi kepada Bela
" Ini semua bukan salahku. Tapi salah strateginya. Dia itu kan orang yang sulit didekati dari dulu. Mana mungkin dia akan tertarik dengan godaan-godaan kecil seperti itu. " Ucap Bela
" Harusnya dia akan tergoda dengan godaan kecil seperti itu. Dia kan laki-laki normal. Mana mungkin dia tidak tergoda dengan wanita cantik dan seksi seperti dirimu. " Ucap Sofi
Cla yang mendengarkan percakapan mereka mulai sedikit bingung.
Siapa yang sedang mereka bicarakan? Pikirnya.
" Aku juga tidak tau. Tapi tenang saja.. Aku masih punya rencana pamungkas untuk mendapatkannya. " Ucap Bela sambil tersenyum licik
" Rencana pamungkas? Rencana apa itu? " Tanya Sofi penasaran
" Lihat saja nanti. Aku yakin.. Rencana ini tidak akan gagal seperti rencana yang sebelumnya. " Ucapnya percaya diri
" Kalau ternyata rencana ini gagal juga seperti kemarin.. bagaimana? Apakah kamu akan terus mengejarnya? " Tanya Sofi
" Kali ini tidak akan gagal. Aku jamin. " Ucap Bela yakin
" Ya terserah padamu saja. Semoga kali ini benar-benar berhasil " Ucap Sofi lagi
" Iya mah. Yang penting, mamah harus selalu membantuku. " Ucap Bela sambil memeluk Sofi dengan manja.
Cla terlihat terkejut mendengar percakapan mereka berdua.
__ADS_1
" Mamah?? Jadi.. Sofi dan Bela adalah... "
Bersambung~