
" APA??! Dilepaskan?!! "
Cla langsung menutup mulutnya, ia takut pembicaraannya di telfon terdengar oleh Xavier.
" Tolong bu... Jangan lepas alat bantu pernafasan ibu saya. Saya akan datang ke rumah sakit hari ini, dan akan membayar biaya administrasinya. " Ucapnya dengan suara yang mulai bergetar.
" (Baik nona, kami tunggu kedatangan anda di rumah sakit segera. Terimakasih) " Sambungnya
Cla menggenggam erat ponsel yang ada di tangannya. Bagaimana ini? Ia harus segera melunasi semua biaya perawatan ibunya di rumah sakit hari ini.
Tiba-tiba Cla teringat, ia masih mempunyai sedikit tabungan di bank. Semoga saja uang itu cukup untuk melunasi semua biaya perawatan ibunya, pikirnya.
Ia pun keluar dari dalam kamar mandi dan menatap Xavier yang masih setia di tempat duduknya.
Hal pertama yang harus Cla lakukan adalah membebaskan diri dari Xavier. Ia harus mencari cara agar bisa terbebas dari tugas yang Xavier berikan kepadanya.
Lalu sebuah ide terlintas dipikirannya.
BRUK..
Cla menjatuhkan dirinya ke lantai dan berakting seolah-olah ia hampir pingsan.
Xavier yang melihat Cla terbaring dilantai langsung panik dan menghampiri nya.
" Claresta!!! Kamu kenapa?? ” Ucapnya panik sambil membantu Cla untuk duduk.
" Sepertinya.... saya kelelahan tuan. Sebenarnya.. dari pagi saya sudah merasa tidak enak badan. Tapi saya memaksakan diri untuk bekerja. " Ucap Cla lemah
" Ya ampun.. Kenapa kamu memaksakan diri seperti ini. Kalau sakit lebih baik istirahat saja. Atau, apa perlu aku antar ke dokter?! " Ucap Xavier merasa khawatir
" Tidak perlu tuan. Mungkin saya hanya perlu minum obat dan beristirahat sebentar di kamar. " Ujar Cla sambil mencoba berdiri dari posisi duduknya.
Xavier pun hendak membantu Cla berdiri namun Cla menolaknya.
" Kalau begitu biar aku antar sampai ke kamarmu ya. " Ucap Xavier lagi
" Tidak usah! " Tolak Cla cepat
" Em.. Maksud saya tidak usah tuan, saya bisa berjalan sendiri ke kamar. Kalau begitu.. Saya pamit ke kamar untuk beristirahat dulu tuan. Permisi. "
Ucapnya, dan berjalan gontai keluar dari kamar Xavier.
Xavier hanya bisa diam melihat kepergian Cla.
Dokter Frisly mempersilahkan Kimberly untuk duduk saat mereka sudah sampai di dalam ruangannya. Ia lalu mengambil sebuah map yang ada di dalam laci meja kerjanya dan mengeluarkan sebuah kertas di dalam map tersebut.
Sejenak matanya fokus membaca tulisan yang ada pada selembar kertas itu. Dan setelah selesai membacanya, ia pun menghela nafas dengan berat.
" Bagaimana nyonya Kimberly? Apakah anda sudah membuat keputusan? Anda sudah tau kan hasil dari pemeriksaan anda 2 bulan yang lalu itu seperti apa? " Tanya dokter Frisly kepada Kimberly yang duduk di hadapannya.
__ADS_1
" Tentu. Aku tau hasilnya. Dan dokter pun pasti sudah tau apa keputusanku. Keputusanku masih tetap sama seperti keputusan yang sebelumnya. " Ucap Kimberly santai
" Tapi nyonya. Anda kan sudah tau konsekuensinya seperti apa? Lebih baik anda ikuti saran saya, ini masih belum terlambat nyonya. " Ucapnya lagi
" Justru karna aku tau, makanya aku tidak mengikuti saranmu dokter. " Ucap Kimberly lagi
Dokter Frisly pun hanya bisa menghembuskan nafasnya. Ia tidak menyangka jika wanita di hadapannya ini mempunyai sifat yang sangat keras kepala.
" Baiklah jika itu keputusan yang sudah anda buat, saya tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Yang terpenting saya sudah menjelaskan semua nya kepada anda. " Ucap dokter Frisly pasrah.
Dan wanita yang ada di hadapannya itu hanya menanggapinya dengan acuh tah acuh.
" TIDAK BOLEH!! " Bentak Sofi kepada Cla
" Tapi bu... Saya mohon. Hanya sebentar saja. Setelah saya selesai mengunjungi saudara saya di rumah sakit, saya akan langsung pulang kembali kesini. Saya janji! " Ucap Cla dengan wajah yang memelas.
Cla memutuskan mendatangi Sofi dan meminta ijin padanya untuk keluar rumah sebentar dengan dalih mengunjungi saudaranya yang sedang dirawat di rumah sakit. Namun ternyata tidak semudah yang ia bayangkan. Sofi tidak mengijinkan nya untuk keluar dari rumah.
" Tapi bu, ini benar-benar urgen. Saya janji tidak akan lama. Setelah itu saya akan langsung pulang kembali kesini. " Mohon Cla sekali lagi
" Kamu pikir kamu ini siapa hah?! Bisa seenaknya keluar masuk rumah ini. Sekali tidak tetap tidak! Berani kamu keluar dari sini, maka saya tidak akan pernah menerima kamu bekerja di rumah ini!! " Ancam nya dan langsung pergi meninggalkan Cla.
" Dasar nenek lampir! " Umpat nya
Cla pun bingung memikirkan cara untuk bisa keluar dari rumah ini. Ia harus segera ke rumah sakit sekarang, jika tidak maka alat medis untuk ibunya akan dilepas oleh pihak rumah sakit.
