
Sekarang tibalah waktu yang telah aku tunggu beberapa jam yang lalu. Waktu dimana aku akan bertamu ke rumah calon mertua. " Hhahahhahahahah... Muka Gileee"
Tetapi semuanya itu masih berada di dalam mimpi karena Wulan belum aku taklukan isi hatinya. Karena Wulan belum aku catatkan namanya didepan namaku. Semuanya masih diproses.
Sebenarnya saya sudah berulang kali datang kerumah om Tinus tetapi kali ini aku sedikit canggung untuk mengetuk pintu rumahnya.
Semua ini karena perubahan rasa didalam diriku pada suasana di rumah itu. Saat itu hari telah menunjukkan dirinya telah mencapai ujung waktunya yakni pukul empat sore. Cakrawala sudah hampir tak bersinar lagi.
" Tok,, Tok,, Tok,, " Pintu rumah om Tinus aku ketokkan. Tak lama kemudian terdengar bunyi kunci artinya ada seorang sedang mencoba membuka pintu. Ya Tuhan, bantu aku untuk tidak membuat om Tinus marah kepadaku.
" Eh.. kamu Rhido, di kiraian siapa." Kata Tante Linda menyapaku.
" Iya,, Selamat sore Tante." kataku kepada Tante Linda.
"Langsung ke dalam aja.. Om lagi nonton bola diruang santai." Kata Tante Linda menjelaskan dan menyuruhku menghampiri Om Tinus ke ruang santai itu. Aku tidak bingung untuk menemukan tempat itu karena aku sudah tahu tempatnya itu dimana.
" Oya makasi iya, Tante. " Kataku kepada Tante Linda dan aku masuk kedalam rumah mereka.
" Selamat sore, Om." Aku menyapa om Tinus.
"Selamat sore, Rhido. Silahkan duduk." Kata om Tinus menyuruhku duduk diatas kursi yang tertata rapi didepan ruang santai itu.
" Oyaa... makasi om. " Kataku kepadanya sambil duduk.
"Mana lawan mana nie, om.?? " Aku bertanya kepada Om Tinus yang dari tadi mengikuti pertandingan sepakbola di Tv.
" Barcelona lawan Villareal. Barca unggul satu kosong." Om Tinus menjelaskan jalannya pertandingan itu.
" Oya,, kamu mau minum apa.?? " Tanya Om Tinus kepadaku.
" Apa aja om." Kataku merendahkan diri dihadapannya siapa tau dia berminat dengan calon menantu seperti aku. " Hahahahahaha" Ketawa dalam hati.
" Wulan!!!" pak Tinus memanggil pujaan hatiku Wulan.
__ADS_1
Akhirnya misi cadanganku hari ini berhasil juga. Sebenarnya aku jadi bersemangat untuk datang kesini karena ada Wulan kalau gak udah lari saya pergi main Bolavolly atau kemana aja sama teman-teman.
" Iya,,, om." Kata Wulan yang saat itu telah sampai didepan kami.
Aku melihat mulai dari langkah kakinya saat mendekati kami. Inci demi inci aku perhatikan gerak-gerik tubuhnya. Saat itu Wulan hanya memakai celana pendek berwana coklat. Yang memperlihatkan lekuk paha dan pinggulnya yang sangat seksi dengan kaos oblong berwarna putih yang sedikit memperlihatkan dadanya.
Kali ini mataku terpana kepadanya karena Wulan disekolah dan di rumah cukup berbeda. Ia terlihat sederhana sekali tetapi sangat menawan mata-mata yang memandangnya saat itu.
" Tolong buatkan kopi untuk Rhido.'' Perintah pak Tinus kepada Wulan.
Aku melihatnya tanpa sapa, hanya senyuman manja yang aku perlihatkan kepadanya karena bleki tak jadi mengejarku sore itu. Wulan membalas senyumku dengan senyumnya yang sedikit mengancam. " Hahahahahhahah" ketawaku dalam hati.
