
Cla baru saja keluar dari ruang ICU. Ia kemudian berjalan menghampiri Xavier yang sedang duduk di sebuah kursi yang ada di koridor rumah sakit.
" Sudah selesai? " Tanya Xavier saat Cla sudah berdiri di hadapannya.
" Sudah. Ayo kita pulang. " Jawab Cla singkat
Cla pun langsung berjalan mendahului Xavier menuju pintu keluar rumah sakit. Xavier yang memperhatikan Cla dari belakang mulai mengerutkan alisnya.
Ia kemudian berjalan mengikuti Cla dari belakang.
Setelah sampai di dalam mobil, Xavier memperhatikan perubahan sikap Cla yang terlihat lebih pendiam setelah keluar dari ruang ICU tadi.
" Kamu baik-baik saja? " Tanya Xavier pada Cla
" Hmm? Iya. " Jawabnya singkat
" Bagaimana kondisi ibumu? " Tanya Xavier lagi
" Sudah stabil. " Jawab Cla
Xavier kemudian menghembuskan nafasnya perlahan. Ia merasa heran, kenapa sikap Cla jadi berubah setelah keluar dari ruang ICU. Ia kemudian melajukan mobilnya dan langsung keluar dari kawasan rumah sakit.
Cla termenung, ia kembali mengingat perkataan suster saat di ruang ICU tadi. Siapakah orang yang datang menemui ibunya dan mengaku sebagai kakak perempuan nya?.
Dari ciri-ciri yang disebutkan oleh suster tadi, itu sangat mengarah pada sosok Kimberly Maurer.
Apakah benar Kimberly mendatangi mama di rumah sakit? Kalau sampai itu benar, maka keselamatan mama akan terancam.
Ucap Cla dalam hati.
Cla lalu menatap ke arah jendela mobil, ia mengerutkan dahinya saat menyadari jika jalan yang dilalui Xavier kini bukanlah jalan menuju ke arah rumah Xavier.
" Kita mau kemana? Ini sepertinya bukan arah jalan pulang ke rumah? " Tanya Cla bingung
" Aku akan membawamu ke suatu tempat. Tempat yang sangat indah ketika kamu melihatnya saat senja seperti ini. " Ucap Xavier sambil tersenyum
" Tapi kan aku harus cepat kembali ke rumah. Nanti kalau bu Sofi tau aku tidak ada di rumah, dia pasti akan marah! " Protes Cla
" Tenang saja. Urusan bu Sofi serahkan saja padaku. " Ucapnya
__ADS_1
Cla hanya menghembuskan nafasnya pasrah. Jika dipikir-pikir ia juga tidak keberatan, karena Cla memang sudah merasa bosan berada di rumah terus. Ia bahkan tidak pernah lagi pergi keluar hanya untuk sekedar menenangkan pikirannya.
Xavier menghentikan mobilnya di dekat sebuah danau yang ada di dekat taman kota. Ia kemudian turun, dan membukakan pintu mobilnya untuk Cla.
" Ayo turun. " Ucapnya pada Cla
Cla terlihat sedikit ragu, namun ia kemudian memutuskan untuk ikut turun bersama Xavier.
Xavier lalu mengajaknya berjalan menuju ke arah danau, dan duduk di sebuah kursi panjang yang berada persis di pinggir danau tersebut.
Sejenak Cla tercengang dengan pemandangan indah yang kini ada di hadapannya. Danau itu begitu cantik. Ditambah dengan suasana senja saat ini, yang membuat air di danau itu terlihat seperti sebuah cermin yang sedang memantulkan sinar berwarna oranye dari matahari senja.
" Indah sekali " Bisik Cla pelan
Kemudian Xavier mengajak Cla untuk duduk di sampingnya. Cla terdiam sejenak, namun tak berapa lama ia pun ikut duduk disamping Xavier.
" Tempat ini indah sekali, aku baru tau ternyata ada sebuah danau di dekat taman kota. " Ucap Cla sambil memandangi danau itu penuh kagum
" Kalau aku sedang suntuk dan merasa bosan, biasanya aku datang kemari bersama teman-teman ku. " Jelas Xavier
" Aku... Jarang sekali pergi ke tempat seperti ini. Aku menghabiskan waktu ku hanya untuk bekerja siang dan malam. Sampai aku sendiri tidak ingat kapan terakhir kali aku pergi ke tempat se indah ini hanya untuk menenangkan pikiranku. " Ucap Cla menerawang
" Teman? Aku tidak punya teman. " Jawab Cla singkat
Xavier tercengang mendengar jawaban Cla.
