Takdir Yang Tak Terduga

Takdir Yang Tak Terduga
Part 24


__ADS_3

Ruang ICU itu kembali terlihat sunyi. Di ruangan itu kini hanya terdengar suara detak jantung yang berasal dari mesin monitor yang ada di samping ranjang.


Camelia masih terbaring lemah di sana. Ia masih belum mau terbangun dari tidur panjangnya.


Namun, tak ada satu orang pun yang tau.. Apa yang sedang ia rasakan kini. Di bawah alam sadarnya, mungkin saja ia kini sedang melihat atau merasakan sesuatu.


Sesuatu yang pernah ia alami di masa lalu...


Flashback~~


Camelia sedang menatap pantulan wajahnya di depan cermin. Ia kini terlihat sangat cantik dan menawan, dengan balutan dress pengantin berwarna putih yang melekat dengan indah ditubuhnya.


Senyum manis sedaritadi selalu tersungging dibibirnya yang merah. Entah mengapa hatinya kini seperti berbunga-bunga. Sebentar lagi, ia akan resmi menikah dengan laki-laki yang ia cintai. Anthony Maurer.


Anthony Maurer adalah cinta pertama nya. Camelia sudah menyukai Anthony sejak pertama kali mereka bertemu. Ayah mereka mempertemukan mereka saat keduanya masih duduk di bangku sekolah dasar.


Ayahnya dan ayah Anthony adalah sahabat baik, mereka bahkan sudah menjodohkan anak mereka saat masih berada di dalam kandungan. Ya.. mungkin terlihat konyol. Tapi itulah yang terjadi. Saat mereka mengetahui jenis kelamin anak mereka perempuan dan laki-laki, mereka langsung membuat sebuah perjanjian. Perjanjian yang berisi tentang perjodohan anak mereka masing-masing. Dan tibalah sampai anak mereka sudah tumbuh dewasa, mereka menepati janjinya untuk menikahkan putra dan putri mereka.


Tok tok tok


Tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar dari luar. Tak lama sosok ibunya kini muncul dari balik pintu.


" Sayang.. Kamu sudah siap? Sebentar lagi acara akan segera dimulai. " Tanya sang ibu


" Sudah mah " Jawab Camelia


Jantung Camelia kini mulai berdetak dengan kencang. Ia mulai merasa gugup. Kemudian Camelia mencoba mengatur nafasnya agar rileks kembali. Setelah mulai merasa sedikit tenang, Camelia berbalik dan berjalan ke arah ibunya.


" Kamu cantik sekali sayang. Pasti Anthony akan langsung terpesona pada anak mamah yang manis ini. " Ucap ibunya sambil mencolek pipi Camelia dengan lembut


" Ah.. Mamah bisa saja. Jangan bicara seperti itu, aku kan jadi malu. " Ucapnya salah tingkah


" Kenapa harus malu, mamah bicara fakta kok. Anak mamah ini kan memang cantik. " Puji nya sekali lagi pada Camelia


" Terimakasih mamah " Ucap Camelia sambil tersenyum dan memeluk ibunya dengan manja.


" Tak disangka, anak gadis mamah ternyata sudah dewasa. Mamah berharap.. Semoga kamu bahagia dengan keluarga kecilmu nanti nak. " Ucap sang ibu sambil meneteskan air matanya.


" Jangan menangis mah, nanti aku juga ikut menangis. " Ucapnya manja pada ibunya


" Ya sudah, ayo kita turun ke bawah sekarang. Mereka pasti sudah menunggu kita. " Ajak ibunya sembari menghapus sisa air mata di pipinya


Camelia kemudian menggandeng tangan ibunya dan mulai berjalan keluar ruangan.


Acara pernikahan pun sudah dilaksanakan, semua berjalan dengan lancar dan hikmat. Kini Anthony dan Camelia sudah resmi menjadi pasangan suami istri dimata agama dan negara.


Saat ini semua mata para tamu undangan yang hadir sudah berfokus pada pasangan pengantin baru itu. Keduanya kini saling berhadapan dan menatap satu sama lain. Camelia tersenyum manis kearah Anthony, begitu pun sebaliknya.


Lalu tiba-tiba para tamu undangan yang ada disana mulai bersorak dengan riuh.


" Cium! Cium! Cium! "


Camelia terlihat tertunduk malu saat mendengar para tamu undangan mulai berteriak dengan heboh. Ia menatap Anthony dengan kikuk. Namun tanpa di duga Anthony langsung meraih pinggang Camelia, dan dengan cepat ia menempelkan bibirnya tepat diatas bibir Camelia dengan lembut.


Camelia terkejut, Ia mengerjapkan matanya berkali-kali dan mencoba menetralkan jantungnya yang kini sedang berdetak dengan cepat.


