
" Dari mana kalian?! " Tanya Kimberly, saat ia sudah berada di hadapan Xavier dan Cla
" Euh.. Aku dan Claresta baru saja pulang dari rumah sakit. " Ucap Xavier
" Rumah sakit? Untuk apa?! " Tanyanya curiga
Tiba-tiba Sofi muncul dari arah koridor dan melihat kedatangan Xavier dan juga Cla. Ia lalu dengan cepat berjalan menghampiri mereka berdua.
" Claresta! Darimana saja kamu hah?! Berani sekali kamu keluar dari rumah tanpa meminta izin padaku! " Teriak Sofi
" Begini bu Sofi.. Tadi pagi Claresta mendapatkan kabar, bahwa ibunya dilarikan ke rumah sakit. Karena merasa panik, jadi Claresta buru-buru pergi kesana dan lupa meminta izin pada bu Sofi. Lalu kebetulan tadi siang, aku juga pergi menjenguk teman ku yang sedang dirawat di rumah sakit yang sama. Dan kami tidak sengaja bertemu.. Cla juga sudah menjelaskan padaku tentang semua kronologi nya, sampai dia harus terpaksa keluar dari rumah tanpa izin dari bu Sofi. Dan karena kami sama-sama di rumah sakit hingga larut malam, jadi aku mengajaknya untuk pulang bersamaku. Tidak baik juga kan, membiarkan seorang wanita pulang sendirian malam-malam begini. " Jelas Xavier
" Tapi.. "
" Sudahlah bu Sofi.. Ini hanya masalah kecil, jangan dibesar-besarkan. Lagipula, baru kali ini kan Cla keluar dari rumah tanpa meminta izin. Jadi lebih baik sekarang bu Sofi istirahat saja, ini juga sudah larut malam. Dan kamu Cla, kamu juga boleh kembali ke kamarmu dan beristirahat sekarang. " Ucap Xavier yang langsung memotong ucapan Sofi
Cla kemudian menundukkan kepalanya ke arah Sofi dan Kimberly. Ia lalu berbalik dan langsung berjalan menuju ke kamarnya.
" Kalau begitu, aku juga pamit ke kamar dulu ya. Selamat malam Mah.. Bu Sofi.. " Ucap Xavier, dan langsung berjalan pergi meninggalkan Kimberly dan Sofi di sana.
Kimberly menatap punggung Xavier dengan tatapan yang penuh curiga. Ia merasa ada sesuatu yang aneh diantara mereka berdua. Apalagi Xavier selama ini terlihat selalu membela Cla saat beragumen dengannya.
" Nyonya. Sepertinya ada yang aneh dengan hubungan antara tuan Xavier dan pelayanan itu. Saya takut, jika pelayan itu hanya memanfaatkan kebaikan tuan Xavier saja. Nyonya tau sendiri kan, kalau tuan Xavier itu terlalu baik dan sangat mudah untuk merasa iba terhadap orang lain. " Ucap Sofi pada Kimberly
" Aku juga melihat ada yang mencurigakan dari gadis itu. " Ucap Kimberly
Ia kini mulai merasa ada yang aneh dengan pelayan bernama Claresta itu. Dari awal pelayan itu masuk ke dalam rumah ini.. Kimberly sudah menyadari, jika tatapan gadis itu sangat berbeda saat menatapnya.
" Sofi.. Cari tau asal usul gadis itu darimana! Kalau perlu, kamu juga cari tau tempat tinggalnya dimana dan siapa nama orang tuanya. Aku merasa gadis itu sedikit mencurigakan! " Perintah Kimberly pada Sofi
" Baik nyonya. Akan saya cari semua informasi tentang gadis itu. " Jawab Sofi
Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Xavier terlihat masih terjaga di dalam kamarnya. Ia kini sedang sibuk di depan komputer dengan setumpuk buku yang berserakan di mejanya.
" Huuwaaaa.... " Xavier menguap
Ia kemudian mengucek matanya yang kini sudah terlihat sangat mengantuk.
" Hah... Rasanya ngantuk sekali. Tapi tugas ku belum selesai, sedangkan besok sudah harus dikumpulkan. " Ucap Xavier
Karena membantu Cla seharian tadi di rumah sakit, ia sampai lupa mengerjakan tugas kuliahnya yang harus dikumpulkan besok pagi. Matanya pun kini sudah terasa sangat berat karena mengantuk.
" Ini tidak bisa dibiarkan. Sepertinya aku harus minum kopi, agar mataku bisa segar kembali. " Ucapnya
Xavier lalu bangkit dari duduknya dan berniat pergi ke dapur untuk membuat segelas kopi, agar matanya tidak terasa berat lagi karena mengantuk.
Saat ia sudah berada di koridor menuju ke arah dapur, tiba-tiba ia berpapasan dengan Bela.
