
Aku cemburu Wulan!! melihatmu dengannya. Aku ingin kamu denganku, bukan dengannya. Aku terluka Wulan. Hatiku pecah berkeping-keping karena cinta yang masih terpendam.
Ini semua salahku, terlalu penakut untuk mengungkapkan cinta. Meski aku mengetahui Wulan menungguku mengungkapkan semua itu. Tetapi bibir ini masih tak berani melaksanakan tugasnya. Terus melawan kehendak hati dan sekarang berada diambang penyesalan.
Mataku berkaca pada jendela kehidupan. Merenungkan adengan-adengan yang telah bergulir. Mengoreksi diri dalam sentuhan nada..
_________________________________________
Dear Wulan...
Hanya Lelaki Biasa.
Sadar...........
Telah jauh aku melangkah
Terlalu banyak aku bertingkah
Lupa diri.......
Aku hanya Lelaki biasa
Tak pantas banyak berlaga
Meraih setetes cinta
Namun hanya luka
Yang kujumpa.
Sadar.......
Kamu begitu sempurna
Bagaikan sang purnama
Aku belum punya
Dirimu Wulan..............
From Rhido
___________________________________________
" Dringg,,, dring,,, dring,,, " Handphone bergetar.
Dengan tertera disitu sebuah nama " My heart" julukan dariku untuk Wulan. Karena memang untuk memilikinya adalah impian hatiku.
" Hallo!!!" aku menyapanya.
" Hai,,, . Lagi apa???" Wulan bertanya kepadaku.
Apa maksud dari semua permainan Wulan ini.
Disekolah bersama Rudy dan dirumah dia akrab sama aku.
" Wulan,, apa kamu sedang mempermainkanku." Tebakku pada diri sendiri.
" Rhido!! Kamu masih disitu kan. Kamu gak apa-apakan.!" Tanya Wulan lagi karena saat itu aku tidak menjawab.
" Emang saya udah mati kaaa. Gila ini.!!" kataku membalasnya.
" Hahahahahhahah. Kamu lagi apa sekarang.!!" Tanya Wulan kepadaku.
" Lagi mikirin kamu." Untuk pertama kalinya aku mengatakan seperti itu kepada seorang perempuan.
" Makasi." Balas Wulan.
" Ada apa?? " Tanyaku kepada Wulan.
" Gak cuman mau pastiin aja ini nomor kamu apa bukan!!!" Kata Wulan kepadaku.
Aku tahu kali ini Wulan berbohong kepadaku karena kemarin aku yang berikan nomor ini kepadanya.
"Ataukah Wulan kangen dengan suaraku." ucapku dalam hati.
__ADS_1
" Rhido..!!" panggil Wulan.
" Iya..." jawabku.
" Boleh aku bacakan puisi yang kamu tuliskan untukku kemarin." Tanya Wulan.
Ternyata Wulan masih menyimpan puisi yang kemarin saya berikan saat dirinya ngambek kepadaku.
"Gak boleh." Aku mengatakan itu karena memang aku malu saat orang lain membacakan tulisanku. Dan juga tulisan itu, kutuliskan dengan iseng aja, Karena melihat Wulan manyung saat itu.
" Kamu cuman dengarkan saja. Gak usah bicara sampai aku menutup telponnya." Kata Wulan kepadaku.
" Aku gak mau mendengar." Ucapku lagi menolak Wulan membacakan puisi itu.
" Kamu kenapa sih gak mau orang lain membacakan puisimu." kata Wulan kepadaku.
" Kamu itu punya bakat menulis. Tapi kenapa kamu malu menunjukkannya." Ceramah wulan panjang lebar.
" Pokoknya sekarang kamu harus mendengarkan aku membacakannya." Wulan memaksaku.
"Iyaa,,, Tukang cubit " jawabku.
"Hahahahaha...." Wulan ketawa.
" Ingat iya, kamu jangan bicara sampai saya menutup telponnya." Kata Wulan.
Wulan mulai membacakannya satu persatu.
Puisi jadul yang kubuat.
_________________________________________
* Tulisan pertama.
Wahai kamu seperti putri
Wulan yang baik hati
Maaf, aku telah menyakiti
imut dan juga cantik
Aku mohon tolong berbalik
Atau aku menggelitik
Dirimu sekarang.........
___________________________________
* Tulisan kedua.
Kamu bagaikan panda
Yang selalu didamba
Semua mata-mata
Para pemuda
Jangan terus manyung
Hingga terlarut murung
Aku ikut terkurung
Rasa bersalah.
Menyakitimu.
Dengan kata-kataku.
________________________________________
* Tulisan ketiga.
__ADS_1
sejam telah berlalu
Amarahmu terus melaju
Apa kamu sedang berpacu
bersama sang waktu.
jangan Wulan..
Cepatlah kamu pulang
Jangan lupa diri
Aku disini sendiri
Menantimu kembali
Pada tawamu lagi.
______________________________________
* Tulisan keempat.
Wulan,,,,,,,,,,,,
Kamu sangat hebat dan berbakat
Ayo semangat, kamu kuat
Dalam amarahmu
Aku mendukungmu
Teruslah berlari, Wulan.
Amarahmu tingkatkan.
_______________________________________
* Tulisan kelima.
Aku berhenti
mengejarmu berlari
Aku akan disini
menantimu kembali
Dalam kesabaran
Memikirkanmu.
From Rhido.
__________________________________
""Tut,,Tut,,,, Tut,,, "" suara telpon dari Wulan telah terputus. Tulisanku telah selesai dibacanya.
Saat langkahku mulai berhenti mengejar, engkau datang menguatkanku kembali. Saat pikiranku mulai berhenti berpikir, engkau hadir membuat semua hadir kembali.
Apa semua ini kehendak yang maha kuasa, menguji kesabaranku menunggu hari itu. Ataukah permainan takdir yang memberikanku kebahagaian sesaat.
"Tuhan, aku mohon berikan aku kepastian. Sehingga saat ini, langkahku tak lagi ragu tuk melangkah kearah Wulan. Menggenggam tangannya dalam setiap kebersamaan. Menemaninya dalam setiap kesulitan Melindunginya dari setiap bahaya.
Dan menjadi penopang pundak Wulan saat dirinya terjatuh dalam kegelapan.
"Asyik.....
" Sampai ketemu lagi di episode selanjutnya "
From Rhido
Dear Wulan
__ADS_1