
Hari itu adalah hari yang sangat sulit bagiku untuk dilewati. Hari yang penuh dengan kebisuan karena Wulan masih marah kepadaku. Hari itu pikirku Wulan akan memaafkanku, namun semuanya itu tidak terjadi. Harapan yang telah kusiapkan semalam tetap saja tidak meraih mimpinya.
Pemilik Wulanti, kamu membuat hariku bersemangat untuk memperjuangkanmu.
Pagi itu aku selalu melihat Wulan tetapi dia tidak menatapku sama sekali. Dan didalam kelas iya pun memilih pindah duduk dan menjauhiku. Bertukar posisi sama Beni.
Kami mengikuti pelajaran pertama sampai usai. Dengan sesekali aku melihat kearah Wulan yang sekarang memilih duduk didepan.
"Apa sih yang telah saya lakukan hingga Wulan sampai segitu marahnya kepadaku." Kataku yang menggema didalam hati.
Ketika waktu istirahat, aku melihatnya berjalan bersama Deta dan Yanti kekantin sekolah tetapi aku tidak mengikutinya karena mungkin sangkaku...
"Kalau aku mengikutinya, mungkin dia akan lebih tambah marah."" pikiranku mengatakan itu.
Limabelas menit waktu istirahat kulewati dengan bercakap-cakap sama Beni dan Yanto didalam kelas. Dua sahabat yang baru saja akau kenal. Kami banyak sekali membahas banyak tema bicara tetapi paling banyak dibincangkan adalah tentang cewek.
"Kamu sama Wulan lagi pacaran, iya." Tanya beni kepadaku.
" Saya sama Wulan cuman temanan aja, karena kebetulan kami satu komplek di desa kembang." jawabku kepada beni.
" Benaran kalian gak pacaran." tegas Yanto.
" Ah,, kalian gak percaya iya. Kalau aja iya, mana mungkin Wulan mau sama saya."" ungkapku kepada mereka.
"Wulankan orangnya cantik dan juga pintar." kataku lagi.
" Kalau kamu gak mau iya, untuk saya aja." Ejek Yanto kepadaku.
Jujur aja ketika saya mendengar kata itu, ingin rasanya saya memukul bibir Yanto sampai hancur. Tetapi mana mungkin saya melakukan itu, saya kan bukan siapa-siapanya Wulan.
" iya silahkan aja kalau kamu mau sama dia." aku terpaksa mengatakan hal itu.
"" Hahahahhahahah..." Kami ketawa-ketawa.
Tiba-Tiba ada langkah kaki masuk kedalam kelas. seketika itu kami mendiam sejenak melihat siapa itu. Eh ternyata Wulan, Deta dan Yanti yang telah kembali dari kantin.
" Hmhmmm..." ( Suara batuk Yanto.))
"Hmhmhmmm.. " ( dan juga beni ikut menyambung).
" Hhahahhahahahh.. " Kami ketawa-ketawa.
" Kalian kenapa sih,,, ketawa tanpa sebab. kayak orang gila aja."" kata Yanti.
"Hahahhhaahaha...." Kami terus aja ketawa.
Aku melihat kearah Wulan yang sedang duduk sambil membaca beberapa buku didepannya. Sangkaku dia akan ikut menegur kami tetapi hal itu tidak Dia lakuan.
" Rupanya, Wulan benar-benar marah sama saya."" kataku didalam hati.
Setelah itu kami mengikuti pelajaran berikutnya yaitu matematika. Aku melihat Wulan begitu aktif menjawab pertanyaan dari dari pak Frid. Oya pak Frid adalah guru matematika kami. orang gemuk, tinggi dan juga pemarah, dia juga adalah pembina OSIS.
" Ternyata Wulan anaknya pintar sekali iya." kataku didalam hati.
Pelajaran matematika pun hampir usai dan pak Frid memberikan kepada kami beberapa tugas yang harus kami kerjakan di Rumah.
"Ting, Ting, Ting,,,, "" lonceng sekolah berbunyi.
Kami mulai membereskan semua buku dan meninggalkan kelas menuju kelapangan.
__ADS_1
Ketika semuanya telah keluar hanya tinggal saya sama Wulan didalam kelas..
" Wulan.!!" Aku mencoba memanggil Wulan.
Tetapi iya sama sekali tidak menjawabku.
"Wulan.!!" untuk kedua kalinya.
Tetapi iya hanya mendiam dan tidak memberiku jawaban sama sekali. Akhirnya aku memilih meninggalkannya didalam kelas menuju kelapangan. Dan tidak begitu lama Wulan pun datang.
"Selamat siang anak-anak" Kata seorang guru diatas panggung.
"Selamat siang" Jawab kami semua serentak.
" Oke baik anak-anak, sore ini akan ada kegiatan ekstrakulikuler sekolah. Diwajibkan semua siswa datang tepat waktu." kata pak Jhon guru olahraga SMA Melati.
"Siap pak guru" Jawab semua siswa SMA Melati.
Kami menunduk sejenak berdoa masing-masing didalam hati dan bubar meninggalkan tempat itu.
