TEMAN RASA PACAR

TEMAN RASA PACAR
MAAFKAN AKU


__ADS_3

* Cerita dari sudut pandang WULAN


(Masih diatas motor)


" Rhido,!! maafkan aku yang kemarin sudah menyakitimu.!!!" Aku tak berani mengucapkan kata itu kepada Rhido dan hanya merenungkannya didalam hati.


Saat itu cuaca benar-benar dingin sekali tetapi aku mencoba menahan diri kuat agar tidak ketahuan Rhido. Namun lama-kelamaan tubuhku mulai gemetar perlahan.


Kepalaku mulai sedikit pusing karena terlalu banyak memikirkan masalah itu. " Ya Tuhan, kuatkan aku untuk melewati semua masalah ini." Ucapku didalam hati.


Aku ingin memeluk Rhido saat itu karena tubuhku sudah dingin sekali tapi aku malu Untuk melakukannya.


* Cerita dari sudut pandang Rhido,


" Hmmm... kita lihat saja, sampai kapan kamu akan bertahan dengan keadaanmu itu." ucapku didalam hati saat itu.


Saat dalam perjalanan tiba-tiba ada seekor anjing lari memotong kami saat itu. Sontak aku kaget dan langsung menginjak rem kaki cepat. Dan duduknya Wulan kini sudah rapat sekali denganku karena rem kaget tersebut.


Aku berpikir apakah wulan akan menggeser tubuhnya kebelakang tetapi hal itu tidak dia lakukan. Aku begitu nyaman dengan adengan saat itu.


" Rhido!!!" Panggil Wulan.


"Hmmm...." jawabku kepadanya.


" emmmmm,," Wulan sedikit ragu untuk mengatakan sesuatu kepadaku.


Aku memilih mendiam untuk menanti apa yang akan dikatakan Wulan. Apa dia akan mengurungkan niatnya.


" Rhido!!!!" Panggil Wulan sekali lagi.

__ADS_1


" iya, Wulan.!!!" Jawabku meyakinkannya untuk percaya diri mengatakan apa yang ingin dia katakan.


Belum juga mengatakan apapun saat itu, tiba-tiba kedua tangan Wulan sudah melingkar diperutku.


" Inilah yang dinamakan dengan buah kesabaran" kataku berguman didalam hati.


" Rhido,!!!" Panggil Wulan sekali lagi.


" Iya, Wulan." Aku menjawabnya.


" Maafin aku!!!" Kata Wulan singkat kepadaku.


" Minta maaf untuk apa.!!!" Tanyaku kepada Wulan.


" Kemarin, aku sudah menyakitimu." Kata Wulan dengan nada begitu rendahnya.


" Rhido, Aku minta maaf." Kata Wulan lagi dengan saat itu kepalanya telah bersandar dibahuku.


" Aku gak bisa maafin kamu!!" Kataku kepada Wulan dengan nada berpura-pura cuek.


" Rhidooo" Tangannya mencubit perutku.


" Awww.... " Aku menjerit kesakitan.


" Emangnya, kamu berbuat salah apa.!!!!" kataku kepada Wulan.


" Rhido, Aku gak bermaksud untuk menyakitimu." Kata Wulan kepadaku.


" Kamu gak salah dan bahkan saat ini aku ingin berterimakasih kepadamu karena telah membuatku menjadi lebih dewasa sekarang." Aku mengatakan yang sejujurnya kepada Wulan.

__ADS_1


" Dan untuk yang kemarin, mulai sekarang kamu gak usah pikirin itu lagi. Dan aku mau kamu menjadikan aku seperti yang engkau inginkan sehingga engkau selalu bahagia saat bersamaku." Kataku bersamanya.


" Aku benar-benar minta maaf kepada kamu."Kata Wulan lagi kepadaku.


Mendengar Wulan terus-menerus meminta maaf membuatku menghentikan motor sebentar. Aku mematikan mesinnya. Wulan turun dari motor dan berdiri disampingnya.


" Ada apa Rhido!!!" Tanya Wulan keheranan saat aku menghentikan perjalanan kami.


Aku tak menjawab pertanyaannya dan turun dari motor lalu berdiri tepat dihadapannya.


Aku menatap mata manis yang saat ini lagi keheranan kepadaku.


Seketika, aku menggerakkan badanku kedepan dan memeluknya erat. Wulan kaget dengan perbuatanku saat itu tetapi Wulan tidak menolak saat itu.


" Aku gak mau kamu terus-menerus minta maaf kepadaku." Kataku kepadanya.


" Tapi kenapa???" Tanya Wulan kepadaku.


" Aku gak mau, kamu terus-terusan memikirkan sesuatu yang tidak membuatmu bahagia." Kataku kepadanya dan masih memeluk erat.


" Aku benaran suka sama kamu tetapi aku gak suka kamu mendiami kegmhafiranku." kataku kepada Wulan.


" Aku gak mau kamu menjawab apapun sekarang tetapi aku minta jadikan aku teman spesial dihidupmu." Aku terus menceritakan seluruh isi hatiku kepadanya.


Tiba-tiba tangan Wulan merangkul tubuhku, sontak kaget, aku melepaskan pelukanku saat itu.


" Maafin aku Wulan, aku sudah bertindak kurang ajar kepadamu.!! Ayo kita pulang!!!" Aku sedikit malu dengan perbuatan yang telah kulakukan itu tetapi Wulan tidak terlihat marah kepadaku.


Kami pun melanjutkan perjalanan saat itu dengan suasana yang sedikit berbeda dari yang tadi. Kali ini, Wulan tidak memelukku lagi hingga kami tiba di rumahnya.

__ADS_1


__ADS_2