
Jam di dinding telah menunjukkan pukul 7 malam. Cla kini sedang duduk tepat di samping ranjang Camelia, sambil memijat tangan Camelia dengan lembut.
Sore tadi, dokter sudah membawa Camelia ke ruang pemeriksaan untuk melakukan rontgen ulang kepalanya pasca selesai operasi. Dan dari hasil rontgen tadi, dokter mengatakan bahwa perdarahan di kepala Camelia sudah hampir pulih 75%. Jadi mulai besok Camelia sudah bisa di pindahkan ke ruang rawat biasa.
" Syukurlah ma, hasil rontgen nya bagus. Sekarang mama hanya tinggal fokus untuk pemulihan mama saja ya. Mama tidak usah banyak pikiran. " Ucap Cla lembut pada Camelia
" Cla... " Bisik Camelia pelan
" Iya ma? " Tanya Cla sambil mendekatkan telinganya ke arah Camelia, agar bisa mendengar ucapannya dengan jelas
" Ma.. Maafkan mama.. " Bisik Camelia sambil meneteskan air matanya
" Kenapa mama harus minta maaf?.. " Ucap Cla sambil menghapus air mata Camelia
" Mama.. selalu.. me.. repot.. kan mu.. " Bisiknya lagi
" Tidak ma.. Mama tidak pernah merepotkan ku. Aku sayang sekali pada mama, jadi aku akan melakukan apapun untuk mama.. agar mama bisa sembuh kembali. " Ucap Cla sambil menahan air matanya
Cla lalu memeluk tubuh Camelia. Entah kenapa kini ada perasaan takut di dalam hatinya. Iya takut jika suatu saat nanti ia harus berpisah dengan Camelia. Camelia adalah wanita yang sudah membesarkan nya dengan sepenuh hati, dia bahkan sosok ibu yang sangat lembut dan sangat perhatian padanya.
" Ma.. Jangan pernah tinggalkan aku ya. Karena mama lah satu-satunya orang yang aku miliki di dunia ini. Jika mama tidak bersamaku lagi.. Lalu aku akan hidup dengan siapa ma... " Ucap Cla sambil menangis
Hatinya kini terasa sangat sakit, saat mengingat kembali kenyataan yang baru saja ia ketahui. Jika suatu saat nanti Camelia tau jika dirinya bukanlah anak kandung Camelia yang sesungguhnya, apakah Camelia akan meninggalkan nya?
Dan jika itu sampai terjadi, bagaimana Cla bisa menjalani hidupnya nanti?
Tangan Camelia mulai terangkat. Dan dengan perlahan ia membelai rambut Cla dengan penuh kasih sayang.
" Mama.. juga.. sayang.. padamu.. " Bisik Camelia
Cla pun membenamkan wajahnya di bahu Camelia, dan mulai terisak. Ia tidak mau sampai kehilangan sosok ibu seperti Camelia.
Namun disisi lain, ia juga ingin melihat Camelia bahagia dengan keluarganya yang sebenarnya.
Anthony dan Kimberly sudah tiba di rumah. Mereka lalu pergi ke kamar untuk berganti pakaian dan langsung turun menuju ruang makan, untuk makan malam bersama.
Setibanya di meja makan, mereka melihat Xavier yang sudah duduk di sana menunggu kedatangan mereka berdua.
" Pah.. Mah.. Selamat malam. " Ucapnya pada Anthony dan Kimberly
" Selamat malam " Jawab Anthony dan Kimberly bersamaan
Mereka pun makan malam bersama di meja makan. Untuk beberapa saat, mereka terlihat fokus pada makanan mereka masing-masing. Namun tak berapa lama, Anthony langsung memulai topik pembicaraan.
" Ohiya Xavier, hari ini kamu pergi kemana? Dari pagi papa tidak melihat mu ada di rumah. Dan sejak pagi, mobilmu juga sudah tidak ada di dalam garasi. " Tanya Anthony penasaran
" Oh itu pah, tadi pagi.. aku mengantar Claresta pergi ke rumah sakit. " Jawab Xavier sedikit gugup
Kimberly mulai mengerutkan alisnya dan langsung menatap Xavier dengan curiga.
" Claresta? Gadis yang bekerja disini kan? Kenapa dengan nya? Apa dia sakit? " Tanya Anthony terlihat khawatir
" Ck... Kamu terdengar seperti seorang ayah yang sedang khawatir kepada anaknya. Lagi pula untuk apa kamu se khawatir itu padanya. Dia itu siapa hah?! Dia hanya seorang pelayan di rumah ini. Untuk apa kamu khawatir seperti itu! " Ucap Kimberly jutek
" Apa karna dia hanya seorang pelayan, jadi kita tidak boleh merasa khawatir padanya? " Tanya Anthony sambil menatap Kimberly dengan heran
Kimberly terlihat memutar bola matanya, seolah tak peduli dengan ucapan Anthony.
__ADS_1
" Tidak pah, Claresta tidak sakit. Tapi dia ke rumah sakit untuk menjenguk ibunya yang sedang koma. " Ujar Xavier
Kimberly terkejut, ia terlihat menggenggam sendok di tangannya dengan kuat. Lalu beberapa detik kemudian ia bersikap seolah tak peduli, namun nyatanya telinga nya kini mulai fokus mendengarkan perbincangan antara Anthony dan Xavier.
