
(Tut,,, Tut,,, Tut,,, )Bunyi handphonku, Tetapi saat itu aku masih tertidur pulas.
(Tut,, Tut,, Tut,,), (Tut,, Tut,, Tut,,) Handphonku terus berdering berulang-ulang.
(Tut,, Tut,, Tut,,) Berdering lagi.
(Kak Pio,, Kak Pio,,,. Ayo bangun Handphonmu berdering)
(Kak Pio,,,!!!)
" Ada apa sih,, pagi-pagi gini udah bangunin kakak." Kataku kepada suara yang membangunkanku, dia adalah adik bungsuku Jason.
" Itu lohh,,,, Hp kakak lagi ada yang telpon." Kata Jason sambil meninggalkanku.
Aku memaksakan tubuhku untuk bangun mengangkat Hp. Belum juga tanganku sampai dering telpon telah kembali terputus.
Aku membiarkannya dan kembali merebahkan tubuhku.
Tak lama kemudian Hp itu berdering lagi.
Aku mengangkatnya.
" Iya,,,, Dengan siapa ini." Aku bertanya karena saat itu aku belum sempat melihat siapa nama kontak itu.
" Woi Gila... bangun udah siang. Mentang-mentang hari Minggu jadi tidur seenaknya." Kata Wulan dengan sedikit teriak.
(Ternyata pujaan hatiku yang menelpon. Aku cepat-cepat sadar dan langsung menjadi segar tak mengantuk lagi.)
" Sorry Wulan,,, Tadi saya masih tidur !!!" Kataku kepada Wulan.
" Kamu gak gereja??" Tanya Wulan.
" Jalan." kataku lagi.
" Aku ikut sama kamu.!!" Kata Wulan.
(Aku sedikit gak percaya dengan kata Wulan itu.)
" Emangnya Om sama tante kemana.?" Tanyaku pada wulan.
"Gak tau tuhh.... tadi keluarnya masih sangat pagi sekali. Mungkin jenguk mertuanya mungkin." Wulan menjelaskan.
" Iya udah nanti jam delapan kamu saya tunggu didepan rumahku. " Kataku kepada Wulan, karena saat itu baru aja jam tujuh.
" Oke...." Kata Wulan.
__ADS_1
Setelah itu aku pergi bergegas mempersiapkan diri Serapi mungkin karena akan jalan bersama orang yang paling istimewa.
Aku menunggu jauh sebelum jam perjanjian berdetik. Aku gak mau waktu ini berlalu dengan keterlambatan.
Pagi itu aku menggunakan sepatu berwarna putih dan celana berwarna hitam dengan atasan sebuah kemeja biru muda berlengan panjang.
Aku akan memaksimalkan kesempatan sekarang menjadi kenangan yang tak terlupakan seumur hidup.
Tak lama kemudian dari jauh langkah Wulan berjalan mendekatiku. Begitu indah ciptaan Tuhan ini. Wulan begitu cantik dan menawan pagi itu. Mentari pun tersinggung karena fajar kini telah turun dibumi dalam bentuk Wulan.
Rambut panjangnya terikat. Tinggi badannya kokohkan langkah jalannya. Bibir merahnya sederhana warna terangnya. Memakai kemeja putih bercorak hitam dengan bawahannya celana Levis hitam. Menggunakan sepatu yang bukan bertumit berwarna putih. Menyempurnakan kecantikan Wulan pagi itu.
Daun-daun kering terbang melayang saat tapak Wulan menyentuh permukaan bumi.
Menggetarkan hatiku saat mata menatapnya.
Dilehernya telah hilang kalung pemberian sang pengacau (Rudy) dan hanya ada sebuah leher putih bersih mempesona.
" Hay, Kamu cantik." aku menyapa sekalian mengagumi wulan.
" Makasi" seperti itu jawabannya.
Aku pikirnya Wulan akan membalas memuji aku saat itu. Tetapi harapanku itu tak terbalaskan.
Ketika ada sebuah mobil bemo desa datang dan berhenti dihadapan kami, aku melihat ke Wulan " Ayo" seraya tanganku memegang tangan untuk menyebrangi jalan karena saat itu kami berdiri dikanan jalan.
