
* Cerita dari sudut pandang Rhido
Siang itu aku telah dirumah bersantai dan memikirkan langkah selanjutnya untuk Majalah dinding, dan memperhatikan beberapa karya sastra yang telah terkumpul kepadaku dan dari semuanya ada 20 karya yang sudah terkumpul.
Aku membaca beberapa tulisan dimana semuanya berisikan pendapat mereka tentang cinta.
" Rhido,!! kamu gak istirahat siang??" Tanya bunda kepadaku.
Sudah menjadi tradisi bagi kami anak-anak untuk harus selalu istirahat siang jika memang gak ada kesibukan.
" Belum buk, masih ngerjain tugas sekolah " Kataku kepada bunda.
Hingga akhirnya waktu telah menunjukkan jam setengah tiga sore baru aku selesai mengerjakannya. Karena sudah sore jadi aku gak sempat untuk istirahat siang.
Aku mengambil gitar lalu memainkan beberapa nada dan beberapa lagu juga aku nyanyikan.
" Tok,,, Tok,,, Tok,,,!!" Suara pintu rumahku diketok seseorang.
" Rhido, tolong bukain pintu, sepertinya ada tamu.??" Kata bunda menyuruhku membukakan pintu.
" Iya, Bun!!!" ( Aku bergegas menuju pintu dan ketika pintu telah terbuka.)
" Ehh,,, Om Tinus, Ayo masuk pak!!!" Tamu itu adalah Om Tinus.
" Gak usah Rhi, aku cuman mau nanya. Apa Wulan ada disini??" Kata om Tinus.
" Emang Wulan kemana om??" Tanyaku kepada Om Tinus.
" Tadi Wulan minggat dari rumah karena bercecokan sama Tante." Kata om Tinus.
__ADS_1
" Terus Wulan bilang gak, dia mau pergi kemana???" Tanyaku kepada Om Tinus
Aku mulai gelisah dan menghawatirkan keadaan Wulan.
" Dia gak bilang apa-apa saat dia pergi.!!" Kata Om Tinus lagi.
" Wulan kamu pergi kemana???" Ucapku didalam hati.
" Kamu mau gak bantuin Om nyariin Wulan." Kata om Tinus kepadaku.
" Bisa Om!!" Jawabku cepat kepada Om Tinus.
Setelah itu om tinus telah kembali kerumahnya.
" Bunda,!! aku keluar sebentar iya."
" Ayo Vey, kita cari Wulan" kataku kepada motorku.
Aku pun mulai pergi mencari Wulan disekolah gak ada,
" Wulan, kamu kemana???"
Aku pergi mencarinya dirumah kak Lia juga gak ada dan dirumah semua teman-temannya juga gak ada.
Aku mencoba menelponnya tetapi nomornya sedang tidak aktif. Aku benar-benar kawatir dengan keadaan Wulan. Karena Wulan belum begitu mengerti dengan daerah sini, maklum dia baru datang dari flores.
Aku berhenti disebuah jalan yang membelah sawah-sawah menjadikannya tempat perhentian paling indah dikampung ku. Dan disitu juga ada rumah-rumah kecil sepanjang jalan itu, tempat para petani menjual jagung rebus.
Hingga akhirnya aku memikirkan suatu tempat yang mungkin wulan saat ini Wulan disitu. Sebuah tempat yang tidak begitu jauh dari tempat saya berhenti itu. Tempat itu adalah tempatku merenung dan mencari inspirasi untuk menulis.
__ADS_1
" Buk, jagung rebusnya berapa buk!!!" Tanyaku kepada seorang ibu penjual jagung rebus itu.
" Tiga lima ribu." Kata ibu itu.
" Ya,, udah buk, tolong bungkusin tiga iya buk."
" Siap" Kata ibu itu bersemangat sekali.
" Truss air minumnya ini berapa buk???" Kataku sambil menunjuk botol Aqua yang ada disitu.
" Dua lima ribu." kata ibu itu kepadaku.
Aku memberikan uang sepuluh ribu kepada ibu itu untuk membayar jagung dan air minum yang sudah dibungkus itu.
" Buk, Aku boleh titip Motorku disini gak buk???" Tanyaku kepada ibu itu.
" Iya boleh nak!!" kata ibu itu mengijinkanku menitip motor kepadanya.
" Vey, aku tinggal sebentar iya.!! " Kataku kepada Vey.
Aku berlari melewati pematangan sawah menuju ketempat itu. Waktu itu hari sudah mulai menunjukkan pukul empat sore.
Tempat yang aku tuju itu adalah bukit raja. Tempat dimana aku pernah menggoreskan kenangan bersama Wulan ditempat itu.
Aku mulai berjalan mendaki bukit yang penuh dengan bebatuan itu.
" Aku yakin Wulan telah berada disana atau inilah yang dinamakan dengan SEHATI." kataku didalam hati.
" Rhido!!! Rhido!!! Udah ditolak kok masih ngarep aja" bisik suara hatiku.
__ADS_1