Namun saat Camelia belum tersadar dari keterkejutan nya atas ciuman yang Anthony berikan, Anthony dengan perlahan melepaskan ciuman itu dan langsung berbisik pelan ke arah telinganya.


Dan bisikan itu kini justru membuat Camelia lebih terkejut dari sebelumnya.


" Selamat datang di neraka! " Bisik Anthony


Flashback End~~




Cla baru saja selesai membuatkan semangkuk bubur ayam untuk Xavier. Ia kemudian menyimpan mangkuk itu di atas nampan dan membawanya menuju kamar Xavier.


__ADS_1


Tok tok tok



Cla mengetuk pintu kamar Xavier. Tak lama kemudian Xavier pun membuka pintu kamarnya dan mempersilahkan Cla untuk masuk. Cla kemudian menyimpan semangkuk bubur panas itu di atas meja yang ada di kamar Xavier.



" Makanlah buburnya, mumpung masih panas " Ucap Cla



Cla kemudian berbalik dan hendak melangkah keluar dari kamar Xavier, namun dengan cepat Xavier menahan tangannya.



" Kamu mau kemana? " Tanya nya



" Tentu saja keluar dan kembali bekerja " Jawab Cla singkat



" Tidak boleh! " Seru Xavier



Ia pun langsung menarik Cla, dan mendudukan nya di sofa yang ada di kamar Xavier.



" Apa yang kamu lakukan?! " Bentak Cla



" Kamu harus duduk manis disini dan merawat ku. " Ucap Xavier sembari tersenyum, dan kini ia ikut duduk di samping Cla




" Ya. Kamu kan tau aku sedang sakit, aku tidak bisa makan sendiri. Jadi.. Kamu harus menyuapi ku! " Perintah Xavier



" Apa? Menyuapi mu? " Ulangnya lagi



" Iya. Sekarang cepat suapi aku! Aku sudah lapar dari pagi belum sarapan. Aaaa... " Ucap Xavier manja dan mulai membuka mulutnya



Cla kemudian menghembuskan nafasnya dengan kasar. Ia lalu mengambil mangkuk bubur yang ada di atas meja dan mulai menyuapi bubur itu pada Xavier.



Xavier tersenyum saat melihat ekspresi Cla yang terlihat sebal saat menyuapi nya.



" Kalau membantu orang itu yang ikhlas, jangan cemberut seperti itu. " Ucapnya



Cla kemudian menatap tajam kearah nya, dan mulai menunjukan senyum terpaksa nya kearah Xavier.



Setelah beberapa saat, mangkuk di tangan Cla kini sudah terlihat kosong. Ia kemudian hendak bangkit dan menaruh mangkuk itu ke dapur. Namun Xavier kembali menahan tangannya.

__ADS_1



" Duduklah dulu disini sebentar. Temani aku mengobrol. " Pinta Xavier dengan raut wajah yang terlihat berbeda dari raut wajah nya yang sebelumnya.



Cla mengerutkan dahinya, kenapa dengan Xavier? Kenapa sekarang raut wajahnya terlihat sedih? Tanya Cla dalam hati.



Cla kemudian duduk kembali dan menatap Xavier penuh tanya.



" Kamu kenapa tiba-tiba terlihat sedih? " Tanya Cla penasaran



" Aku sedih, karena... kamu tiba-tiba menciumku, dan meninggalkan ku begitu saja semalam! " Ucapnya sambil berpura-pura sedih



" S\*ALAN! "



Cla langsung berdiri dari dari duduknya dan hendak keluar dari kamar Xavier. Namun dengan cepat Xavier kembali menahan tangannya dan tertawa.



" Hahaha aku bercanda. Maafkan aku. Sungguh aku hanya bercanda. Maaf ya.. " Ucap Xavier sambil tertawa



" Kamu mau mati ha! " Omel Cla sambil mengepalkan tangannya ke arah Xavier



" Tidak, maaf aku hanya becanda. Lagipula, kenapa kamu harus marah. Bukan kah aku bicara fakta. " Ucapnya dengan wajah tanpa dosa



Cla kemudian menghela nafasnya secara perlahan untuk meredamkan emosi yang kini sudah mencapai ubun-ubun kepalanya.



" Aku sedang tidak mood untuk bercanda ya. Kalau kamu hanya ingin main-main lebih baik aku keluar sekarang. Masih banyak yang harus aku kerjakan diluar. " Ucap Cla



" Aku tidak main-main. Aku serius. " Ujar Xavier



Ia kemudian melangkah maju mendekati Cla, hingga kini jarak diantara mereka hanya tinggal beberapa centi saja.



" Mau apa kamu? " Tanya Cla sedikit gugup. Wajah Xavier mulai mendekat ke arah wajahnya.



Jantung Cla tiba-tiba berdetak dengan kencang. Kini wajah Xavier sudah berada di samping wajahnya. Cla kemudian dengan refleks menutup matanya, lalu...



" Jadilah pacarku! "



Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2