TEMAN RASA PACAR

TEMAN RASA PACAR
Perjuangan Cinta 7


__ADS_3

* Balasan surat dari Wulan.


Sore dari hari ini, Aku telah mandi dan mempersiapkan diri untuk pergi kelapangan karena hari ini kami akan melanjutkan pertandingan Bolavolly untuk delapan besar.


Tetapi pertandingan saat itu akan diadakan dilapangan kecamatan. Namun kali ini tidak seperti kemarin dimana kami berangkat menggunakan mobil yang telah disewa. Kami harus berangkat sendiri-sendiri ke lapangan.


Aku menunggu kendaraan namun tak ada satu pun yang kudapat saat itu.


" Ah sial,,,, Apakah aku harus terlambat lagi???" Ungkapku di dalam hati sambil menggaruk-garuk kepala.


Namun tidak lama kemudian datang ayahku yang baru saja pulang dari sawah.


" Pio,,, kamu mau pergi bertanding iya!! " Tanya ayahku.


" Iya, ayah, Tapi dari tadi gak ada ojek yang datang." Bilangku sejujurnya pada ayah.


" Ya udah, Kamu tunggu sebentar ayah pergi mandi dulu." Kata ayah kepadaku.


" Emangnya ayah mau ikut nonton juga iya.? " Kataku kepada ayah.


" Ayah mau lihat kamu bertanding makanya ayah pulang jam segini." Kata ayah kepadaku.


Aku tersenyum mendengar ayahku berkata seperti itu..


" Asik,,!!! Aku akan berusaha untuk menang untuk kebahagian ayah" Kataku sesaat setelah ayah sudah pergi.


Tidak lama kemudian Ayahku telah datang kembali.


" Ayo berangkat." Kata ayah kepadaku.


Jadi kami memiliki satu buah sepeda motor yang selalu dipakai ayah ke sawah.


Kami pun telah tiba ditempat tujuan yaitu lapangan kecamatan Bintara. Untungnya hari itu kami akan bertanding setelah Desa Batu Putih vs Desa Biboni selesai.


Hari ini kamu akan melawan juara grup A yaitu Desa Tanah Merah.


Aku dan ayah menghampiri teman-teman yang saat itu lagi berkumpul dibawah naungan sebatang pohon jati sambil melihat pertandingan saat itu.


"Selamat sore bapak Desa," Ayahku menyapa om Tinus yang saat itu sedang memberikan arahan kepada anak-anak yang lainnya.


" Oya,, selamat sore Pak Rafael.!" Kata om tinus sambil bersalaman sama ayahku. Melihat adengan itu aku begitu senangnya karena ayah dan calon mertuaku terlihat begitu akrab.

__ADS_1


Aku tidak melihat Wulan di perkumpulan itu dan pada akhirnya mataku menemukannya sedang berdiri bersama Yanti dan putri teman kelasku. Aku memilih untuk tidak memperhatikan mereka.


Aku malas memperhatikan tingkah Rudy yang saat itu dengan sombongnya menampilkan permainan terbaiknya..


Jujur aja untuk sore itu aku malu sekali jika harus bertatapan muka dengan Wulan karena aku telah menyatakan cinta kepadanya. Tetapi bukan dengan cara yang laki-laki bangat.


" Teman-teman aku ke warung sebentar iya." kataku kepada mereka.


" Oya,, " kata bang Adi.


Di warung aku memesan segelas es susu putih biar tambah stamina pikirku. Sambil mengotak-atik permainan di Handphoneku. Namun gak lama datang sang pengacau sendirian aja.


" Buk,, minta minum.!!" kata Rudy memesan minum.


" Minum apa dek..???" Kata ibu warung itu.


" Es teh aja..." kata Rudy lagi.


Lalu Rudy datang menghampiriku.


" Eh.. disini ada anak mami iya. !!! Kamu harus minum susu yang banyak biar menang iya nak...!! " Kata Rudy mengejekku dengan menirukan suara ibu-ibu kepada anaknya.


Jika lagi bersama Rudy, aku kebanyakan diam bukan karena takut tetapi aku hanya sadar diri kalau aku gak sebanding sama dirinya. Aku membiarkannya bebas mengejekku sepuasnya.


Memang saat itu tim Desa Batu Putih telah menang atas Desa Biboni. Dan aku harus akui bahwa Rudy adalah salah satu pemain terbaik saat itu.


Lalu aku pergi setelah membayar es susu yang aku minum tadi.


" Rhido, kamu harus semangat iya!!" kata kak Lia kepadaku.


Aku membalasnya dengan senyuman mesra.


Dan Wulan melihatku yang saat itu dia sedang berdiri bersama kak Lia.


" Hay Wulan,!!! Kirain kamu gak datang." Kataku menyapa Wulan.


Namun saat itu aku sedikit tahan-tahan karena saat itu ada ayahku juga disana.


" Iya datanglah!!! " kata Wulan kepadaku.


" Karena ada kamu." Lanjut Wulan namun kali ini dengan nada sedikit berbisik. Aku tahu kak Lia saat itu juga ikut mendengar karena dari raut wajahnya, kak Lia tersenyum setelah mendengar kata dari Wulan itu.

__ADS_1


Sore itu pun pertandingan dimulai dan setelah melewati beberapa adegan pertandingan dan Puji Tuhan, akhirnya kami keluar sebagai pemenang menyusul tim desa batu putih yang sudah terlebih dahulu lolos.


Dan menunggu dua tim pemenang lagi yang akan bertanding besok.


Setelah kemenangan itu kami berkumpul untuk merayakan Kemengan kami itu. Setelah itu kami mulai pulang satu persatu ke rumah masing-masing.


Namun ketika aku hendak beranjak menyusul ayahku yang sudah terlebih dahulu pergi diparkiran motor, tiba-tiba....


" Rhido!!! Rhido!!! " Teriak seseorang dari belakang.


" Ehh.. Wulan!! Ada apa???" kataku bertanya kepada wulan yang saat itu berjalan kearahku.


Tetapi Wulan saat itu tidak berkata apa-apa lagi dan hanya memberikanku sebuah amplop.


Ketika sampai dirumah, aku membuka amplop itu dan ternyata isinya Adalah sebuah surat seperti ini....


__________________________________________


* Isi surat dari Wulan.


Dari: Wulan.


untuk kamu: Kak Pio ( Nama panggilanku dari keluarga)


"Aku akan tunggu saat itu tiba."


by:


"Wulan."


________________________________________


" Yes" kataku setelah membaca surat itu.


Wulan aku janji, aku akan memenangkan dirimu dari tangan Rudy si pengacau itu.


" yes,, yes,,, yes,,, yes,,"''''


Bagaikan mendapatkan Durian runtuh saat itu aku sangat senang setelah membaca surat balasan dari Wulan itu.


" Sampai ketemu lagi di episode selanjutnya "

__ADS_1


From Rhido


Dear Wulan


__ADS_2