" Dari kecil, aku hanya tinggal dan di besarkan oleh ibuku. Kami bukan keluarga berada, bahkan ibuku harus bekerja banting tulang setiap hari untuk memenuhi kebutuhan hidup kami berdua... Dan sejak kecil pun, aku sudah dipaksa hidup keras oleh keadaan. Ibuku mulai sakit-sakitan karena terus bekerja tanpa henti, sehingga mau tidak mau aku harus menggantikan ibuku bekerja dan mencari uang untuk kebutuhan hidup kami. Mungkin karena aku orang miskin, tidak orang yang mau berteman denganku. Tapi aku tidak menyalahkan itu, mungkin aku juga terlalu sibuk dengan pekerjaanku. Sehingga untuk berteman pun aku tidak punya waktu. " Jelas Cla, matanya mulai berkaca-kaca ketika mengingat kembali kehidupannya yang begitu pahit.
Xavier terdiam. Ia tidak menyangka, jika wanita yang ada di hadapannya ini mempunyai kehidupan yang begitu berat.
" Bolehkah aku bertanya sesuatu? " Tanya Xavier
Cla menoleh ke arah Xavier dan menatapnya penuh tanya.
" Kalau boleh tau... ayahmu ada dimana? " Tanya nya sedikit ragu
Seketika wajah Cla berubah, ia memalingkan wajahnya dari Xavier dan mulai mengepalkan tangannya dengan kuat.
" Ah.. Maafkan aku. Aku tidak bermaksud melukai hatimu. Kalau kamu tidak mau menjawab tidak apa-apa. Lupakan saja pertanyaan bodohku tadi. Maafkan aku ya.. " Ucap Xavier dengan penuh penyesalan
__ADS_1
" Dia sudah mati! " Jawab Cla singkat
" Apa? " Xavier sedikit tercengang dengan jawaban Cla
" Ya.. Ayahku sudah lama mati. Sejak aku berumur 5 tahun. " Jawabnya sambil menatap kosong ke depan
" Maafkan aku Cla. " Ucap Xavier, ia kemudian dengan perlahan menggenggam tangan Cla yang sedang terkepal dengan kuat.
Cla menoleh dan menatap tangan Xavier yang kini sedang menggenggam tangannya.
" Jika sekarang kamu merasa sedih dan ingin menangis, maka menangislah. Jadikan bahuku ini sebagai sandaranmu. " Ucap Xavier sambil menatapnya dalam
Cla terdiam, sejenak hatinya terasa hangat saat menatap wajah Xavier.
" Kamu tau.. Kenapa saat pertama kali kita bertemu, aku langsung mengetahui namamu? " Tanya Xavier
" Karna kamu mendengar bu Sofi memanggil namaku. " Jawab Cla
Xavier menggeleng
" Bukan. Sebenarnya.. Aku sudah mengenalmu 2 tahun yang lalu. " Ucapnya lembut
" Apa?! " Ucap Cla tercengang
" Saat itu aku melihatmu sedang tertidur di perpustakaan. Aku pikir kamu gadis muda yang sedang bolos belajar dan bersembunyi di dalam perpustakaan untuk tidur. Tapi saat aku mencoba melihatmu dari dekat, aku pikir aku salah. Saat aku menatap wajahmu.. wajah cantikmu itu terlihat begitu lelah. Aku bahkan melihat raut wajah seorang pekerja keras di sana. Dan saat itu aku baru menyadari, kamu memilih tidur di perpustakaan karena kamu ingin mencari tempat yang tenang untuk beristirahat sebentar dari pekerjaan mu yang begitu berat.. " Ucap Xavier
Cla tertunduk, entah kenapa air mata itu kini menetes begitu saja dari matanya.
Tiba-tiba tangan Xavier terangkat dan menyentuh pipi Cla dengan lembut. Sejenak Cla terpaku di tempatnya. Matanya kini tidak bisa lepas dari tatapan mata Xavier yang begitu lembut saat menatapnya.
" Andai aku bisa menggantikan kesedihanmu.. Aku tidak ingin ada air mata lagi yang keluar dari mata indahmu ini.. Aku tidak ingin kamu mengalami masa yang sulit lagi sendirian.. Aku tidak ingin melihatmu berpura-pura kuat disaat tubuhmu sendiri begitu lemah menghadapi nya.. Aku ingin jadi orang pertama yang selalu ada untukmu.. Aku ingin jadi orang pertama yang kamu ingat dan kamu cari disaat kamu membutuhkan bantuan.. Aku ingin selalu ada disamping mu.. Claresta Eren. " Ucap Xavier dengan lembut
Entah kenapa kini hati Cla begitu sakit. Ia memegang dadanya dengan kuat. Air mata itu kini tak bisa ia tahan lagi. Cla terisak, ia menangis dalam diam. Entah takdir apa lagi yang akan ia hadapi kini..
Ya Tuhan... Kenapa dengan hatiku saat ini? Rasanya hatiku sekarang begitu sakit.. Kenapa takdir begitu kejam padaku.. Bolehkah aku sedikit egois kali ini.. Bolehkah aku berharap, jika seseorang yang ada di hadapanku ini bukanlah anak dari Anthony Maurer..
Batin nya
Bersambung~
__ADS_1