
* 3 Agustus 2014
Hari itu aku gak masuk sekolah karena kakiku Masih sakit. Aku hanya dirumah saja, mencoba memijat-mijat kaki untuk cepat sembuh.
Sore ini akan ada pertandingan selanjutnya yaitu kami akan melawan desa melati. Desa melati sekarang berada diperingkat pertama untuk grub D, disusul kami dan dua tim lainnya.
Aku benar-benar gak bisa berbuat apa-apa pagi itu, hanya tangan yang terus menggoreskan beberapa Nada pada kertas buram....
______________________________________
Dear Wulan,
Maaf langkahku terhenti
Aku telah kalah
Memperjuangkan cinta
Kamu.........
Maaf..........
Aku telah terjatuh
Karena aku sungguh tak patuh
pada hati nurani.
Maaf...........
Kamu akan menjadi miliknya
Akan menjadi pengagummu dari jauh
Maaf, aku telah mengecewakanmu.
Wulan.......
Rhido
_________________________________________
__ADS_1
Setelah menulis itu dan membereskan semuanya, aku kembali berbaring menikmati denyut-denyut sakit pada pergelangan kakiku.
Sore itu aku tidak bisa mengikuti pertandingan itu. Aku tertidur hingga jam telah menunjukkan pukul tiga.
" Tok,,, Tok,, Tok,,, Rhido!!!" Suara orang mengetok pintu.
" Iya tunggu sebentar." jawabku sambil bergegas pergi membukakan pintu. Karena saat itu ayah dan bunda telah pergi ke sawah dan adik-adikku pergi menonton pertandingan dilapangan.
"Ehh Wulan,,, ayo masuk." Aku menyuruh Wulan masuk dan kami ngobrol diruang tamu.
" Kamu gak ikut " Tanyaku kepada Wulan.
" Iya,,," Jawabnya.
" Pasti karena gak ada aku disana iya " ejekku kepada Wulan.
" Ihhh, PD sekali kamu ini." Jawab Wulan kepada ku.
"Ini aku bawakan minyak buat pijat kaki kamu." kata Wulan sambil memberikan minyak itu kepadaku.
Aku sedikit bergerak untuk memperbaiki dudukku.
" Sini aku bantu pijit kaki kamu." Kata wulan Sambil mendekati tempat aku duduk saat itu.
" Sini aku bantu." Kata Wulan memaksaku memberikan kembali minyak kepadanya.
Dia mulai membuka tutup botolnya dan menggosok-gosok menyak itu di pergelangan kakiku yang sakit.
" Kamu kenapa kemarin, memaksakan diri untuk bermain." kata Wulan kepadaku.
" Iya karena kamu." Jawabku sejujurnya.
" Maksud kamu," Kata Wulan sambil melihat kearah wajahku.
" Gak, lupakan aja." Kataku mencoba untuk mengalihkan pembicaraan. Terlihat Wulan ikut mengabaikannya saja..
" Aduh....!!!" Aku berteriak saat Wulan memegang tepat dikakiku yang sakit dengan tanganku memegang tangannya untuk menghentikan sejenak pijatannya itu.
Wulan melihat kearahku ketika tanganku memegang tangannya. Pandangan kami bertemu pada satu titik garis horizontal pandangan saat itu.
Sedetik kami masih menikmati pandangan itu, menatap mata jauh kedalam hati, telusuri setiap dentum jantung berdentum. Mata manisnya tak berkedip alirkan rasa dalam satu tatapan hingga pada akhirnya Wulan memalingkan mata saat matanya berkedip.
__ADS_1
Ingin rasanya kutahan kedipan itu hingga pandangan ini membawa Wulan kepada apa yang kurasakan dihatiku. Sebuah rasa cinta yang terpendam di dasar samudera hatiku.
" Sakit iya, " Tanya Wulan.
" Iya,,, tapi kayaknya sekarang udah mendingan." Bilangku pada wulan.
Aku menatap Wulan yang sedang memijat kakiku.
" Wulan,, senarnya kamu juga ngerasain yang sama gak sih seperti aku." Ungkapku didalam hati.
" Akhir-akhir ini kamu begitu perhatian sama saya. Apa kamu juga suka sama aku." Hatiku terus saja memikirkan wulan.
" Wulan!!!" aku memanggil Wulan.
" Iya....." Wulan menjawabku.
" Makasih iya, untuk kemarin dan hari ini. Kamu memang tukang cubit yang baik hati." Ungkapku padanya sambil tersenyum.
" Auw,,,,, " Wulan mencubit kakiku.
" Dasar tukang cubit. Senangnya cubit aja." kataku kepada Wulan.
" Biarin." kata Wulan singkat.
" Ido!! Aku pulang dulu iya, takut om Tinus datang nanti." Kata wulan.
" Oya,,, hati-hati iya." aku memberikan balasan perhatian kepada Wulan.
Setelah Wulan pergi, aku membayangkan kejadian yang tak terbayangkan sebelumnya itu. Aku saat itu melihat berita pemerintah di televisi. Lalu datang adikku...
" Kak Ido.." panggil adikku Patris.
" Iya..." jawabku.
"Kita kalah 3:0 , kak." adikku menceritakan itu.
Aku benar-benar terpukul dengan berita itu, aku membayangkan akan kehilangan Wulan bila aku kalah nanti.
" Ini tidak bisa di biarkan " Aku berbicara sendiri sambil memaksakan diri untuk berjalan.
" Thanks... Sampai ketemu lagi di episode selanjutnya "
__ADS_1
From Rhido
Dear Wulan