
Malam sebelum hari ini dirumahku, disana seperti biasa ayah, bunda dan adik-adikku sedang sibuk dengan aktivitas masing-masing.
"Dari mana aja kamu," bunda bertanya kepadaku saat itu yang baru melihatku pulang.
"Dari rumahnya calon mertua." Bisikku kepada bunda biar gak kedengaran ayah kerena ayah gak mau aku punya cewek sebelum aku menyelesaikan semua studiku.
" Ah bisa aja kamu. Palingan kamu habis jalan sama Riko." Kata ibuku tak percaya dengan alasanku itu. Riko adalah temanku waktu SMP yang saat ini dia memilih untuk tidak lanjut sekolah.
"Iya sudah kalau gak percaya nanti bunda tanyakan langsung sama orangnya aja." jawaban dari bibirku. Bunda sudah tahu siapa orang yang saya maksud itu. Pernah bunda menjodohkanku sama wulan.
Lalu saya pergi berkumur-kumur untuk menghilangkan Pahitnya kopi yang masih menempel di bibirku.
Lalu sejenak terbayang dalam pikiranku ternyata begini rasa sukaku kepada Wulan sekarang ini seperti pahitnya kopi yang Wulan buatkan itu.
Tuhan mungkin sedang mengujiku, apakah aku akan mundur atau menelannya dengan sabar.
Tetapi aku yakin suatu saat nanti Tuhan akan melihat usahaku ini dan mengisi gula di cangkir asmaraku sehingga menjadi manis yang membahagiakan. " Semoga aja ya Tuhan...
Dan pagi ini di sekolah pelajaran berlangsung seperti biasa hingga waktu istirahat tak begitu banyak kenangan yang terukir pagi itu hingga lonceng istirahat berbunyi.
Saat istirahat tiba saya meninggalkan kelas untuk mencari kak Alex dan kak Martin untuk membahas soal lomba bolavolly nanti. Dan berencana akan melakukannya sebentar sore.
Singkat cerita siang itu kami melewati hari itu disekolah seperti biasanya hingga usai. Dan saat kami bubar dari sekolah aku melihat Wulan menghampiriku......
" Ayo pulang..." Ajak Wulan kepadaku.
Alasan dia datang karena saat itu kak Lia diantar sama cowoknya dengan sepeda motor.
" Tumben mau pulang sama saya." kataku kepadanya.
Saat itu kak Alex dan kak Martin masih ada pelajaran tambahan. Jadi mereka itu sudah kelas tiga jadi gak lama lagi udah mau tamat.
" Jadi gak mau niii, ceritanya." Ejek Wulan.
Mengikuti langkah kami menuju halte bus sekolah.
" By the way. Emang kamu bisa main bolavolly? " kata Wulan bertanya kepadaku.
" Saya gak bisa main." kataku berbohong kepada Wulan.
" Jangan bohong kamu, kata Om kamu jago mainnya. " Kata Wulan.
" Tunggu sebentar... kamu tau dari mana.?? oh,,, jadi kemarin kamu nguping pembicaraan saya sama Om Tinus kemarin iya!!!" kataku kepadanya.
" Iya gaklah.. aku cuman tebak aja," kata Wulan mengelak dari kenyataan.
" Halah... kamu memang cocok jadi pemeran antagonis kalau main drama." Kataku kepada Wulan.
__ADS_1
" Jangan ngaur kamu, gini-gini hatiku lembut tau."" katanya sambil cengingiran.
" Lembut apanya... Hatimu itu kayak kopi yang kamu bikin kemarin tau!!!" kataku kepadanya dengan sedikit melotot.
" Hhahahahhahah.. pikirnya kamu udah lupa soal kemarin. Ternyata masih diingat iya." kata Wulan sambil ketawa manja.
" Hahahahahaha... gak lucu tau." kataku lagi.
" By the way makasih iya,,, kemarin kamu gak bilang sama om Tinus tentang kopi itu. " kata Wulan kepadaku.
" Iya kamunya yang enak tapi karena ulahmu itu saya yang harus menderita tau.""" kataku sedikit ngambek.
" Sorry. Hahahahahh... " Wulan meminta maaf kepadaku.
Melihat Wulan seperti itu rasanya aku ingin memeluknya erat dan mengatakan...