Lalu saat Cla sedang berjalan gontai melewati pintu utama, ia melihat sebuah mobil sport berwarna biru sedang terparkir di sana. Seingatnya mobil itu adalah milik Xavier.
Apakah Xavier akan pergi keluar? Pikirnya.
Tiba-tiba sebuah ide gila muncul di benaknya.
Cla langsung mengawasi keadaan sekitar. Dilihatnya tidak ada siapa pun yang sedang berada di sana. Ia dengan pelan-pelan berjalan mendekati mobil itu.
Cla mencoba membuka pintu bagian belakang mobil, dan ternyata pintunya terbuka. Lalu tanpa menunggu lama, ia langsung masuk kedalam mobil Xavier dan bersembunyi di bawah jok mobil belakang.
Tak berselang lama, Xavier pun keluar dari rumah dan langsung masuk ke dalam mobilnya. Ia duduk di kursi kemudi, dan mulai menjalankan mobilnya keluar dari halaman rumah.
Cla menghela nafasnya lega saat mobil Xavier sudah berhasil keluar dari gerbang rumah itu.
Mobil sport berwarna biru itu pun melaju cukup kencang di tengah jalanan kota. Setelah beberapa saat, Cla mencoba mengintip melalui jendela untuk mengetahui kemana arah jalan yang dilalui Xavier.
Dan ternyata tempat yang Xavier tuju searah dengan jalan menuju ke rumah sakit tempat ibunya di rawat.
Cla pun mulai berfikir bagaimana caranya agar ia bisa keluar dari mobil ini dan pergi menuju ke rumah sakit.
__ADS_1
Tanpa diduga, mobil Xavier menepi di sebuah minimarket yang berada di pinggir jalan. Xavier terlihat keluar dari mobil dan masuk ke dalam minimarket tersebut. Cla yang melihatnya pun langsung bernafas dengan lega.
Ia lalu mencoba membuka pintu mobil Xavier, dan ternyata pintu itu terbuka.
Tanpa menunggu lama, Cla langsung bergegas keluar dari sana dan berniat mencari sebuah taxi untuk mengantarnya menuju ke rumah sakit.
Namun saat Cla hendak menghentikan sebuah taxi, ia terkejut karena melihat rumah sakit yang ingin ia tuju ternyata hanya berjarak beberapa meter lagi dari posisinya berdiri saat ini. Cla yang sedikit bingung mencoba memperhatikan tempat disekitarnya. Ternyata Cla baru menyadari bahwa ia dari tadi sudah berada di wilayah sekitar rumah sakit tempat ibunya di rawat.
Cla pun bergegas berlari menuju ke rumah sakit. Sesampainya di sana Cla langsung menghampiri petugas administrasi.
" Permisi, selamat siang. Saya Claresta anak dari pasien yang bernama Camelia Eren. Tadi saya di telfon oleh pihak rumah sakit mengenai biaya perawatan ibu saya. Kalau boleh tau, berapa biaya yang harus saya lunasi? " Tanyanya
" Oh tunggu sebentar ya nona, saya cek dulu. " Ucap petugas administrasi itu sambil melihat layar komputer yang ada di hadapannya.
" Biaya yang harus dilunasi untuk saat ini sekitar 85 juta nona. "
" Apa?!! 85 juta??? Apa tidak salah bu? " Ucap Cla tercengang dengan biaya yang harus ia bayar.
" Betul nona, semua biaya nya sudah sesuai dengan alat medis yang memang harus digunakan oleh pasien. " Terang petugas itu lagi.
Cla dengan tangan yang sedikit gemetar mengambil sesuatu didalam saku rok nya. Lalu memberikannya kepada petugas administrasi yang ada di hadapannya.
" Saya punya tabungan disini. Saya tidak yakin apakah uang ini cukup atau tidak. Bisakah anda mengeceknya dulu? " Ucap Cla sambil memberikan sebuah kartu kepada petugas itu.
" Baik nona sebentar ya saya cek dulu. "
Dan petugas administrasi pun mencoba mengecek kartu yang diberikan Cla tadi.
" Maaf nona, saldonya bahkan tidak sampai 10 juta. Jadi uang ini belum cukup untuk melunasi biaya rumah sakit nyonya Camelia. " Ungkap petugas itu dan memberikan kartunya kembali kepada Cla.
" Tapi bu... Tolong beri saya waktu.. Saya janji akan melunasi nya secepat mungkin.. " Ucap Cla dengan wajah yang memelas.
" Maaf nona, ini sudah termasuk tenggang waktu. Kami bahkan sudah memberikan keringanan untuk anda, dengan tidak langsung meminta biayanya pada saat pasien pertama kali masuk ke ruang ICU. Jadi dengan sangat berat hati, jika anda masih belum bisa melunasi nya hari ini. Kemungkinan kami akan melepaskan alat medis pasien. " Jelas nya
" Jangan bu! Saya mohon jangan lepas alat medisnya.. Ibu saya sangat membutuhkan alat itu untuk bertahan hidup.. " Ucap Cla sambil menahan tangisnya.
Cla sekarang benar-benar merasa putus asa. Ia tidak tau lagi harus kemana untuk mendapatkan sisa uangnya.
Apakah ia harus meminjam uang ke bank?
Atau...
Haruskah ia terpaksa meminjam uang kepada lintah darat?
Saat Cla sedang berkelut dengan pikirannya,
Tiba-tiba...
" Saya yang akan melunasi semua biaya perawatan nya!! "
Cla dikejutkan dengan suara seseorang yang berada di belakangnya.
Ia pun menoleh kebelakang.
Dan betapa terkejutnya Cla saat mengetahui orang itu adalah...
Bersambung~
__ADS_1