
Keesokan harinya, aku benar-benar bersyukur karena telah melewati satu malam dengan selaksa kekecewaan. Aku sempat berpikir untuk hari ini mungkin aku telah tiada.
Aku menuangkan semua rasa duka dalam hati pada catatan puisiku.
___________________________________________
Dear malam.
Kutulis duka dan luka
Kemana aku menyembunyikan muka
Dari penantian raga
Pada Cinta............
Mata berkaca
Hati tergores kata dusta
Hanya kebohongan semata
Kamu permainkan cinta
Dear malam....
Sepi suasanamu
Menghanyutkanku pada
Pada luka yang tak bernana
Didalam hati..........
Selamat wulan, Kamu berhasil...
Berhasil menyakitiku.....
By: Rhido
_____________________________________________
Sungguh sakit hati terus membayang kata-kata Wulan. Bahkan melodi gitar yang aku mainkan pun tak mampu menghapus gema suara dusta Wulan.
Banyak pesan dari Wulan yang terus terkirim kepadaku yang semuanya berisikan kata maaf. Tetapi sulit bagiku untuk memaafkan Wulan karena hatiku benar-benar terluka.
Aku hanya mengurungkan diri didalam rumah sepanjang hari seperti dahulu yang aku lakukan saat sebelum mengenal Wulan.
Ketika sore, Kak Lia datang bertamu dirumahku...
" Rhido, ini ada undangan untuk kamu!!!" Kata kak Lia.
" Dari siapa???" Tanyaku pada kak Lia.
" Dari om Tinus." Kata kak Lia kepadaku.
__ADS_1
" Kamu yang sabar iya... aku ikut prihatin." Lanjut kak Lia lagi.
" Iya,, makasih iya..." Jawabku kepada kak Lia.
" Oya,,, aku langsung pulang aja iya..." kata kak Lia berpamitan.
" Oke,,, hati-hati.!!!" kataku kepada kak Lia.
Setelah kak Lia pergi, aku membuka Amplop undangan itu. Disitu tertulis.....
_________________________________________
"Untuk kamu___R
Maaf,,,,,
Bukan maksudku untuk menyakitmu, tetapi aku belum bisa mencintai seseorang saat ini.
Tetapi bukan berarti aku tidak menyukaimu.
___________________________________________
Aku berhenti sejenak membaca surat itu dan sempat aku membuangnya namun aku meraihnya kembali dan lanjut membacanya lagi.
__________________________________________
*******
Sekali lagi aku minta maaf karena telah menyakiti dirimu. Kamu masih maukan berteman sama aku._ Wulan_
" Aku tunggu kamu Rhido. Iya itu juga kalau kamu laki."
***
________________________________________
Wulan kamu seenaknya saja berkata seperti itu karena kamu tidak merasakannya.
" Aku terluka Wulan"" Ungkapan dalam hati sesaat setelah aku selesai membaca surat itu.
Akhirnya malam pun tiba,
" Apakah aku harus kesana? " Bertanya didalam hati.
" Tapi kalau aku gak kesana nanti bilangnya gak laki!!!" Hatiku terus mencari solusi.
Tiba-tiba handphonku Berdering, ada telpon dari Wulan. Aku memilih untuk tidak mengangkatnya meski sudah berulang kali Wulan melakukannya.
Sesaat kemudian, Wulan mengirim pesan kepadaku.
_________________________________________
" Kamu lagi ditungguin sama Om, Tante dan teman-teman lainya. Kamu benar-benar gak bisa menghargai mereka."
__________________________________________
__ADS_1
Setelah selesai membaca pesan itu.
"Tetapi aku harus kesana!! " Kataku didalam hati.
Akhirnya aku memutuskan untuk pergi kerumahnya om Tinus. Tempat dimana pesta perayaan itu berlangsung.
" Selamat malam semua," aku menyapa mereka sesaat setelah aku sampai ditempat itu dan mereka menjawab dengan serentak.
" Ayo duduk disini." Kata om Tinus sambil menunjuk tempat yang saat itu lagi kosong.
" Iya, makasih om." Kataku kepada Om Tinus.
Ditempat itu telah berkumpul semua pemain Bolavolly desa kembang kemarin. Mereka telah makan terlebih dahulu dan aku datang langsung dipersilahkan untuk makan.
" Wulan!!! Tolong bawakan piring satu." Kata om Tinus karena memang saat itu diatas meja tak ada pering.
Sesaat kemudian Wulan datang dan ditangannya memegang sebuah piring. Namun aku memilih untuk tidak memperhatikan dirinya.
" Ini piringnya" Kata Wulan sambil menyodorkan piring itu kepadaku.
Aku tak bisa menghindari tatapan dengannya saat aku menerima pering itu dan juga aku tak ingin ada orang lain mengetahui masalahku.
Ketika tatapan mata kami saling bertemu, rasanya sesak sekali dalam ragaku. Aku ingin sesegera mungkin untuk meninggalkan tempat itu tetapi aku gak bisa melakukannya.
Malam itu aku disanjung begitu tingginya tetapi aku merasa biasa-biasa saja. Mungkin semua ini karena sakit hatiku belum kunjung sembuh.
Sepanjang waktu, Wulan terus memperhatikan diriku tanpa sepatah kata apapun. Saat itu hanya kak Lia yang mengetahui semua ceritanya.
" Tuhan, dosa apa yang telah aku perbuat sehingga engkau menghukum diriku dengan beban yang begitu berat ini." Kataku
Setelah kami selesai makan-makan, kami pun ngobrol sebentar tentang perlombaan itu. Dan akhirnya kami berpamitan karena malam sudah semakin larut.
"Ya sudah om kami pulang dulu." Kami berpamitan
" Trimakasih ya untuk makanannya." Kata kak Alex mewakili kami semua.
Aku telah berada terlebih dahulu diluar saat kak Alex berpamitan saat itu. Namun saat kakiku akan melangkah pergi, tiba-tiba...
" Rhido, Tunggu..!!!" Suara Wulan memanggilku.
Sebenernya aku ingin tidak menghiraukannya tetapi saat itu ada om Tinus dan Tante Linda juga berada didepan pintu mengantar kami keluar jadi aku berbalik kepadanya...
" Iya Wulan." Aku menjawab seperti itu karena aku gak mau mereka semua tahu dengan kejadian itu.
'' Aku minta maaf" kata Wulan kepadaku dengan nada sedikit berbisik.
Tetapi aku membalasnya dengan satu kedipan mata tanpa senyuman sama sekali dan berbalik dan pergi meninggalkan tempat itu.....
" Benar-benar sakit hati ini."'"
" Sampai ketemu lagi di episode selanjutnya ".
From Rhido
Dear Wulan
__ADS_1