
Kata demi kata terangkai pada kisah yang kini aku geluti pada catatan takdirku. Perjalanan ini terus bergulir pada perputaran rotasi bumi yang tak berhenti sejenak. Jejak demi jejak tercipta pada ingatan dan tergores didalam album cerita kita.
Rasa ini menekuni kata hati mengibarkan bersedia melaksanan tugas logika. Mata ini tak lagi takut memandang api karena cinta menyegarkan iman untuk siap bertarung melawan badai topan.
Langkah kaki terus melangkah meski banyak duri menghadang ditengah jalan. Tak gentar jantungku lagi seperti dulu yang pemalu dan gengsian untuk bertindak. Satu alasan untuk semua ini karena cinta.
Cinta telah membawa perubahan baru dalam hidupku. Cinta menempatkan aku pada garis depan pasukan 45 yang berani mati demi cinta. Dan cinta telah mengajarkan aku apa arti memiliki yang sesungguhnya setelah melewati sebuah perjuangan.
**********
Sore itu pada hari yang sama dirumah.
" Buk,, aku pergi latihan dulu." teriakku pada bunda dibelakang.
" Oh,, iya hati2." kata bunda.
Sebenarnya aku telah merencanakan untuk tidak kelapangan hari itu karena penasaran dengan Wulan yang setiap sore ke rumahku saat aku tak ada. Aku bersembunyi di warung depan rumahku. Menunggu Wulan datang ke rumahku.
Tak begitu lama bagiku untuk menunggu karena wulan telah masuk ke perangkapku. Saat itu aku melihatnya masuk kerumah sebagaimana dia masuk kerumahnya.
"Sudah senyaman itukah Wulan dengan keluargaku terlebih dengan ibuku. Sehingga ia tidak canggung atau malu lagi saat datang bertamu di rumahku.
Aku membiarkannya sejenak untuk melakukan kegiatannya saat itu. Tak lama kemudian aku bergegas kesana dengan jalan pelan tanpa suara. Ketika sampai didalam rumah ternyata Wulan sedang belajar menenun. Aku melihat Wulan telah duduk disamping bundaku.
Bundaku saat itu seperti biasanya lagi menenun kain. Karena itu kegiatan bundaku sehari-hari.
Melihat dua wanita pujaanku saat itu sudah seperti seorang ibu dan putrinya , terasa hatiku begitu nyaman dengan suasana itu. Aku memilih untuk memperhatikan mereka dari kejauhan dengan badan tersembunyi.
" Apa bunda udah tahu kalau Rhido ikut paskibraka.??" Tanya Wulan kepada bundaku.
Mendengar Wulan memanggil ibuku dengan kata bunda, Aku bagaikan orang yang paling bahagia dibumi ini. Kata Wulan itu mendinginkan telingaku yang mendengarnya saat itu.
__ADS_1
" Oya,,, emang berani Pio mengikuti itu. Ah,,, bunda gak percaya." Kata bundaku kepada Wulan. Karena bunda tahu betul dengan anaknya yang satu ini.
" aku gak bohong kok bunda. Malahan tadi kami sudah sedikit melakukan latihan disekolah." Kata Wulan meyakinkan bundaku.
" Maka ini semua karena kamu. Sejak dulu bunda selalu mendorongnya untuk menampilkan bakatnya, tetapi selalu ditolak sama dia. Trimakasih iya sudah hadir di kehidupan Pio, sehingga sekarang membuatnya berubah seperti ini." Kata bunda kepada Wulan.
" Ohhh,,,, Tapi kok aku sih bunda." Jawab Wulan lagi.
" Iya,,, Sejak Pio kenal sama kamu, kini semua telah berubah pada dirinya. Pio sekarang sudah tidak pemalu lagi."" Kata bundaku.
" Tidak bunda,,, itu semua karena kemauannya. Bukan karena aku, Bunda." kata Wulan lagi.
" Tidak wulan, ini semua karena kamu. Kamu yang telah membuatku berubah. Aku mencintai kamu." Kataku didalam hati.
"Wulan, !!! "" panggil bundaku.
Aku memperhatikan bundaku, berusaha mendengar apa yang akan dikatakan bunda lagi.
"Iya bunda." Jawab Wulan kepada bundaku.
" Ah... bunda bisa aja. Untuk saat ini Aku belum mau memikirkan cowok." Jawab Wulan malu.
" Kenapa. ???" Tanya bundaku singkat.
"Belum ada yang mendaftar aja. Bunda" Jawab Wulan.
"Bukannya gak ada, tapi sebenarnya gak berani aja bilang cinta ke kamu." Kata bunda menyindirku yang sampai hari ini belum juga bilang cinta ke Wulan.
"" Hahahahahaha...."" Ketawa Wulan yang membuatku tidak mengerti maksudnya.
" Oya bunda, emang Rhido itu suka menulis puisi iya." Tanya Wulan kepada bundaku.
__ADS_1
" Rhido paling suka menulis sejak dulu. Mungkin karena dulu dia gak banyak cerita dengan manusia jadi ia menuangkan isi hatinya kedalam buku."" Bunda menjelaskan panjang lebar kepada wulan.
"Tapi kamu tahu dari mana kalau Rhido suka menulis puisi." Tanya bunda lagi kepada Wulan.
" Kemarin dia kedapatan lagi menulis puisi tentang bunda. Dan juga kemarin Rhido nulisin beberapa puisi untukku, saat aku pura-pura marah kepadanya." Kata Wulan menceritakan kejadian kemarin disekolah.
Mendengar Wulan mengatakan hal itu aku bagaikan dikagetkan saat melamun.
" Oh,,, jadi kemarin itu cuman pura-pura doang." gumanku didalam hati.
" Terus apa reaksinya, Rhido." Tanya bundaku penasaran.
" Rhido takut sekali saya marah kepadanya." kata Wulan kepada bunda.
"" Hahahahhahahah... !!! Baru tahu bunda tentang ini."" Bundaku ketawa-tawa mendengar itu.
"Hancurlah sudah ini, Aku pasti akan diejek habis- habisan sama bunda karena kemarin aku bilangnya gak suka sama Wulan kepada bunda." Aku berkata sendiri.
Percakapan mereka sore itu cukup panjang dengan berisikan semua tentangku. Hingga pada akhirnya. Wulan berpamitan kepada bunda untuk pulang kerumah.
" Oya,,, bunda aku pulang dulu. " Wulan berpamitan.
Mendengar itu, aku langsung berlari keluar dari rumah dan kembali diwarung sampai Wulan benar-benar sudah masuk kembali kerumahnya. Aku masih duduk diwarung hingga separuh sejam berakhir.
Aku kembali kerumah dengan pura-pura seperti orang yang tidak mengetahui apapun.
"Bunda!!! Aku pulang." Teriakku pura-pura kepada Bunda. Terlihat bunda biasa-biasa saja saat itu. Aku pun memilih mendiamkannya saja. Anggap tak terjadi apa pun dirumah dari pada harus malu karena di ketawain bunda.
" Sampai ketemu lagi di episode selanjutnya "
" Bye....
__ADS_1
From Rhido
Dear Wulan.