" Bagiku,, kamu tak pernah bersalah. Aku yang tidak mengerti dengan sikapmu." kataku didalam hati.
" Wulan.. boleh aku minta tangan kamu." kataku kepadanya.
" Untuk apa??? Mau nulis puisi ditanganku iya." tanya Wulan kepadaku.
" Sudah sini aja dulu." aku sedikit memaksanya.
Aku mengambil bulpen dan mulai menggores beberapa goresan ditangannya.
" Hubungiku kalau kamu lagi Rindu sama saya." kataku kepadanya.
" Cieee.... percaya amat kamu ini." kata Wulan.
Tidak begitu lama akhirnya datang bus yang kami tunggu. Kami pun masuk kedalamnya dan pergi meninggalkan halte tempat kami tadi.
Ketika kami telah tiba dirumah dan bus itu baru saja berangkat.
" Wulan... call me." dengan tanganku menggerakkan tangan seperti memegang telpon ditelinga.
Wulan hanya tersenyum dan terus melangkah meninggalkanku yang masih berdiri dipinggir lapangan.
Siang itu Hp selalu aku kantongi didalam celana. Menunggu Wulan menghubungiku tetapi lagi-lagi sikap Wulan tak bisa kutebak. Siang itu tak ada dering telpon sama sekali. Dengan sedikit kesal aku menyimpan Hp dilaci dan meninggalkannya dalam tidur karena sore nanti ada latihan bolavolly.
Saat sore saya bangun pun Hp itu tak kusentuh sama sekali karena saya sibuk mandi dan cepat-cepat ke lapangan.
Setibanya disana anak-anak sudah ramai seperti biasanya. Disana juga sudah ada kak Alex dan kak Martin.
"Gimana kak semuanya sudah siap" kataku kepada kak Alex.
"Kayaknya kita akan kalah deh. Masa ini kita hanya punya orang-orang sudah berumur semua." Kata kak Alex.
__ADS_1
" Gak apa-apa yang penting bisa pukul bola aja itu sudah cukup." kataku lagi.
Lalu kak Alex memberiku beberapa nama seperti: Om leksi 38 tahun, Om Ale 39 Tahun. Om Ignas 40 tahun dan Bang Adi 31 tahun.
Ditambah Riko, kak Alex , kak Martin dan saya.
Setelah itu kami mulai melakukan beberapa latihan dasar seperti pasing dan beberapa kali melakukan smas hingga malam pun hampir menyapa kami. Dan latihan sore itu berakhir.
Singkat cerita, setelah dari lapangan aku pergi mengantar nama-nama itu kerumahnya om Tinus selaku kepala desa di desa kembang.
"Tok,,, tok,,, tok,,," mengetuk pintu. Dan yang buka adalah pujaan hati.
" Hai tukang nguping." Kataku mengejeknya.
" Ada apa sih ganggu orang aja." cetus Wulan.
" Siapa itu Wulan?? ( suara om Tinus dari dalam rumah)
" Saya om mau antarin nama-nama yang mau ikut lomba nanti." saya menyodorkannya ke Wulan.
" Saya pulang dulu om." berpamitan kepada Om Tinus.
" Saya pulang dulu. Tukang nguping.!!" Kataku kepadanya.
Tiba-tiba tangan Wulan telah sampai kepinggang ku dan mencubitnya dengan keras sekali.
" Awww.. " Langsung kutepis tangannya dan berlari menjauh darinya.
"Daaa,,, Tukang cubit, Dan tukang nguping." kataku mengejek Wulan.
" awas kamu iya." kata wulan mengancamku.
" Hahahahahaha................ " tawaku menggema.
Ah ... Diri ini semakin yakin aja kalau Wulan adalah pilihan terbaik. Jika hari ini aku tidak memiliki diri Wulan seutuhnya, maka aku adalah manusia yang paling bodoh didunia ini.
" Tidak, aku harus memilikinya." gumanku didalam hati.
Hari-hariku semakin indah untuk kunantikan esoknya. Mimpiku adalah Memiliki Wulan seutuhnya. Dan langkah kakiku kali ini telah menemukan titik tujuannya. Yaitu datang kepada genggaman Wulan.
" Sampai ketemu lagi di episode selanjutnya "
" Salam santunku menyapamu "
From Rhido
Dear Wulan.
__ADS_1