
Hari ini adalah hari yang ku nantikan dari kemarin sejak Wulan mau berbicara lagi sama aku diatas bus dikala kami pulang sekolah kemarin. Hari ini nafasku berhembus bebas tanpa rintangan dan tanpa kekhawatiran.
Sejak malam tadi aku terus memikirkannya. Memikirkan satu kata apa yang akan Wulan katakan saat iya melihatku hari ini. Wulan Tolong berikan aku satu senyuman kamu yang manis itu untuk hari ini. Sehingga asaku tetap bersemangat untuk mendapatkan ka0mu.
Pagi ini semua aktivitas seperti biasa terlewati pula seperti biasanya. Dan didalam kelas semua siswa duduk ditempatnya masing-masing. Saya pun menghampiri tempatku dan mengeluarkan beberapa buku keatas meja. Semuanya melakukan hal yang sama seperti aku termasuk Wulan.
Ada juga yang duduk bercerita karena menurut informasi guru sejarah hari ini gak masuk. Jadi kami bebas melakukan apa saja. Aku memilih mencoret-coret dibuku yang masih belum ada tulisan dan kali ini aku pura-pura tidak menghiraukan Wulan.
Tiba-tiba sebuah tangan menarik buku yang sedang aku coret-coret itu dan membawanya berlari menjauh. Dia adalah Beni yang memang suka usil dan mengganggu. Aku membiarkannya saja dan tidak mengejarnya. Dia membuka buku itu dan mulai membacanya dengan suara lantang.
Dear Bunda.
Doakan aku mengejar mimpi,
Pada titik terdasar bumi ini
Anakmu sekarang mencoba mulai berlari.
Langit yang ingin ku gapai,
Bersama awan dan mentari
Mencoba bergabung diantariksa
Mengukir sebuah glaksi
Untukmu bunda.
Bunda.....
Bantu aku..
mewujudkan mimpiku.
ijinkan aku, mengukir senyummu.
Dengan sebuah prestasiku.
Ananda mu
Rhido Padrepio
__ADS_1
Ketika beni membaca puisi sederhanaku semuanya mendiam, tak ada yang bersuara. Bahkan Wulan pun ikut memperhatikan beni membaca tulisanku itu. Aku melihatnya, ternyata dia sudah terlebih dahulu memperhatikanku dengan senyuman manis madunya yang terlukis diwajahnya.
Awalnya aku malu mendengar beni menbaca tulisanku itu tetapi ketika beni telah selesai membacanya, semua teman-teman bertepuk tangan kepadaku. Aku sedikit malu karena semua itu, karena sangka ku itu sangat lebai sekali.
"Rhido, puisi kamu bagus sekali. Buatkan satu untuk saya dong." Kata Dini kepadaku.
"Ah.. biasa aja kok. Lagian saya juga baru belajar mencoret-coret seperti itu." kataku merendahkan diri dihadapan mereka semua. Dan Wulan masih pada tatapannya kepadaku.
Andai bisa maka pasti sudah aku cubit pipi montoknya yang menggemaskan itu.
"Ini buku mu saya kembalikan." kata Beni kepadaku sambil memberikan kembali buku itu.
Akhirnya aku bisa kembali menikmati senyummu Wulan. Saat itu aku ingin kesana menyapanya tetapi kakiku gengsi takutnya diganggu sama beni dan Yanto. Dan akhir aku mengurungkan niatku itu dan membaca ulang puisiku tadi.
" Karena kamu, Wulan bisa tersenyum lagi sama saya." kataku didalam hati kepada puisi yang aku buat itu. Lalu kuberi bingkai pada puisi itu.
Pagi itu kami lewati dengan tanpa pelajaran. Ketika lonceng istirahat berbunyi, terlihat semuanya mulai meninggalkan kelas satu persatu, Beni dan Yanto juga ikut keluar tetapi aku tidak mengikuti mereka. Karena dalam pikiranku memikirkan Wulan yang saat itu juga belum keluar, Namun Deta dan Yanti masih menemaninya disitu.
"Hhmhmhmhmhm... " Aku sengaja batuk menyinggung teman-teman Wulan supaya keluar meninggalkan kami.
(Ketika itu Deta melihat kearahku. Lalu aku mengedipkan mataku padanya yang artinya aku menyuruh mereka keluar.)
" Lan, Ayo kita ke kantin." Kata Deta mengajak Wulan.
" Ayo Yanti. " kata Deta kepada Yanti.
( Lalu mereka meninggalkan kelas dan tinggal saya dan Wulan yang masih didalam sana.)
Aku menghampirinya dan duduk tepat disampingnya....
"Wulan... Saya minta maaf untuk yang kemarin." Kataku kepadanya.
"Sebenarnya itu aku cuman bercanda aja. Jangan marah lagi iya. " kataku kepadanya.
( Tapi aneh juga iya kok bisa Wulan marah hanya karena saya mengatakan berutang Budi kepadaku.)
Terlihat Wulan dengan sedikit tersenyum dan mengatakan....
" Kamu takut kehilangan saya, iya....." Katanya mengejekku.
" Gila ini, bikin aku kawatir aja." Kataku kepadanya.
__ADS_1
"Sebenarnya, kemarin aku cuman bercanda aja tapi kamu malah menganggapnya serius."' Kata Wulan lagi.
" Tapi kamu cocok juga iya jadi pemain drama" kataku mengejek.
" Menurut kamu, aku cocoknya jadi pemeran apa ?"" Wulan bertanya kepadaku.
" Kamu cocok jadi antagonisnya. hahahahha.." aku mengejeknya.
" Oke, aku marah lagi aja ah.. " katanya begitu.
" Wulan." aku memanggilnya untuk menatap mataku.
" Saat kamu mendiam dan menjauhiku, rasanya aku ingin menghilang saja dari bumi ini," kataku serius kepadanya.
" Emangnya kenapa?? Haahahaaa.. kamu pintar ngelawak juga iya." kata Wulan kepadaku.
" Aku mengatakan yang sebenarnya. Karena bagiku kamu adalah....." (Tiba-tiba)
" Woiii..." ( Wulan dan Yanti telah kembali dari kantin.
Aku pun tidak jadi melanjutkan kataku itu karena tidak akan mungkin saat itu aku mengatakan kepadanya kalau aku suka sama dia.
" Hayo lagi ngapain itu. Duduk berdua-duaan gitu." Kata Yanti mengejek aku sama Wulan.
Aku mulai salah tingkah ketika mereka mengejekku seperti itu. Aku mulai bingung mencari alasan untuk mengelak.
" Ini apa, anu, apa ini. itu? " Tak ada satu kata pun yang keluar dengan jelas dari bibirku.
"Aku yang panggil Rhido untuk ngajarin aku ini, tapi malah dia juga gak mengerti." kata Wulan sambil menunjuk tugas dari Fisika.
" Ohhhh...." Kata mereka sambil sedikit ketawa.
Aku pun bangun meninggalkan Wulan dan kembali duduk di tempatku. Dengan sedikit rasa kecewa karena perasaanku gagal terungkapkan pada Wulan.
Gak lama semuanya telah kembali dan kami mengikuti pelajaran selanjutnya hingga usai. Dan hari itu pun terlewati dengan percakapan biasa-biasa aja saat kami pulang sekolah bersama kak Alex , kak Martin dan kak Lia.
Cerita kenangan hari itu 19 July 2014.
"Sampai Ketemu lagi di episode selanjutnya"
" Salam hangatku menyapa kamu di waktu yang berbeda "
__ADS_1
From Rhido
Dear Wulan