
Hari itu setelah pertandingan kemarin, disekolah semua pandangan kepadaku telah berubah. Aku yang dulu hanya dipandang sebagai seorang anak yang pemalu kini telah berubah menjadi seorang yang memiliki bakat bermain Bolavolly.
Ada pujian dan juga ejekan yang kuterima sekalian pada hari itu. Semalam kata bunda, saya harus menghadapi semua masalah dengan senyuman. Dan pagi itu aku melakukan sama seperti yang dikatakan bunda.
Didalam kelas banyak dari teman-teman menceritakan pertandingan kemarin dengan sesekali menyebutkan nama saya. Ketika waktu istirahat tiba, Wulan datang mengajakku kekantin. Saat itu aku tidak mau menolaknya karena pikirku kalau aku tidak mau nanti Rudy datang merebutnya, jadi aku menerima ajakannya itu.
" Tumben,,, mau jalan sama saya. Biasanya jalan sama Rudy,!!!!" kataku kepadanya.
" Cieee,,,,, ada yang lagi cemburu ini." katanya mengejek.
(Tanganku mencubit pinggangnya.)
"Sok tau kamu."" kataku kepadanya.
(Wulan menjerit kesakitan.)
Di kantin sekolah....
" Kamu mau minum apa.? " Tanya Wulan kepadaku.
" Es teh aja." Aku memilih es teh karena uangku terbatas.
"Ya udah... Buk!! Tolong es tehnya dua.!!" Wulan memesan.
( Waktu itu aku tidak melihat Rudy sama sekali.) '" Kemana iya anak itu." gumanku didalam hati.
Wulan datang menghampiriku yang telah terlebih dahulu duduk saat dirinya pergi memesan tadi. Wulan memilih duduk dihadapanku dan tak bisa kupungkiri mata kami akan selalu bertatapan dalam setiap detik waktu yang indah itu.
Kali ini aku benar-benar duduk berhadapan dengannya. Setelah sejak lama aku membayangkan hal ini akhirnya terjadi juga.
Aku memperhatikan lekuk indah matanya dalam setiap kedipan lembayan angin.
Hitam kornea matanya sempurnakan wajah cantiknya. Elok bibir dan paras wajahnya kini kunikmati hanya beberapa jengkal di hadapanku.
Segar nafasnya mengalirkan rasa kebekuan pada jiwa yang hampir runtuh dihadapan sang pengacau, Rudy.
Aku terlarut dalam hayalanku hingga benar-benar aku gak sadar ternyata didepanku sudah datang pesanan tadi.
" Woiii.... Malah melamun aja" Bunyi suara mengagetkanku.
__ADS_1
" Kali ini kamu terpana sama kecantikan aku iya." Kata Wulan menggoda dalam ucapannya itu.
" Hahahahahahahahhaaa.. " Ketawaku mengejek Wulan karena berkata bangga dengan kecantikannya.
" By the way, Ternyata kamu hebat juga iya, main Bolavolly." Kata Wulan menghentikan Ketawaku.
" Makanya jangan selalu meremehkan orang lain." kataku kepada Wulan.
Wulan menganggukkan kepala dalam canda pura-pura mengerti. Ingin rasanya aku ingin mencubit hidung peseknya itu.
" Tetapi bukan jago juga, kalau aja jago pasti kemarin saya menang pertandingan." kataku kepada Wulan.
"Iya sih.. Dan kalo mau dilihat-lihat kamu masih dibawah Rudy." ungkapnya santai kepadaku.
Mendengar kata itu, hatiku begitu terpukul.
Gak pernah kebayang Wulan akan memikirkan hal itu. " Sepertinya aku harus bergerak cepat." kataku didalam hati.
" Jadi kamu lebih mendukung mereka.??" Tanyaku kepadanya.
" Suka-suka gue dong, siapa yang mau saya dukung." katanya lagi.
" Laporin aja sana saya gak takut." Sambil bangun dan meninggalkanku terlebih dahulu saat itu ke kelas.
"Nanti,,, dimarahin baru tau rasa kamu." Teriakku kepada Wulan yang sudah menjauh dariku.
Aku pergi kepemilik warung.....
"Buk,,, berapa.???"
"Es tehnya dua. Lima ribu." kata pemilik warung.
Aku memberikan uang seperti yang diminta. Aku mulai melangkahkan kaki meninggalkan ruangan kantin sekolah. Belum juga tubuhku keluar sepenuhnya dari ruangan itu. Tiba-tiba dihadapan ku telah berdiri seorang yang kukenal. Siapa lagi kalau bukan sang pengacau sejati, Rudy.
Disampingnya berdiri dua orang sahabatnya menghalangi langkahku saat itu. Mereka memaksaku kebelakang sekolah. Awalnya aku sedikit melawan tetapi mereka terlalu kuat saat itu.
" Ini sebenarnya ada apa sih.??" Tanyaku padanya sambil berusaha melepaskan diri.
" Jangan pura-pura gak tau, kamu.!!! Sebenarnya kamu juga suka sama wulankan." suara mereka.
__ADS_1
" Kalau memang iya lalu kenapa!!!" Aku berkata kepada teman-teman Rudy.
" Asal kamu tahu, Wulan itu hanya untuk bos Rudy." Kata yang satunya lagi.
Dengan tangannya terus memegang ujung leher bajuku. Aku benar-benar tersudutkan saat itu. Ada beberapa siswa yang melihat saat itu tetapi tak ada yang berani sama Rudy.
" Dasar anak mami.!!! Kalau kamu juga suka sama dia secara ver dong."' kataku menawarkan persaingan.
Seketika itu, belum juga bibirku selesai mengucapkan kata itu, tangan Rudy telah sampai di daguku dan meramasnya dengan sangat kencang.
" Oke jadi kamu mau persaingan secara ver sama saya. saya terima tantangan kamu." katanya dengan sedikit nada tinggi.
" Siapa yang nanti timnya terlebih dahulu gugur dalam pertandingan nanti maka dialah yang kalah. Dan harus benar-benar menjauhi Wulan. Gimana deal.!!! ( Rudy memberikan tangannya untuk meminta persetujuanku.)
"Oke, deal." Kata dari bibirku menerima tantangan itu.
"Hahahahahaha,,,!!! Siap-siap aja kamu dihajar sama bosku.!!" Kata teman-temannya itu, dan meninggalkanku disitu.
Aku pergi ke toilet membersih diri dan mencuci wajahku agar tetap kelihatan segar didepan Wulan.
Ketika kakiku menginjak lantai dalam ruangan kelas, semua mata melihat kearahku terus yang sedang melangkah ketempat dudukku.
Saat itu untungnya ada rapat dewan guru jadi belum ada guru yang mengajar saat itu. Kalau gak mati lagi aku. Wulan datang menghampiriku...
" Kamu dari mana aja, kok lama sekali!!!" Kata Wulan kepadaku.
" Cieee... Kawatir iya sama saya." kataku kepada Wulan manja.
"Ditanya malah bercanda." Kata Wulan sambil meninggalkanku kembali.
Kali ini aku benar-benar harus serius,
" Wulan maafkan aku mempertaruhkan kamu. Ya Tuhan, bantulah aku untuk menang" kataku didalam hati saat itu.
" Sampai ketemu lagi di episode selanjutnya "
" Selamat malam "🙃
From Rhido
__ADS_1
Dear Wulan