
Diantara kerumunan dan keramaian siswa-siswi yang berserakan dilapangan saat barisan dibubarkan, aku bersembunyi di bahu-bahu mereka untuk melihat kamu sepuasnya wulan. Dan sebelumnya saat mata-mata sedang tertutup dalam doa, disitu saya juga menggunakan kesempatan untuk melihatmu yang berdiri di barisan terdepan.
Ketika kakiku menginjak pintu gerbang sekolah mengikuti mereka yang mendahului, mataku dikagetkan dengan pemandangan yang sungguh indah. Siapa lagi kalau bukan dia yang sedang duduk sendiri di halte bus didepan sekolah. Dia adalah Wulan yang sudah membius mataku sepanjang hari ini.
Aku pergi dan berdiri disana karena hanya itu tempat untuk menunggu ojek atau angkutan jurasan desa kembang.
Belum juga aku sampai di tempat itu, aku melihat dia sudah terlebih dahulu tersenyum kepadaku.
Langkahku mulai kaku untuk terus melangkah kedepan karena langkahku seperti ditarik dan ditahan untuk pergi kesana. Tetapi apa dayaku menahannya pergi, karena memang harus disitu saya menunggu busnya. Terpaksa aku pergi kesana.
"Hai, " Sapaku kepadanya yang sedari tadi aku pikirkan untuk menyapanya.
Dan mungkin inilah kata pertama yang terucap dari sejumlah kata dan dari sebuah kisah yang sedang inginku ceritakan. Dan kata ini hingga sekarang tidak pernah aku lupakan momennya.
" Hai " iya membalas sapaku. Wahai angin bawalah aku terbang ke awan-awan tanpa sepasang sayap.
Setelah itu aku berdiri disampingnya tanpa sepatah kata pun yang tercap lagi dari bibirku. Dan mata ini terus melihat keujung jalan mencoba mengeja isi hati. Aku tidak sempat lagi bertanya tentang dia tinggal dimana ataupun sekarang dia mau kemana. Karena didalam hatiku hanya satu yang sedang saya pikirkan...
" Ya Tuhan cepatlah kirimkan aku sebuah kendaraan untuk pulang. Aku sudah tak tahan hanya diam berdiri disini. " gumanku dalam doa hati.
Tapi sayang sepertinya Tuhan berkehendak lain. Sudah setengah jam kami menunggu, namun belum juga ada bus yang datang.
" Kamu tinggal dimana" Aku mencoba beranikan diri untuk mencairkan suasana yang mematung itu.
" Sama seperti kamu juga." kata itu keluar dari bibirnya dengan matanya yang indah matapku mesra. Seakan memeluk diriku dengan begitu eratnya.
"Jadi kamu tinggal di desa kembang." Kataku kepadanya.
" Iya... Kayaknya ini udah gak ada bus lagi. Gimana kalau kita jalan kaki aja. Ini pasti akan lama busnya datang. " kata Wulan.
" Gak apa-apa, kalau kamu mau." jawabku kepadanya. Aku heran kenapa aku bisa seberani ini iya.
" Gak apa-apa kok!!! " Kata Wulan.
Dan kami meninggalkan halte bus itu dan pulang berjalan kaki. Aku benar-benar bingung dengan apa yang sedang dia pikirkan. Tapi yang pasti aku benar-benar galau pikiranku. Antara senang karena jalan bersamanya dan takut kalau dijalan aku hanya akan diam-diam saja.
__ADS_1
Ternyata yang aku pikirkan itu salah.
" Nama kamu Rhidokan. " Wulan bertanya kepadaku.
" Iya, kok kamu tahu." Karena saking groginya, aku memberikan sebuah jawaban terbodoh yang pernah aku katakan.
" Kamukan tadi udah memperkenalkan diri didalam kelas." kata Wulan kepadaku.
"Oh.. jadi karena ini makanya Wulan melihatku saat aku menyebutkan desa kembang didalam kelas." Gumanku dalam hati.
"Oya,, lupa saya." Dengan sedikit tersenyuman malu
aku mengatakan itu.
"Lalu kamu tinggal dirumahnya siapa? Sepertinya aku belum pernah melihat kamu di desa kembang!! " Aku bertanya kepadanya.
" Apa kamu kenal tante linda" tanya wulan.
" Tante Linda siapa, " jawabku yang benar tidak tahu siapa dia.
(Jadi Wulan tetanggaku yang baru.)
" Oh itu aku kenal, "jawabku.
" Mereka itu sangat baik sekali. " lanjutku.
" iya begitulah yang kudengar dari orang-orang" balasnya kepadaku.
" Jadi kamu tinggal sama mereka. Berarti kita tetangga dong!!" aku berbagi cerita kepadanya.
Sungguh suatu perubahan bagiku. Karena seumur hidupku, belum pernah aku bercerita sama wanita yang baru akau kenal sampai sedalam ini. Dan mungkin ini adalah yang pertama kalinya.
" Iya aku tinggal sama mereka. Aku baru datang kemarin dan tidak sempat ikut kegiatan kemarin. Dan hari ini baru aja saya kesini. "wulan bercerita kepadaku.
" Pantasan aja saya belum pernah lihat kamu sebelumnya. Makanya tadi aku sempat gak percaya kalau kamu benar tinggal didesa kembang. " kataku kepadanya.
__ADS_1
" hhhhhh.. Jadi kamu pikir aku berbohong begitu " tawanya mengejekku.
" Aduh Tuhan... saya sudah sampai dimana ini." kataku didalam hati.
Siang itu kami bercerita banyak hal tentang Wulan dan kehidupan saya. Dan karena saking seriusnya kami ngobrol, serasa sejam seperti satu menit saja, sehingga kami sampai lupa kalau langkah kami telah sampai didesa kembang tempat kami tinggal. Persis didepan rumahnya Om Tinus. Disana ada Om Tinus yang sedang duduk didepan rumahnya.
" Selamat siang om, " sapaku kepada om Tinus yang sudah sering kulakukan saat masih sekolah di SMP dulu.
" Eh selamat siang Rhido. Kalian udah saling kenal iya. " Kata om Tinus kepada Wulan.
" iya om,, baru aja tadi akrabnya om dan ternyata kami juga satu kelas om. " kata Wulan kepada om Tinus.
"oya udah baguslah, kalau kayak ginikan om gak kawatirkan kamu disekolah nanti. Iyakan Rhido.. " tanya om Tinus kepadaku.
" ehh.. Om bisa aja. " kataku.
" Oya om,, saya terus dulu ke rumah, om. " aku pamit kepada om Tinus.
Karena rumahku berbeda lima rumah dengan rumahnya om Tinus.
" Wulan,, saya terus dulu, " aku mencoba pamit ke wulan.
" oya daaa... " kata wulan dengan senyum manisnya.
Aduh Tuhan terimakasih untuk semua ini.
Aku meninggalkan mereka dengan hati yang begitu senangnya. Hatiku berbunga-bunga.
" Sampai ketemu lagi film episode selanjutnya "
" Salam"
From Rhido
Dear Wulan.
__ADS_1