
Pagi itu seperti biasa aku mengambil beberapa buku dan bulpen memasukannya kedalam tas dan menunggu ojek atau bus menuju kesekolah. Pagi itu aku tidak melihat Wulan, mungkin saja dia udah pergi dahulu ke sekolah.
Disekolah sudah ada kakak kelas dua dan tiga yang juga sudah masuk hari itu. Seperti biasa, aku juga tidak mengenal siapa pun disitu kecuali Kak Lia yang juga berasal dari desa kembang.
Kak Lia sekarang sudah kelas dua setahun lebih tua dari saya. Kak Lia orangnya ceria dan juga sangat semangat.
Dan juga dari kelas 3 ada beberapa yang saya kenal seperti kak Alex, dan kak Martin. Mereka teman saya bermain Bolavolly di desa kembang.
Pagi itu kami melakukan Upacara bendara yang dipimpin oleh kepala sekolah dan dibantu kakak kelas yang sudah pernah menjadi paskibraka.
"Selamat pagi Wulan." Aku menyapa Wulan yang aku dapati berdiri dibaris sebelahku.
"Iya pagi juga Ido." balas Wulan kepadaku.
"Ini hanya Wulan aja yang disapa iya," kata seseorang cewek didepan wulan.
"oh iya selamat pagi Deta," Cewek itu namanya Deta.
"Udah terlambat ," Kata Deta Sambil tersenyum juga Wulan ikut tersenyum kepadaku.
"Sorry," kataku lagi.
Pagi itu matahari begitu panas. panasnya terasa membakar seluruh pori-poriku. Aku melihat Wulan mengipas-ngipas wajahnya karena kepanasan. Dengan tanpa disuruh kakiku sudah sedikit melangkah kedepan untuk mencoba menghalangi matahari sehingga tidak menyinari Wulanku tercinta. Karena bagiku mulai sekarang Wulan adalah segalanya bagiku.
Aku melihat kearah Wulan dan ternyata dia sedang memperhatikanku dengan rona senyuman yang begitu menggoda sekali. Aku tidak tahu apa yang dia pikirkan saat itu tetapi yang pasti adalah sesuatu yang baik tentangku. Dan ketika iya melihatku lagi melihatnya seketika iya langsung menundukkan kepalanya. Mencoba mengelak dari tatapannya tadi. "Senyumanmu itu tidak bisa berbohong Wulan, " Kataku didalam hati.
"Adu panas, panas" Kataku mencoba memancing reaksi Wulan.
__ADS_1
Dan Wulan melihat kearah ku, dan ingin mengatakan sesuatu tetapi mungkin agak sedikit menahannya.
" Ya sudah wulan, Trimakasih kembali," aku berbisik kepadanya.
" Iya deh,, trimakasih iya."" balasnya kepadaku.
Aku hanya tersenyum menahan panasnya matahari pagi itu. Tapi gak apa-apalah demi wulan aku rela melakukannya. singkat cerita, upacara pun telah usai. Semuanya bubar menuju ke kelas masing-masing untuk mengikuti pelajaran pertama disekolah menengah atas SMA Melati.
Didalam kelas semuanya mulai ngobrol kesana-kesini. Dan juga Wulan datang menghampiriku dan......
"Ido, trimakasih iya untuk yang tadi. " kata Wulan kepadaku.
"Kamu berutang Budi kepadaku" jawabku kepadanya.
"Ihhh kok kamu hitung-hitungan sih."" kata wulan lagi.
"Ih,,, sok tau kamu," kataku kepadanya.
"Ya, sudah jangan ngomong sama saya lagi." Kata Wulan Sambil pergi meninggalkanku.
Tiba-tiba masuk seorang perempuan dan bisa kupastikan pasti ini guru fisika.
"Selamat pagi anak-anak" sapa ibu itu.
"Selamat pagi ibu,"Jawab kami serentak membalas menyapanya.
"Perkenalkan nama saya Ibu Sinta dan mulai sekarang saya yang akan mengajarkan fisika untuk kalian. Tiba-Tiba tanganku melempar segumpal surat yang telah aku tulis sesuatu diatas mejanya Wulan. Dia membuka surat itu dan melihatnya tetapi dia tidak memberikan reaksi apapun untuk membalas surat itu.
__ADS_1
Dan tiba-tiba hal yang sama terulang lagi sebuah surat aku lemparkan dan terjatuh dihadapannya tetapi kali ini iya mengambilnya tetapi malah dia tidak melihatnya sama sekali.
Dan hal yang sama terulang lagi untuk yang ketiga, keempat dan kelima kalinya tetapi Wulan selalu mengambil dan mengisinya ke dalam tas dan bell tanda berakhirnya pelajaran pertama berbunyi. Sungguh hari ini aku tidak fokus mengikuti pelajaran fisika.
Aku menghampiri Wulan dan.....
"Wulan sorry, Jangan marah iya. Please!!!" kataku memohon kepada Wulan karena memang aku gak kuat melihat Wulan hanya diam saja.
Tetapi Wulan tidak menghiraukan diriku sama sekali dan bahkan hari itu terlewati dengan tanpa sepatah kata lagi dari Wulan. Jujur aja, aku mulai gelisah dan takut kehilangan dia. Dan siang itu terlihat iya lebih memilih bercerita sama Deta dibandingkan denganku.
Aku pikir setelah pulang sekolah iya mau memaafkanku namun saja tidak dia lakukan dan pulang bersama kak Lia. Dan aku bergabung berAma kak Alex dan kak Martin.
Jujur aja, aku kecewa telah mengatakan kalimat itu. Kalimat yang mungkin akan memisahkan ku dengan dia.
"Wulan, Tolong jangan bersikap seperti ini. Aku gak kuat melihatmu menjauhiku." gumanku didalam hati.
Bahkan sorenya pun aku tidak melihat dia sama sekali. " Rhido, Rhido,,, kamu ini gimana sih." gumanku didalam hati.
"Sok, akrab " kata itulah yang cocok untuk menggambarkanku saat itu.
" Sampai ketemu lagi di episode selanjutnya "
" Salam hangatku menyapa dirimu "
From Rhido
Dear Wulan.
__ADS_1