TEMAN RASA PACAR

TEMAN RASA PACAR
Part 19 Pertandingan Persahabatan. Kembang Vs Batu Putih.


__ADS_3

Siang tadi sebelum pulang sekolah Alex mengatakan bahwa sore ini akan ada pertandingan persahabatan melawan tim dari batu putih.


Awalnya, semua itu terasa bagiku biasa-biasa saja. Sore itu aku ketiduran hingga waktu telah melewati rencana yang terangkai. Bergegas aku cepat-cepat kelapangan Bolavolly.


Ketika dari jauh aku tidak lagi melihat bentuk lapangan karena telah ditutupi oleh banyaknya penonton saat itu. Begitu aku sampai di pinggir lapangan, meskipun ini bukan pertandingan resmi tetapi disana terlihat telah ada juga kepala desa kedua belah pihak.


"Sial!!! aku telah melewati pertandingan sepenting ini." Ucapku didalam hati.


Saat aku tanya skor saat ini, ternyata desa kembang telah ketinggalan dua set dan sekarang adalah set ketiga. Saat itu poin telah menunjukkan 5:3 Unggul desa batu putih. Dan jika Tim Batu Putih menang untuk set ini maka pertandingan akan berakhir dengan kemenangan mereka.


" Rhido, kamu dari mana aja.?" kata om Tinus menghampiri ku yang baru saja datang.


" Maaf om, aku ketiduran." Kataku pelan kepada Om Tinus.


" Ayo sana masuk ganti Ignas aja." Om Tinus menyuruhku dengan nada sedikit gelisah karena sudah ketinggalan jauh.


Satu hal yang membuatku kecewa pada keterlambatan itu adalah ketika aku melihat Wulan yang ikut menonton pertandingan persahabatan itu. Tetapi dia tidak menghampiriku seperti yang dilakukan om Tinus kepadaku. Hanya dengan satu tatapan seribu kata yang bergulat bersama kebisuan.


Dan Lebih hancur lagi hatiku, saat aku mengetahui ada Rudy yang ikut bermain bersama tim batu putih. Dengan sombong dia menunjukkan kehebatannya kepadaku karena memang saat itu mereka telah unggul kepada kami.


" Pasti dia telah mencari muka sama om Tinus." ucapku dalam hati.


Tak lama kemudian tiba giliran ku menunjukkan penampilan kepada semua mata yang hari itu turut menyaksikan jalannya pertandingan. Dan untuk pertama kalinya Wulan menyaksikanku bermain Bolavolly.


"Pluit,, Pluit,,,, Pluit." Wasit menghentikan pertandingan itu karena aku masuk menggantikan om Ignas.


Ketika kakiku mulai menginjak arena lapangan saat itu terasa aku sedikit kaku karena ini adalah pertandingan formal pertama yang aku ikuti.


Aku melihat kearah Wulan dengan maksud mengetahui apa reaksinya saat melihatku saat itu. Ternyata dia mendukungku dengan senyuman manis andalannya sambil diiringi tepuk tangan dan riuh para penonton kala itu.


Aku berdiri mengharap kearah mereka karena saat itu giliriran mereka membagi bola. Tatapanku menjumpai tatapan Rudy yang saat itu mengambil posisi dibagian smash. Dengan hanya dibatasi net dan tanpa sepatah kata apapun darinya.


Kami menggunakan strategi yang telah kami buat. Bola pertamaku dimulai saat mas Adi menerima bola dari servis mereka dan membaginya kepadaku lalu aku lambungkan bola setinggi net dihadapan kak Alex dan.....

__ADS_1


" Plok " suara pukulan tangan kak Alex pada bola dan mengarah kearah arena lawan.


Saat itu Rudy lompat untuk mencoba menahan namun pukulan itu begitu keras sehingga menghantam tangannya dan masuk ke daerah mereka.


"Pluit ,,,," Wasit menunjukan poin kepada kami.


Sore itu senja sejenak kehilangan pesonanya. Mata-mata berpaling dan tidak menghiraukan indahnya langit. Karena dibumi telah dipanaskan dengan adengan perebutan cinta dipanggung Bolavolly.


