
Pagi ini hari kembali menyapa kami dengan cahaya yang sama juga masih pada suasana kemerau yang sama dan cerita yang berbeda. Dan catatanku dilangit biru permanenkan ceritaku pada dirinya.
Pagi itu saat apel pagi semua siswa telah siap mendengar pengumuman pagi. Diatas panggung ada juga berdiri dua orang tentara.
" Ada apa ini.!!" (berguman didalam hati.)
"Ini pasti pemilihan paskibraka," (Suara bisikan yang kudengar dari arah barisan kakak kelas dua dan tiga.)
"Oke baik, jadi hari ini kita kedatangan tamu terhormat dari pemerintah dan dengan hormat kita diminta untuk bersedia mengikuti paskibraka untuk merayakan HUT RI nanti." kata pak Anis. Beliau adalah guru kesenian.
(Pak Anis mempersilahkan bapak-bapak tentara itu untuk memulai agendanya.)
" Oke baik Trimakasih, " Kata tentara itu dengan memasang muka ganasnya.
Tentara itu mulai menyampaikan tentang apa arti patriot sekarang dan patriot yang dulu. Kata-kata tentara itu cukup memberikan kepada kami motivasi untuk berjuang di era kini.
Dan saya pun menjadi sadar bahwa perjuangan bukanlah sesuatu yang dientengkan saja. Perjuangan adalah untuk mempertahankan sesuatu dan harus benar-benar dilakukan dengan sungguh-sungguh. Sehingga apa yang kamu perjuangkan tidak menjadi hilang atau direbut orang.
Wulan aku akan disini untukmu. Berada di sisimu dan akan mendapingimu meski harus bertarung sama Rudy sekalipun. Aku akan tetap disini, menjadi tapak yang akan menggoreskan jejak-jejak kenangan masa lalumu sampai bila nanti Tuhan mengatakan bahwa kamu bukan untukku.
Setelah itu, mereka mulai masuk kebarisan dan memilih diantara kami, siapa saja akan ikut kecuali kakak kelas tiga yang sekarang sudah mulai mempersiapkan diri untuk ujian nasional nanti.
Pagi itu aku tidak melihat Rudy dibarisannya, mungkin sembunyi karena tidak mau mengikuti paskibraka. " Dasar pecundang" Berkata dalam hati.
Banyak siswa yang sudah terpilih saat itu dan juga Wulan terlihat olehku juga telah ikut terpilih. Dan bapak-bapak itu masih terus melakukan aktivitas pemilihannya.
"Kamu juga sana ikut." Kata seorang dari tentara itu seraya mendorongku.
"Yes, aku bisa membanggakan diri dihadapan Wulan, " ucapku didalam hati.
Tetapi tiba-tiba ada suara....
" Pak saya juga mau ikut paskibraka." Suara Rudy dari arah toilet sekolah.
"Ah sang pengacau juga ikut lagi."
"Rudy, kamu dari mana aja." Tanya pak Anis.
" Toilet " Jawabnya singkat kepada pak Anis.
Para guru telah tahu dengan sikapnya itu dan bembiarkan saja. Bukannya takut tetapi malas ngurusin anak seperti Rudy.
__ADS_1
" Gimana pak saya bisa ikut!! Saya mau jadi patriot pak." Kata Rudy dengan sombongnya kepada bapak tentara itu.
" Munafik sekali kamu. Palingan juga kamu tidak mau aja saya dekatin Wulan. Pakai acara sok jadi patriot lagi." Gumanku didalam hati.
" Kamu bisa ikut. " Kata tentara itu kepada Rudy.
Lalu dia masuk kebarisan kami dengan senyuman kemenangan kepadaku. Dia menghampiri Wulan dan berdiri di sampingnya. Terlihat Wulan sedikit risih namun didiamkan saja. Aku tidak tahu kenapa Wulan menerima perlakuan itu begitu saja.
" Oke baik yang tidak terpilih silahkan masuk ke kelas masing-masing." kata pak Anis setelah menerima isyarat dari bapak tentara itu.
Pagi itu kami melakukan beberapa latihan dasar baris-berbaris. Dan Rudy pagi itu benar-benar membuat kesabaraku hampir aja hilang. Iya selalu membuntuti Wulan kemana pun Wulan berdiri dan pergi.
