
Hari berlalu dan terus berlalu tak pernah berhenti menunggu bibir bodoh ini mengucapkan kata cinta. Pagi ini datang membawa ceritanya sendiri pada catatan waktu yang sekarang.
Daun-daun musim gugur telah terjatuh pada aliran sungai menuju bukit-bukit pipi hilang diujung dagu, tenggelam dilautan cinta yang tak terucap.
Mata tak mampu mengelak untuk tidak menatap hari ini. Tak bisa dipungkiri, diantara aku dan Wulan kini telah ada dia ditengah-tengah kami. Hadirnya membakar mataku dengan kesempurnaan dunia miliknya. Mengusik dan memaksa jiwaku untuk menjauhi Wulan.
Sedangkan Wulan belum juga hatiku
mengetahui seperti apa perasaannya kepadaku. Kini, aku akan berbagi hari bersama dia dari Wulan. Ceritaku akan berbagi kisah bersama dia membagi waktumu.
Entah dari mana angin membawanya datang menghampiri Wulan. Dan entah dimana matahari memperkenalkan Wulan kepada dia. Sehingga hari ini, tertuliskan pada ingatanku persaingan mendapatkan cinta Wulan bersama dia akan menjadi saksi rembulan.
Terasa berat hatiku saat ragaku bertekat mengikuti permainan ini. Tetapi nuraniku berkata " Aku tak ingin menghapus nama Wulan disini. Kamu harus memperjuangkannya."
Dia adalah Rudy. Seseorang yang memiliki segalanya, sedangkan aku hanyalah remaja bodoh yang tak punya apa-apa untuk aku banggakan kepada Wulan. Dan orang yang aku lihat kemarin sore di rumah Wulan adalah Rudy dan ayahnya.
Kata yanto, dia anak dari kepala desa batu putih. Keluarga mereka cukup terpandang. Sedangkan aku adalah anak dari keluarga bahagia yang sederhana.
__ADS_1
" Tetapi aku harus memperjuangkan Wulan. Cinta tak memandang harta." kataku meyakinkan diri.
Hari ini ketika waktu istirahat tiba adalah pertemuan pertama aku bersama dia yang bernama Rudi didalam kelas kami. Anak kelas dua IPS 3. Tatapannya kepadaku begitu berarti seakan mengancamku untuk menjauhi Wulan. Sepertinya dia telah mengetahui siapa saingannya untuk mendapatkan wulan.
Rudi adalah anak yang sangat nakal disekolah, ada banyak anak-anak yang takut kepadanya. Orangnya cukup tampan dan memiliki motor sport.
Saat itu dikelas dia menghampiri Wulan dan mengajaknya ke kantin sekolah. Terlihat olehku Wulan mengikutinya pergi dengan sesekali dia menatap kepadaku.
"Wulan,,, kamu tega sama aku. Kemarin aku mengajakmu dan kamu menolak sekarang kepada Rudi kamu malah sebaliknya." Bergumam didalam hati.
Hatiku begitu sakit menyaksikan drama Wulan yang sangat sempurna itu. Darahku mendidih didalam diam menelusuri sudut-sudut sisi gelap yang ada pada ragaku menuai kekecewaan.
"Tuhan jadikan aku kuat untuk menghadapi semua tantangan di ladang cintaku. Berilah aku jalan yang terbaik menuju panggu kebahagian dipelukan Wulan."" sebuah doa didalam hati.
Ketika langkah mereka kembali dari perjalanan mereka, menjejakkan tapak digaris pintu kelas dengan senyuman Rudy mengejekku merayakan keberhasilannya siang itu.
Seperti dipanah dengan tombak yang tajam menusuk dan merobek kulitku menembus Jantungku. Begitu perih digambarkan pada kata-kata, hatiku terluka melihatmu bahagia.
__ADS_1
Melihat senyum Rudy, jiwaku bangkitkan tekatku mengubah senyum itu menjadi rasa kekecewaan seperti yang kurasakan saat ini.
Terlihat olehku Wulan kembali duduk dengan perasaan tidak bersalah kepadaku. Dan senyumnya terus mempesona ketika bibir Rudy mengucapkan kata "silahkan duduk tuan Putry" dengan manjanya.
Aku tak kuat lagi meliahat itu dan bangkit meninggalkan mereka menuju toilet sekolah.
(Teman-teman dikelas melihatku pergi tanpa sepatah kata apapun.)
Aku mengguyur seluruh kepalaku dengan air dingin di toilet dengan harapan dapat mengurangi panasnya api cemburu yang kurasakan saat itu. Namun sayang, semua itu telah mendarah daging didalam pikiranku.
" Aku harus mendapatkan Wulan."" Tekatku kepadanya.
" Sampai ketemu lagi di episode selanjutnya "
From Rhido
Dear Wulan
__ADS_1