" Tuan Xavier.. Anda belum tidur? " Tanya Bela sambil tersipu
__ADS_1
" Belum " Ucap Xavier sambil hendak melanjutkan langkahnya ke arah dapur
" Ah tunggu tuan. Anda mau kemana malam-malam begini? " Tanya Bela penasaran
" Aku mau ke dapur, membuat segelas kopi. " Jawabnya
" Ah.. Kalau begitu, biar saya saja yang buatkan ya. Tuan tunggu saja di dalam kamar, nanti akan saya antarkan kesana. " Ucap Bela sambil tersenyum manis
" Tidak usah. Saya bisa buat sendiri. " Tolak Xavier
" Jangan tuan.. Ini kan sudah tugas saya melayani tuan. Saya kan pelayan disini. Lebih baik sekarang tuan kembali saja ke dalam kamar. Biar saya yang buatkan kopi nya, dan nanti akan saya antarkan ke kamar tuan. " Ucap Bela
Xavier terdiam sesaat. Ia kemudian berbalik dan berjalan kembali ke dalam kamarnya. Sedangkan Bela, ia langsung melangkah ke arah dapur dan membuatkan segelas kopi untuk Xavier.
Bela pun sudah selesai membuatkan kopi untuk Xavier. Ia lalu mengambil sebuah sendok dan mulai mencicipi kopi yang baru saja ia buat.
" Enak. Tapi... Akan lebih enak jika aku tambahkan ini... " Ucapnya sambil mengeluarkan sebuah botol kecil dari dalam saku rok nya
Bela kemudian membuka botol yang ada ditangannya. Dan tanpa ragu, ia langsung memasukkan semua isi yang ada di dalam botol itu kedalam kopi milik Xavier.
Bela lalu membawa segelas kopi itu menuju ke kamar Xavier.
Tok tok tok
Ia mulai mengetuk pintu kamar Xavier. Dan tak berapa lama, Xavier pun membuka pintu kamarnya dan berdiri di hadapan Bela.
" Ini tuan.. Kopinya sudah jadi. " Ucap Bela sambil tersenyum manis ke arah Xavier
" Iya, terimakasih " Ucap Xavier
Xavier lalu mengambil gelas berisi kopi itu dari tangan Bela. Dan ia pun segera masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu itu begitu saja, tanpa mengatakan apapun lagi kepada Bela.
Bela yang melihatnya hanya tersenyum licik sambil menatap pintu kamar itu.
" Sekarang kamu boleh saja jutek padaku. Tapi sebentar lagi.. Kamu akan mendesah dan terus memohon sambil memanggil namaku, Xavier. Karena apa??.. Karena aku baru saja memasukkan obat perangsang dengan dosis yang sangat tinggi ke dalam minumanmu itu. Sehingga kamu tidak akan mampu untuk menahan reaksinya, dan akan menyalurkan hasratmu itu kepadaku. Tentu saja kepadaku.. karena setelah obat itu bereaksi, aku akan datang menghampirimu dan langsung memancing hasrat mu itu... " Bisik nya pelan
__ADS_1
Xavier menyimpan segelas kopi itu di atas meja, tepat disamping komputernya. Dan ia mulai kembali fokus mengerjakan tugasnya yang masih menumpuk.
Setelah beberapa menit terpaku di depan layar komputer, Xavier kemudian mengambil gelas berisi kopi itu dan mulai meminumnya sedikit demi sedikit. Ia masih terlihat fokus mengerjakan tugasnya, sampai tak menyadari jika kopi yang ada di tangannya kini sudah habis tak bersisa.
Tak berselang lama, Xavier tiba-tiba merasakan tubuhnya mulai terasa panas. Ia merasa seperti ada sesuatu yang menjalar dari ujung kaki hingga ujung kepalanya. Matanya yang sedari tadi fokus menatap komputer tiba-tiba menjadi buram seketika. Keringat dingin pun kini mulai bercucuran di keningnya.
" Ada apa ini? Kenapa dengan tubuhku? Kenapa kini tubuhku terasa sangat panas? " Ucap Xavier
Ia kemudian bangkit dari duduknya dan mulai mengibas-ngibaskan pakaiannya.
" Kenapa tubuhku jadi terasa aneh seperti ini? " Bisiknya
Tok tok tok
Tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu kamarnya. Xavier lalu mengelap keringat yang kini sudah mulai membasahi keningnya, dan berjalan ke arah pintu. Ia kemudian membuka pintu kamarnya, dan terkejut saat melihat Bela kini sudah berdiri di depan kamarnya lagi.
" Ada apa? " Tanya Xavier, sambil dengan susah payah menahan gejolak yang kini ia rasakan di dalam tubuhnya.
" Tuan Xavier kenapa? Wajah anda terlihat begitu pucat. Apa anda tidak enak badan? " Tanya Bela pura-pura khawatir
Ia kemudian dengan sengaja menyentuh kening Xavier dengan lembut.
DEG
Tiba-tiba sekujur tubuh Xavier merasa tegang saat tangan Bela menyentuh keningnya. Ia merasa seperti ada sesuatu yang ingin merangkak naik dari dalam tubuhnya.
" Tuan.. Kenapa anda berkeringat seperti ini? " Tanya Bela
Ia kemudian mengusap keringat yang ada di wajah Xavier dengan gerakan yang pelan dan lembut.
Tangan Bela terus membelai wajah Xavier, hingga kini tangan itu dengan sengaja menyentuh tengkuk Xavier yang sudah mulai basah karena berkeringat.
" Ya Tuhan.. Ada apa dengan tubuhku ini?! " Ucap Xavier dalam hati
Bersambung~
__ADS_1