" Latihan sementara sampai disini aja dulu, dan selanjutnya untuk besok dan seterusnya kita akan latihan di lapangan kecamatan. Sekian dan terimakasih." Kata pak tentara itu mengakhiri latihan hari itu.
Dan untuk kali ini, baru aku lega rasanya saat melihat Rudy melepaskan Wulan karena memang rumahnya berlawanan arah sama kami.
Wulan bebas memilih siapa yang akan dia dekati. Aku hanyalah teman yang mengaguminya. Aku hanya teman yang memendam rasa kepadanya. Dan aku sadar bahwa saat ini dia belum menjadi milikku.
Selama Rudy bersama wulan, tak banyak yang bisa aku lakukan. Melihat drama dari Rudy rasanya sesak nafas didalam dadaku. Nafasku seakan terhenti berhembus setiap melihat kearah mereka.
Tetapi meski ragaku telah terbakar oleh api cemburu, Aku tetap sadar dan aku tahu bahwa Tuhan punya rencana yang indah untuk semua mulai sejak awal setiap insan dibentuk untuk terlahir di bumi yang penuh dosa ini.
*******
" Gak minta diantar sama Rudy." kataku sedikit cuek.
" Sebenarnya kamu kenapa sih.!!! Akhir-akhir ini kamu berubah sekali." Kata Wulan kepada diriku.
" Tidak..!!! lupakan aja. Ayo kita pulang.?? " Aku gak mau membahas hal-hal yang membuat Wulan marah.
" Aku gak mau pulang sebelum kamu menjawab pertanyaanku." Kata Wulan kepadaku.
" Iya sudah kamu disini, saya pulang dulu iya." Sambil meninggalkannya karena saat itu kebetulan ada bemo yang lewat.
" Pak berhenti pak." Aku memberhentikan bemo itu.
Setelah bemo itu berhenti aku melihat kearah Wulan.....
" Kamu mau pulang apa gak??? Kalau gak mau iya sudah." Kataku mengajak Wulan saat itu.
" Iya,, " Kata Wulan sambil berjalan kearahku.
__ADS_1
Didalam bemo tempatnya terbatas, dan dengan terpaksa kami harus duduk bersampingan dengan lengan kami saling bersentuhan. Aku merasakan lembut tangan Wulan yang bercampur keringat saat itu.
" Tuhan, ijinkan aku membahagiakan wanita di sampingku ini." Doaku dalam hati.
Saat itu Wulan masih manyungkan bibir tandanya masih kecewa karena jawaban untuk pertanyaannya belum dia dapatkan. Tiba-tiba terpikir suatu dikepalaku..
" Buk, Boleh tanya gak." Kataku kepada seorang ibu yang duduk didepan kami.
"Mau tanya apa???" suara dari ibu itu.
" Menurut ibu cewek saya ini cantik apa gak.?? tanyaku kepada ibu itu lagi sambil menunjuk Wulan.
Mendengar kataku itu, Wulan memberikan respon yang berlawanan dengan tangannya mencubit pahaku.
" Oh gak bu.. gak bu,,, Dia berbohong. Kami gak pacaran." Kata Wulan mengelak dari apa yang aku ucapkan tadi.
Melihat tingkah laku Wulan saat itu semua penumpang menjadi ketawa. Terlihat Wulan begitu malu dengan ketawa mereka itu. Aku jadi merasa bersalah kepadanya.
" Tapi omong-omong kalian cocok jadi pasangan." Kata ibu itu.
" Cocok sama dia, buk!!! Mendingan aku sama orang gila aja. "" kata Wulan.
" Hahahhaahaa... " Ketawa para penumpang.
" Jangan gitu nanti jadi kenyataan loo" kata ibu itu lagi.
" Maksud ibu, kenyataan kalau dia akan bersama orang gila itu iya." Aku berkata kepada ibu itu.
" hahahahaha.." ketawa mereka lagi.
" Iya *gaklah,,, maksudnya kenyataan sama kamu." Ibu itu memperjelaskan.
" Amin" kataku dengan serius. Wulan melihat kearahku ketika aku mengatakan amin.
" Berharap banget!! " Bisik Wulan di telingaku.
Saat di bemo itu, pahaku benar-benar memar dengan cubitan Wulan dari tangan Wulan hingga tidak terasa kami telah sampai di desa kembang.
" Sampai ketemu lagi di episode selanjutnya "
☺See Youu
__ADS_1
From Rhido
Dear Wulan