Kini saatnya bagiku untuk mengambil giliran smash. ketika Riko menyervis bola dan diterima oleh mereka satu dua operan dan...


"Plok." suara pukulan dari tangan Rudy melewati celah bloking kak Alex dan yanto dan mengarah kepadaku.


Sudah kupastikan saat itu Rudy dengan sengaja melakukan itu kepadaku. Namun dapat aku terima dengan baik dan membagikannya kepada kak Alex dan melambungkannya persis dihadapanku. Aku mengambil ancang-ancang sedikit berlari dan melompat.....


" Plok." Aku memukul dengan sekeras-kerasnya. Tanpa ada yang menahan bola yang kupukul itu. Bola melaju cepat dan menghantam wajah salah satu pemain mereka hingga terjatuh.


" Rhido,, Rhido,,, Rhido." Teman-teman dari desa kembang menyerukan namaku yang habis melakukan smash terbaik.


Aku kedipkan mata kepadanya dengan sedikit menampilkan senyuman nakal milikku. Dirinya tersipu malu melihatku saat itu.


" Baru tahukan kalau saya jago bermain Bolavolly." Ucapan dengan sombong dalam hati masih dipandangan itu.


Di arah kubu lawan terdapat Rudy yang sudah tenggelam pada emosinya. Ia menatapku tajam seakan ingin menerkamku saat itu. Aku tahu, dia juga berada diantara tatapanku bersama wulan. Dan aku hanya bisa membalasnya dengan senyuman.


Pertandingan itu terus bergulir dengan set ketiga dan keempat kembali kami menangkan sehingga poin telah menunjukkan dua set sama.


Terlihat om Tinus begitu senangnya merayakan dua set kemenangan kami itu dihadapan temannya kepala desa batu putih.


Melihat hal itu, aku bertekat untuk tidak menghilangkan kebahagian itu dari wajah calon mertuaku.


" Hahahahah.." Tawaku didalam hati ikut senang melihat om Tinus begitu bahagia.


Set penentu pun dimulai kami saling membalas pukulan untuk bersaing memasukkan bola kearah lawan. Dipapan skor untuk set ketiga poin telah menunjukan 23:24 dengan desa batu putih unggul selangkah dihadapan kami.

__ADS_1


Servis terakhir pun dimulai setelah melewati beberapa pasing dan.....


" plok." pukulan dari tangan Rudy dan seketika bola telah terjatuh diarena kami.


"Pluit. " wasit mengakhiri pertandingan sore itu dengan skor 3:2 menang desa batu putih atas kami.


Aku begitu malu dengan kesombongan yang telah aku pertontonkan tadi. Bahkan untuk mengangkat kepala saat menuruni lapangan pun aku tak berani.


Rudy begitu sombongnya merayakan kemenangannya lagi dihadapan Wulan. Dan membanggakan diri dihadapan om Tinus.


Tim kami pun memilih untuk pergi mendiskusikan kekalahan kami sedikit menjauh dari keramaian. Kami duduk berkumpul dan bertukar pendapat untuk memperbaiki kesalahan kami.


" Teman-teman saya minta maaf. ini semua salah saya." Kataku kepada mereka dengan nada kecewa.


" Kita tadi sudah bermain bagus hanya tinggal dipoles sedikit lagi." Kata Riko.


" Iya." kata om Ignas juga teman yang lainnya.


Tidak lama kemudian datanglah om Tinus dengan ditemani oleh wulan ke tempat kami itu. Melihat ada wulan datang, tangan kak Alex menyenggolku. Tetapi aku memilih untuk tidak menghiraukan wulan.


"Ayo semangat, jangan putus asa, ini bukan pertandingan yang sesungguhnya." kata om Tinus menyemangati kami.


" Dan juga Rhido!!! Ingat lain kali jangan terlambat lagi iya." Kata om Tinus kepadaku dengan Wulan ikut menganggukkan kepalanya.


" Iya om." kataku kepada Om Tinus.


Setelah itu kami semua mulai meninggalkan lapangan dan Wulan mengikuti om Tinus menggunakan mobil.


" Sampai ketemu lagi di episode selanjutnya "


From Rhido


Dear Wulan

__ADS_1


__ADS_2