"Sebenarnya, ada apa sih.?? kok Wulan takut sama om Tinus iya." gumanku didalam hati.
Wulan pun pergi kebelakang lagi untuk membuatkan minum. Tidak begitu lama langkah Wulan kembali datang membawa sebuah nampan dengan dua gelas kopi hitam. Wulan menaruhnya diatas meja dan.....
" Silahkan diminum." kata Wulan kepada kami dengan senyuman yang sedikit berbeda dari biasanya kepadaku.
"Lan Trimakasih iya.."' kataku kepada Wulan dengan banyak senyum kemenangan.
" Ada apa ini,?? Kok Wulan memaksa iya."" Perasaanku mulai gak enak dengan kopi buatan Wulan ini. Tapi mau gimana lagi terpaksa gue minum.
" Ayo,, silahkan diminum." kata om Tinus.
Dengan pelan aku mengambil cangkirnya, mataku melihat kearah Wulan, eh ternyata Wulan sedang melihatku mulai minum saat itu.
Lalu aku minum kopi itu dengan santai, tetapi saat bibirku menyentuh airnya ternyata Wulan benar-benar tidak memberikan gula sama sekali dan bahkan airnya itu sangat panas bangat. Aku hampir saja memuntahkan air yang ada dimulutku.
Tapi pikirku nanti apa kata om Tinus kalau ketahuan calon menantu gak menghargainya. Dan juga Wulan pasti dimarahin karena dijahilin, aku jadi gak tega juga. Aku sedikit menutup mata dengan seketika semua kopi di mulut telah masuk semua ke perutku.
Wulan yang saat itu melihatku menutup mata sedikit melakukan ketawa-ketawa nakal bangga dirinya berhasil mengerjain aku.
Saya melototkan mata mengancamnya dibelakang om Tinus. Terlihat ia terus tersenyum seakan ingin tertawa sekeras-kerasnya mengejekku.
__ADS_1
" Oya.... jadi begini nak Rhido."
Pak Tinus mulai menjelaskan maksud dari saya diundang kesini adalah untuk siap-siap mengikuti acara lomba bolavolly antar desa di kecamatan dalam rangka memperingati HUT RI.
Saat itu Wulan sudah tak ada ditempat itu.
Dia telah masuk kedalam kamarnya yang saat itu bersampingan sama ruangan santai.
" Bagaimana,,, bersediakan." Tanya Om Tinus kepadaku.
" Oh siap pak." Aku mengiakan itu.
Jadi saya sedikit jago bermain Bolavolly didesaku. Dan orang-orang didesa sudah tahu itu. Tetapi setiap kali ada pertandingan meski dipaksa pun aku selalu tidak mau karena malu dengan orang banyak.
Tetapi kali ini aku mau karena ada wulan. Apa kata dia kalau ketahuan aku itu orangnya penakut pasti ditolak nanti pas aku menembaknya dengan Cinta.
" Nanti kamu ajak teman-temanmu untuk mulai latihan karena pertandingannya itu dimulai dari tanggal satu Agustus nanti." kata om Tinus menjelaskan itu.
"Punya bakat kok kamu sembunyikan." kata om Tinus lagi.
"Nanti tolong kamu daftarkan nama-namanya lalu Kasikan ke aku.
" Oh siap om," kataku kepadanya.
" Oya,, kopinya dihabisin dulu."" Om Tinus menyuruhku menghabiskan kopi itu.
" Ah,,, sial. Awas kamu, Wulan. nanti kamu saya kerjain balik." gumanku didalam hati mengawali acara minum kopi pahit ala Mpok Wulan yang baik hati.
Saat itu aku pun berpamitan pulang kepada Om Tinus dan Tante Linda tetapi Wulan telah sibuk belajar didalam kamarnya. Jadi aku tidak sempat berpamitan kepada Wulan.
" Sampai ketemu lagi di episode selanjutnya "
From Rhido
__ADS_1
Dear Wulan