Awalnya aku berniat menyapa Wulan tetapi ku urungkan niatku itu. Karena takutnya Wulan makin tambah marah sama saya. Aku pergi mendapat kak Alek dan kak Martin untuk pulang bersama-sama.
Dihalte bus telah berdiri sebuah bus disana yang sedang menunggu penumpang. Dari jauh aku melihat Wulan dan kak Lia masuk kedalam mobil itu. "Ah sial, Apa aku harus satu mobil sama orang yang sedang marah sama saya." gumanku didalam hati.
" Ayo cepat busnya udah mau berangkat tuu.. " kata kak Alex.
Kami pun sedikit berlari keburu busnya berangkat.
"Om.. tunggu om." Teriak kak Alex sedikit agresif.
"Ayo masuk kedalam masih ada satu bangku free." Kata konjak/karnet bus itu.
"Gak kak, saya berdiri disini aja ," Kataku menolak karena memang kulihat bangku yang kosong itu disebelahnya Wulan.
Terlihat Wulan melihatku yang lagi menolak untuk Duduk disampingnya. Aku gak tahu apa yang ia pikirkan saat itu.
" Iya, kamu masuk kedalam aja, Rhido!!"' kata kak Alex dan karnetnya ikut memaksa.
Setelah melewati beberapa paksaan akhirnya aku pun bergegas menuju tempat yang kosong itu.
"Wah bangkunya empuk iya." Aku pura-pura membuang bahasa, siapa tau Wulan mau berbicara denganku.
"Makanya Disuru duduk itu gak usah nolak." kata kak Lia yang duduk disamping Wulan.
" Tadinya saya takut disini ada panda kelaparan. Jadi saya takut Dimakan." Kataku bercanda bersama kak Lia. Meskipun Wulan berada ditengah aku sama kak Lia tetapi wulan tetap saja diam.
"Emang ada iya, panda makan manusia." kata seorang ibu-ibu yang duduk depan kami.
" Siapa tau aja Bu, ada panda yang kayak gitu."" Kataku lagi .
" Kamu bisa aja dek, bercandanya." kata ibu itu lagi.
"Kalau aja ada panda disini pasti kamu dicium bukannya dimakan." kata seorang bapak di sampingku.
" Hahahahhahahah...... " aku sama bapak itu dan hampir semua penumpang ikut melepas ketawa yang cukup kencang.
Jujur aja baru kali ini aku berani berbicara sama orang sepanjang ini bahkan sampai bisa ngelawak juga.
"Semua ini karena kamu Wulan." aku berkata didalam hati sambil menatap Wulan yang ku dapati sedari tadi menatapku.
__ADS_1
" Mana ada panda yang mau cium orang yang berbuat baik tapi minta balas Budi." kata Wulan seketika itu kami diam menatap Wulan.
" Hhahahahhahah.. tapi kalau orangnya ganteng iya gak apa-apa. iyakan pak. " kataku sambil meminta persetujuan bapak yang duduk di sampingku.
"Iya betul sekali itu, dek." kata bapak itu sambil ketawa.
" Hahahahhahahah....."
Tiba-tiba.....
"Kiri pak." suara Wulan menghentikan mobil.
" Waduh ternyata udah sampai dirumah iya." kataku didalam hati.
Saya pun memilih turun sekalian bersama Wulan. Lagian rumah saya sama Wulan berdekatan.
" Kamu turun disini. bukannya rumahmu masih didepan iya." kata kak Lia kepadaku.
"gak, sekalian aja disini." kataku kepada kak Lia.
"Daaa ,,, semuanya." kataku berpamitan kepada semua penumpang bus itu.
Oya jadi rumahnya kak Alex , kak Lia dan kak Martin itu masih ada sedikit jauh lagi.
Diluar bus terlihat karnet nya sedang sibuk mencari uang kembalian karena Wulan memberikan uang limapuluh ribu.
"Sudah om pakai ini aja, " kataku kepada kernet bus itu sambil menyodorkan uang limaribu untuk bayar berdua. Karena memang dari sekolah ke rumah itu hanya bayar Dua ribu aja.
"Oke makasih. " kata karnet nya lagi.
"Kak Alex , kak Martin." kataku.
"oke." kak Alex singkat.
Bus itupun meninggalkan kami berdua dipinggir jalan.
" Nanti saya ganti uang kamu" Cetus Wulan kepadaku.
"Santai aja kali." kataku lagi.
Hanya itu saja yang kami perbincangkan dan Wulan langsung pergi meninggalkanku. saat langkahnya sudah sedikit jauh....
"Wulan.!! " Aku memanggil Wulan dengan penuh harapan ia akan berbalik kepadaku.
Dan ternyata dia benar-benar berbalik kepadaku.
"Trimakasih kembali." kataku kepadanya.
Dan dia membalasnya dengan senyuman yang sangat mempesona yang membuatku sangat bahagia sekali.
" Akhirnya Tuhan. Kamu mengabulkan doaku.
" Sampai ketemu lagi di episode selanjutnya "
" Salam hangatku menyapa dirimu "
From Rhido
Dear Wulan
__ADS_1