
* 2 July 2014 (Sore)
Waktu berputar dengan begitu cepatnya atau aku yang tidak sabar lagi dengan sore hari ini.
Semua telah berkumpul dilapangan Bolavolly desa kembang. Namun saat itu aku tidak melihat Om Tinus.
" Wulan, Om Tinus sama Tante Linda gak datang." Tanyaku pada wulan.
" Katanya masih ada sedikit urusan, palingan sebentar lagi udah datang." Kata Wulan.
" Oh,,, gitu." kataku.
"' Oya,,, ini ada titipan uang dari om Tinus buat beli minum untuk anak-anak." kata Wulan seraya memberikan uang 50 ribu kepada saya.
" Kamu tunggu disini iya." ( Aku meninggalkan Wulan sebentar.)
Aku pergi menghampiri Bang Adi.
" Bang boleh pinjam sepedanya." kataku kepada mas Adi.
" Mau kemana.?" Tanya mas Adi.
" Itu,,, beli minum untuk anak-anak." Aku menjelaskan kepada mas Adi.
" Oya... ini" Mas Adi memberikan kunci motornya kepadaku.
(Aku kembali ke posisi wulan berdiri.)
" Sepeda siapa ini?? " Tanya Wulan.
" Punya bang Adi."
" Sini uangnya, aku belikan minum." kataku kepada Wulan.
" Aku ikut.!!" kata Wulan meminta.
Aku hanya menganggukkan kepala dengan tanpa sepatah kata apapun saat itu. Bagaimana bisa aku menolak rezeki dari Tuhan.
Andai hari ini tak ada pertandingan maka kenyamanan ini, akan aku buat durasi adengannya begitu lama sehingga momen ini dapat aku nikmati alur ceritanya.
Dalam perjalanan itu aku merasakan hempitan kedua paha Wulan dengan tangannya sesekali menyenggol pinggangku. Jujur saja aku sedikit terkejut dengan semua itu.
Hingga pada akhirnya kami berdiri disebuah toko dan membeli dua gardus minuman gelas biasa.
" Kamu bisa mengemudi sepeda motor." Tanyaku pada wulan.
" Gak bisa." jawabnya.
__ADS_1
" Emang kenapa.!!" lanjut Wulan lagi.
" Gak aku cuman nanya doang."
" Ayo... pulang." kataku kepada Wulan.
Kami pun kembali kelapangan Bolavolly. Saat itu tim dari desa Moris telah sampai sedang melakukan pemanasan. Kami pergi bergabung bersama perkumpulan desa kembang.
" Bang Adi, ini kuncinya. Trimakasih iya." kataku kepada bang Adi.
" Iya bang, makasih iya.!!" Wulan ikut berterimakasih kepada bang Adi.
(Ketika itu semuanya dalam keadaan diam saat aku datang)
" Bagaimana, semuanya aman." Tanyaku kepada mereka.
" Rhido,Jadi kami semua telah sepakat bahwa kamu yang akan menjadi kapten untuk tim kita." kata kak Alex kepadaku.
" Aku maunya, kak Alex yang jadi kapten untuk tim kiat." kataku kepada kak Alex seraya menolak pemberian ban kapten dari tangan kak Alex.
" Ini kami semua yang sepakat. Masa kamu gak menghargai kami." kata om Ale.
" Bukan begitu juga, Tapi..."
" Sudah terima aja. Kamu gak usah takut." Kata kak Yanto.
Kami semua masuk kelapangan karena saat itu pertandingan sudah akan dimulai. Pada waktu itu yang main adalah Om Ale, Bang Adi, Riko , Aku , kak Alex dan kak Yanto. Kami sudah siap untuk pertandingan saat itu.
" Pluit" Tanda pertandingan telah dimulai.
Pertandingan saat itu berlangsung seperti pertandingan Bolavolly biasanya. Hingga set pertama dimenangkan oleh kami tetapi set kedua kami menelan kekalahan dengan hasil yang menyakitkan yaitu beda poin sepulu angka. Di set kedua kami merombak formasi, Om Ale keluar diganti sama om Ignas.
Namun pertandingan itu tetap saja menyakitkan bagi kami karena mereka telah mengetahui kelemahan kami yaitu lini belakang kami yang dihuni oleh bapak-bapak yang telah berumur.
Saat itu di set ketiga, poin telah menunjukan 20:15, unggul desa Moris. Akhirnya aku memih untuk menjaga dibelakang dan membiarkan Riko berbaur bersama Kak Yanto dan kak Alex. Memang karena kemampuan Riko juga masih sedikit dibawah kata maksimal.
