
Malam telah datang menyapaku dan menghanyutkan aku dalam sungai kesepian, terbawa ke muara gulita menuai rindu yang ingin berjumpa lagi dengan Wulan.
Bahkan ada rembulan pun tak lagi bermakna setiap malam karena Wulan telah merampas seluruh tempat dihatiku. Dan seribu cahaya bintang di langit pun tak mampu merobohkan nama Wulan di singgasana hati nuraniku.
Tetapi engkau malam jadilah wadah yang indah untuk menampung semua rinduku padanya. Jangan retak atau jangan sampai terjatuh karena aku ingin menumpahkan semuanya setelah malam ini berlalu.
Malam itu dirumah seusai mandi aku mengambil Hp. Terlihat disana sebuah panggilan tak terjawab dari sebuah nomor yang belum tersimpan.
" Siapa iya??? ah....palingan salah sambung."
Terlihat di pesan ada tulisan satu pesan baru,
tetapi aku mengabaikannya saja karena pikirku palingan dari Telkomsel.
Aku punya sebuah Hp jadul sejak setahun yang lalu dibelikan oleh ayah saat ulang tahunku yang ke tiga belas. Tetapi jarang aku menggunakannya kalau tidak untuk menyetel beberapa lagu darinya.
Dimeja makan semua telah selesai makan.
Mungkin tinggal aku yang belum makan saat itu. Lalu aku mengambil nasi dan mulaii makan.
" Pio, Tadi Wulan kesini nyariin kamu." kata bunda.
" Trusss"" jawabku singkat.
" Truss,,, bunda bilang aja kamu gak ada." kata bunda lagi.
" Trussss" aku bertanya lagi.
" Truss,,, Wulan bilang mau diajarin menenun kain.
Jadi ibuku adalah penenun kain adat dikampungku. Kain tenun adalah budaya dikampung yang masih kami lestarikan sampai saat ini.
__ADS_1
" Trussss....." tanyaku lagi sambil terus makan.
" Iya bunda ajarin dia menenun. Dan ternyata Wulan cepat sekali belajarnya." Kata Bunda lagi.
" Ah... palingan itu cuman kebetulan aja kok." jawabku meremehkan Wulan didepan bunda.
" Kamu jangan gitu sama Wulan. seharusnya sebagai calon kekasih itu kamu harus mendukungnya." kata bunda sambil tersenyum kepadaku.
" Gak mau sama dia bunda." kataku pura-pura menolak Wulan didepan bunda. Padahal didalam hati kecilku mengatakan "Mau sekali".
" Jangan gitu. Nanti diambil orang baru nyesal kamu." Kata bunda memperingatin.
" Hahahahhahahah..." Aku ketawa sambil menyelesaikan sisa makanku lalu minum dan meniggalkan bunda.
" Malaasssss" kataku kepada bunda sambil meninggalkan bunda.
Didalam kamar aku mengambil beberapa buku dan mulai belajar untuk besok supaya jangan kelihatan bodoh aja didepan Wulan. Dan mulai membaca beberapa bab dalam buku matematika, fisika dan kimia karena itu mata pelajaran yang belum aku mengerti sama sekali.
Beberapa kali sedikit mencoret-coret rumus dan mengerjakan beberapa soal yang mudah-mudah saja. Ketika semua telah selesai tetapi masih ada satu yang belum saya kerjakan yaitu puisi untuk hari ini. Memang tradisi itu sudah aku lakukan sejak masih dibangku SMP dulu.
Tanyaku terus berkelana
Telusuri arti kata-katamu
Dalam nada asmara ini
Mengapa tak terucap sama sekali,
Jawabannya menghilang
Dicelah cahaya bintang-bintang
__ADS_1
Lalu aku menerka tentang
Setiap hari yang datang
Menyapaku lalu menghilang,
Teka-tekimu membingungkan
Tetapi caramu mengesankan
Sikapmu merindukan
Aku mendambakan
Dirimu..........
From Rhido,
Kulihat waktu telah menjukan malam telah menempuh separuh perjalanannya. Mataku sudah mulai meninggalkan tatapannya. Punggungku Tak kuat lagi menahan beban ngantukku. Dan ketika aku mulai berbaring diatas tempat tidur, tiba-tiba hatiku penasaran dengan pesan di Hp itu. Aku mengambil dan mulai membukanya. Disitu tertera pengirimnya adalah nomor yang sama seperti yang menelponku tadi.
Lalu aku membuka pesan yang masih belum terbaca itu.
" W " Cuman satu huruf yang tercetak disitu.
"Apakah ini nomornya Wulan." tebakku pada nomor itu.
Nanti ajalah aku tanyakan pada Wulan.
Lalu aku tertidur dipangkuan malam dan tak sadarkan diri pada alunan melodi angin yang berhembus perlahan.
" Sampai ketemu lagi di episode selanjutnya "
__ADS_1
From Rhido
Dear Wulan.