
Kami pun mulai berpacu langkah pada jalan yang akan kami tempuh menuju desa kembang seperti kemarin. Desa kembang adalah tempat yang penuh dengan kenangan dan cerita tentang saya dan Wulan.
Siang itu ibarat kata, waktuku seperti pelangi. Walau hanya sebentar tetapi tak pernah terlupakan. Siang itu adalah momen bersejarah dalam catatan kelabuku dilangit biru bersama Wulan.
Seperti biasa kami melewati perumahan disekitar desa Melati, juga pos perbatasan antara desa melati dan desa kembang tempatku tinggal.
"Selamat Siang pak alber," Sapaku pada seorang satpam disitu yang kebetulan aku mengenalnya.
" Selamat siang juga, Rhido!! Udah pulang sekolah!!!" balas pak alber kepadaku.
"Iya pak. Kami terus dulu pak." kataku.
" Eh.. tunggu!! terus yang itu siapa? Pacarmu iya??"" Sambil menunjuk wulan yang berdiri di sampingku.
" Ehhh bapak bisa aja!! iya,, maaf pak. Perkenalkan ini namanya Wulan. Keponakan bapak desa (pak Tinus). Orang pendatang ."" jawabku memperkenalkan Wulan kepada pak Alber.
"Oh pikirnya dia pacar baru kamu,"" kata pak Alber lagi.
Sungguh aku sangat malu sekali saat itu. Bahkan sejenak aku menjadi takut untuk menatap mata Wulan. Aku tidak tahu apa Wulan merasakan hal yang sama seperti apa yang kurasakan saat ini.
"Semoga iya Tuhan" kataku didalam hati.
"Pak kami terus dulu" aku pamit sama pak Alber.
"oiya... hati-hati iya"" kata pak Alber.
"Daa,,, pak Alber " kata Wulan.
Pak Alber hanya tersenyum dan menganggukkan kepala kepada kami. Dan kami mulai melangkah lagi meninggalkan pak Alber. Diperjalanan pulang kali ini kami dipenuhi dengan banyak ketawa dari cerita lucu dia dan beberapa dari saya juga.
"Wulan!!"" sapaku kepadanya.
" Iya " jawabnya.
__ADS_1
("Ya Tuhan, bantulah aku,"") aku bergumam didalam hati.
"Kamu mau gak ikut saya kesuatu tempat!!!" ajakku padanya. Saat itu hari masih belum terlalu siang.
"Kemana!! jauh apa gak ??" tanya Wulan kepadaku.
"Ikut aja dulu, nanti juga kamu tahu." balasku.
Dia menganggukan kepalanya tanda setuju dengan ajakanku. aku mulai memberanikan diri memegang tangannya. Awalnya aku ragu tapi aku harus memulainya. Kupegang tangannya perlahan, kulihat iya tidak bergerak dan malahan iya memberikan senyuman yang memanjakan siang itu.
Seperti mendapat angin segar di siang bolong, aku menarik tangannya menuju sesuatu tempat yang Wulan belum tahu. Tempat itu adalah Bukit batu Raja namanya. Sebuah tempat yang sederhana tetapi begitu sangat menawan. Mungkin tempatnya tak seindah Raja Ampat di Papua atau tak seindah Kelimutu di NTT, tetapi bukit ini menjadi kebanggaan kami desa kembang dan desa melati.
Tinggi sekitar Lima belas meter dari dasar kakinya. Tempatnya seperti susunan batu yang menjulang keatas langit dengan beberapa pohon bonsai menghiasinya. Dan dari sana kita bisa melihat para petani sedang bekerja diladangnya.
"wow.. ini keren sekali!!" kata Wulan.
"apa kamu suka dengan tempat ini?" Tanyaku kepadanya.
" Aaaaaaahhhhhhhhhhh" teriak Wulan sekeras kerasnya.
Aku merasa sangat senang sekali melihat Wulan senang dengan kejutan dari saya.
" Semoga ini menjadi awalan yang baik " Kataku didalam hati.
" Ini benar-benar indah bangat. Thanks iya Rhido" katanya lagi.
"Sebenarnya ini akan lebih indah lagi kalo dilihatnya pas sore nanti!!"" kataku menjelaskan.
""Emang ada apa dengan sore?"" cetus Wulan
"Coba kamu lihat disana, diantara bukit yang berawan itu,"" kataku kepadanya.
"emangnya disitu ada apa sih ido,""" kata Wulan memanjakan.
__ADS_1
"Ya Tuhan, apa aku salah dengar. Barusan Wulan memanggilku Ido."" gumanku dalam hati.
"Cieee,,, ada yang penasaran ni koo""" ejekku pada Wulan.
"Kalau kamu gak beritahu ya sudah gak apa-apa,!!"" Wulan berkata dengan nada rendah.
"Ya Tuhan, aku suka sama dia. Aku suka tawanya. Aku suka senyumnya. Ya Tuhan, bahkan lagi ngambek gini pun aku suka sama dia." kataku dalam hati.
" Apa aku harus mengatakannya sekarang."
" Wahai matahari bantulah aku mengungkapkannya."" gumanku didalam hati sambil melihat senyumannya itu.
"Wulan!!"" sapaku.
" Apa ??""" kata Wulan.
"Iya jangan marah juga kali." kataku kepadanya.
"Ayo kita pulang ?" kata Wulan.
Mendengar katanya itu, aku bagaikan ditusuk dengan Tombak yang sangat tajam sekali. Karena aku akan gagal mengungkap isi hatiku kepadanya.
"Ayo". Terpaksa aku mengatakan kata itu, karena dia mulai memaksaku pulang.
Ah sial sekali aku ini. Dan hari ini adalah kenangan terindah pertama aku bersamanya yang tak mungkin aku lupakan seumur hidupku.
" Sampai ketemu lagi di episode selanjutnya "
" Salam hangatku memelukmu diwaktu yang berbeda "
From Rhido
Dear Wulan
__ADS_1