Laun waktu berlalu, Akhirnya kami bisa memaksimalkan pertandingan dan berhasil mengejar ketertinggalan menjadi 20:20.
Tetapi sial datang kepadaku. Ketika aku lompat untuk memukul bola dan berhasil memasukkan satu angka menjadi 21:20, unggul kami, Kakiku keseleo saat akan melakukan pendaratan di pundak lapangan.
Sunggu saat itu pergelangan kakiku benar-benar sakit sekali, Namun aku tetap memaksakan diri untuk melanjutkan pertandingan karena semua ini demi perjuangan cinta.
Poin dipapan skor kini telah berbalik menjadi 21:22, unggul desa moris. Dan gak lama kemudian Poin mereka terus meningkat menjadi 21:23.
" Ya Tuhan, kuatkan aku untuk mendapatkan cinta, Wulan." Renungku didalam hati.
Sepertinya, Tuhan mendengarkan doaku dengan tambahan dua poin untuk kami menjadi 23:23.
__ADS_1
Lalu saat itu Riko melakukan servis dan kemudian dibalas dengan smas. Tatapi pukulan itu bisa ditahan oleh mas adi, mengarah ke kak Alex. dan....
" Kak Alex lambungkan bola untukku." Teriakku kepada kak Alex dengan sedikit berlari pincang-pincang.
" Plok. " pukulan itu tak mampu dibendung oleh mereka dan menghasilkan poin untuk kami menjadi 24: 23.
Dan sekarang sekarang tinggal satu poin lagi untuk kemenangan kami. Denyut di kakiku terasa sangat sakit sekali. Namun aku harus berusaha untuk mendapatkan poin terakhir ini.
Aku berdiri dekat sekali dengan net, karena aku sudah tak bisa berlari. Kak Yanto mulai menyervis bola dan mampu mereka terima dengan baik, mereka mulai melakukan satu, dua operan dan bola dilambungkan diatas net. Tetapi saat itu bola sudah sedikit masuk melewati garis net di daerah kami. Aku langsung mengambil lompatan dan....
" Plok ..." Bola sudah terlebih dahulu saya pukul dan mendarat dengan baik dan.....
" Pluuuuiiit.... " Wasit mengakhiri pertandingan sore itu dengan skor 2:1 , menangan kami.
Tetapi aku benar-benar jatuh tersungkur dilapangan. Wulan menghampiriku dan memberikan kepadaku minum.
" Benar-benar calon istri yang baik." Gumanku didalam hati.
Seketika itu datang Om Tinus dengan mobil pribadinya datang. Aku berdiri dan mulai berjalan pincang-pincang dengan digotong Wulan menuju perkumpulan desa kembang yang sedang merayakan kemenangan.
Om Tinus melihatku jalan pincang-pincang,
" Rhido, kamu kenapa?" Tanya Om Tinus.
" Kakinya keseleo, om !! " Wulan yang menjawab.
" Ya udah nanti pulang sama om aja iya." Kata om Tinus
Aku menganggukan kepala. Dan kami pun mulai pamitan dan menuju kemobil dengan Wulan terus menggotongku, membuka pintu mobil, dan duduk barengan dibangku belakang.
Sesaat kemudian kami telah sampai didepan rumah saya. Saya gak pernah menyangka akan ada kejadian seperti ini. Saat mobil berhenti Wulan sudah terlebih turun dahulu membuka pintu dan menggotongku keluar.
" Wulan Tolong kamu antara Rhido kedalam, Nanti baru kamu menyusul." Kata om Tinus.
" Oya,,, om." jawab Wulan kepada Om Tinus dan mobilnya langsung meninggalkan kami.
"Wulan, tadi kamu ikut pulang aja, aku bisa kok berjalan pelan kesana" Belum juga aku selesai mengatakan itu, Wulan telah melepaskan pegangannya dan aku hampir saja terjatuh namun Wulan cepat-cepat memegangku kembali.
"Nah itu lihat, Berdiri saja kamu gak bisa, sok bilang bisa berjalan sendiri lagi" cetus wulan.
" Kami pun berjalan kerumah sampai didalam, dan aku langsung menyuruh Wulan pulang karena gak enak sama om Tinus dan Tante Linda.
" Thanks ya... Sampai ketemu lagi di episode selanjutnya "
From Rhido
Dear Wulan
__ADS_1