Didalam, aku dan Wulan duduk bersampingan selayaknya pasangan suami istri. Melihat hal itu, aku mengangkat dagu dan membanggakan diri kepada orang-orang. Kalau aku memiliki seorang istri yang cantik bagaikan putri dari negeri dongeng.
Dalam perjalanan kami tidak mengatakan apa pun tetapi senyuman dan tatapan selalu terbalaskan satu sama lain.
Kami telah sampai didepan gereja, aku ingin memegang tangannya lagi saat langkah berjalan menuju gereja. Namun niat itu terpendam dan tak terwujud karena hari itu aku tak ingin Wulan menjadi kecewa karena kecerobohanku.
Saat didalam gereja adalah momen pertama yang begitu indah dan menakjubkan saat mataku melihat Wulan menutup mata, berlutut dihadapan Tuhan dengan tangannya merapat didepan dada. Wulan berdoa dengan begitu heningnya.
" Tuhan Trimakasih untuk pemberian kepadaku yang seiman ini. Dan Tuhan aku mohon, Kabulkan semua yang Wulan minta saat ini. Amin." Doaku saat itu.
Saat aku membuka mata terlihat Wulan belum juga selesai berdoa. Aku kembali duduk menunggu Wulan dalam doanya.
Akhirnya Wulan telah selesai berdoa, ia melihat kearahku.
" Maaf sudah membuatmu menunggu." kata Wulan.
"Gak apa-apa, Wulan. Aku senang menunggu kamu." Kataku kepada Wulan dengan senyuman manis.
" Makasi," Wulan membalas.
__ADS_1
"Sekarang kita langsung pulang, atau gimana??" Kataku kepadanya.
" Aku mau kesuatu tempat, Kamu mau gak ajak aku kesana." kata Wulan.
" Kemana???" Tanyaku singkat.
" Gua gereja." kata Wulan
"Oh bisa dong. Itu hanya ada dibelakang sana." Kataku sambil menunjuk ketempat itu.
" Ayo kesana." Wulan mengajakku dengan saat itu tangannya telah memegang tanganku.
" Tuhan engkau sungguh baik dan sangat baik, Trimakasih untuk semua ini." Doaku didalam hati.
Kali ini terasa berbeda dengan tanganku. Rasanya seperti lagi terbang di awan-awan.
Kami berjalan menuju tempat itu dengan tangan Wulan kali ini kugenggam dengan begitu eratnya. Bahkan tak ingin aku lepas lagi.
Ketika kami sampai dtempat itu, senyuman wulan tak bisa disembunyikan lagi. Wulan begitu senangnya saat itu. " Apa sekarang waktu yang tepat bagiku untuk mengungkapkan cinta kepadanya." Renungan didalam hati.
" Ah jangan. Kebahagian Wulan hari ini jangan sampai hilang." Aku terus merenung.
" Rhido!! Tolong fotoin aku dong!!!" (Sambil memberikan HPnya kepadaku)
Aku menerima nya dan mulai menekan tombol on. Ketika layar deskopnya menyala, aku kaget luar biasa, disitu ada fotoku sedang memukul bola waktu pertandingan persahabatan itu dan mungkin saya di potret pas kemarin lagi pertandingan melawan Desa batu putih.
"Apa maksud dari semua ini, Apa Wulan juga menyukaiku." Ucapku didalam hati.
" Ayo.. ido , fotoin aku." suara Wulan.
"Oya,,, Ayo siap. satu dua tiga. " jebret." bunyi kamera merekam pose wulan saat itu.
Wulan mengambil Hp dan melihatnya.
" Adu bagus sekali. Ternyata kamu punya ahli memotret juga iya." kata Wulan kepadaku.
"Ah,,, biasa aja ." kataku merendahkan diri.
" ayo kita pulang" kata Wulan mengakhiri hari itu.
Dan cerita indah ini masih baru awal perjalanannya menuju pelaminan. " Hahahahahahh
" Sampai ketemu lagi di episode selanjutnya "
From Rhido
__ADS_1
Dear Wulan