" Ohiya.. Dia pernah bilang, katanya ibunya sedang di rawat di rumah sakit karena koma. Lalu sekarang bagaimana keadaan ibunya itu? " Tanya Anthony penasaran
" Syukurlah pah.. pada saat kami menjenguk ibunya di rumah sakit tadi, tiba-tiba ibunya Cla langsung sadar dan membuka matanya. " Ucap Xavier senang
DEG
" Apa?! Ibunya sudah sadar dari koma?! " Teriak Kimberly tiba-tiba, membuat Xavier dan Anthony terkejut
" Iya mah.. " Jawab Xavier sedikit heran dengan reaksi Kimberly
" Kenapa kamu terlihat terkejut seperti itu? " Tanya Anthony curiga
" Ah.. Ah.. Tidak apa-apa. Aku hanya bertanya saja, mungkin karena sedikit terkejut.. Aku jadi berteriak seperti tadi haha. " Ucap Kimberly salah tingkah sambil memegang lehernya
" Syukurlah kalau ibunya sudah sadar dari koma. Kasian dia, masih muda.. tapi cobaan hidup yang harus dilalui nya begitu berat. " Ucap Anthony
" Iya pah, aku sampai tidak tega melihatnya selalu menangis setiap hari memikirkan ibunya yang sedang sakit. " Ucap Xavier sedih
Anthony menatap kepergian Kimberly. Ia merasa ada yang aneh dengan sikap Kimberly tadi.
" Lalu.. Bagaimana hubungan mu dengan Claresta? " Tanya Anthony tiba-tiba
" Hubungan? Hubungan apa maksud papah? " Tanya Xavier salah tingkah
" Tidak mungkin kalian tidak memiliki hubungan yang khusus. Papah sering liat kamu memperhatikan gadis itu dari jauh. Dan papah juga sering dapat kabar, bahwa kamu selalu mengajak gadis itu pergi keluar rumah bersama. " Ucap Anthony sambil tersenyum
Xavier terlihat menundukkan wajahnya.
" Jika kamu menyukainya, maka jagalah dia dengan baik. " Ucap Anthony
" Jadi.. Jadi papah tidak keberatan.. jika aku menyukai Claresta? " Tanya Xavier
Anthony terlihat tertawa dan mengusap rambut Xavier dengan lembut.
" Tentu saja papah tidak keberatan nak. Kamu mau menyukai siapa pun, itu hak kamu. Papah hanya bisa mendukungmu. Karena papah tau, pilihan anak papah tidak akan pernah salah.. Dan papah juga yakin, kamu pasti sudah tau mana wanita yang tepat untuk dirimu sendiri. " Jawab Anthony
" Aku pikir papah akan keberatan, karena Claresta hanya seorang... "
__ADS_1
" Pelayan maksudmu? " Potong Anthony
" Iya.. " Jawab Xavier pelan
" Papah tidak pernah menilai seseorang dari materinya. Papah hanya menilai seseorang dari sifat dan juga kepribadiannya. Dan yang papah lihat, Claresta itu anak yang baik. Dia pekerja keras, anak yang tangguh dan pantang menyerah dalam menjalani hidupnya. Papah suka orang yang seperti itu. " Ucap Anthony
" Terimakasih pah.. Karena papah selalu mendukungku. Papah memang orang tua yang terbaik untukku. " Ucap Xavier sambil tersenyum pada Anthony
Anthony pun membawa Xavier ke dalam pelukannya. Ia mengusap punggung anaknya dengan lembut.
" Ohiya! Kapan-kapan.. Ajak papah jika kamu mau pergi ke rumah sakit lagi, untuk menjenguk ibunya Claresta. Papah juga ingin kenal dengan sosok ibu yang telah melahirkan anak yang tangguh seperti Claresta itu. " Ucap Anthony tiba-tiba
" Benarkah? Papah mau menjenguk ibunya Cla? " Tanya Xavier tidak percaya
" Tentu saja. Papah kan harus kenal dengan calon besan papah hahaha. " Ucap Anthony sambil tertawa dan menggoda Xavier
" Haha papah bisa saja. Nanti kalau aku kesana lagi, aku pasti akan mengajak papah. " Ucap Xavier
Tiba-tiba Xavier terdiam dan teringat akan sesuatu.
" Ohiya pah.. tadi saat aku sedang berada di rumah sakit, aku tak sengaja melihat papah dan mamah ada di sana. Untuk apa papah dan mamah pergi ke rumah sakit? " tanya Xavier penasaran
" Oh itu.. papah sedang mengantar mamah mu untuk memeriksa kesehatan nya. " Jawab Anthony
" Periksa? memangnya mamah sakit pah? " Tanya Xavier
" Ah.. tidak. Itu hanya pemeriksaan kesehatan biasa saja. " Jawab Anthony sedikit gugup
" Begitukah?? " Tanya Xavier
" Nanti setelah urusannya selesai. Papah akan ceritakan semuanya kepadamu. Sekarang lebih baik kita lanjutkan lagi makannya ya. " Ucap Anthony
Xavier hanya menganggukkan kepalanya dan kembali melanjutkan makan malamnya.
Ia terdiam sejenak. Xavier merasa Anthony seperti sedang menyembunyikan sesuatu darinya.
" *Apa yang papah sembunyikan dariku*? " Tanyanya dalam hati
Sementara itu, Kimberly yang kini sedang berada di dalam kamar nya terlihat sedang berjalan mundar mandir seperti orang yang sedang gelisah.
" Ini tidak bisa dibiarkan! Wanita itu sudah sadar dari koma nya! Aku tidak bisa tinggal diam! Aku harus menyusun rencana untuk melenyapkan wanita itu dari muka bumi ini!.. Dan aku tidak akan pernah membiarkan mereka berdua bertemu kembali! " Bisiknya sambil mengepalkan tangannya dengan kuat
Bersambung~
__ADS_1